PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Investor perempuan mulai mengambil peran dominan di pasar properti nasional, dengan kontribusi pencarian mencapai 52 persen. Fenomena ini muncul di tengah anomali inflasi 4,76% yang justru diikuti penurunan harga properti sekitar 0,4%, menciptakan kondisi undervalued pada sejumlah aset hunian.
Temuan Rumah123 pada kuartal II-2026 ini menunjukan kondisi yang tidak biasa. Dalam siklus normal, kenaikan inflasi biasanya diikuti kenaikan harga aset riil, termasuk properti. Namun saat ini, arah keduanya justru berlawanan.
Investor Perempuan dan Momentum Pasar Properti
Perubahan profil investor terlihat semakin jelas. Investor perempuan tidak lagi berada di posisi pendamping dalam rumah tangga, melainkan menjadi pengambil keputusan finansial utama (dominant decision-maker) dalam pembelian aset properti.
Fenomena yang disebut sebagai “Prop-Femme Revolution” ini mengungkapkan bahwa porsi pencarian properti oleh perempuan berada di kisaran 52% hingga 58,7%. Bahkan dalam realisasi kredit perumahan, sekitar 35,5% akad rumah dilakukan oleh perempuan.
Jumlah investor perempuan di pasar modal juga meningkat signifikan. Tercatat mencapai 5,8 juta investor dengan total nilai aset lebih dari Rp500 triliun, tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Properti Tangerang Salip Jakarta Selatan, 14,8% Pencarian Terkonsentrasi di Koridor Barat
“Perempuan profesional saat ini cenderung menggunakan pendekatan data-driven. Mereka tidak lagi hanya melihat estetika bangunan, tetapi menganalisis skor likuiditas area dan potensi imbal hasil sewa,” ujar Marisa Jaya, Head of Research Rumah123.
Mayoritas tetap memilih rumah tapak sebagai instrumen utama, dengan rentang harga favorit di kisaran Rp1 miliar hingga Rp3 miliar.
Anomali Inflasi 4,76% dan Peluang Properti Undervalued
Kenaikan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) hingga 4,76% (year-on-year) yang tidak diikuti kenaikan harga properti menciptakan selisih valuasi sekitar 516 basis poin. Gap ini membuka peluang bagi investor untuk masuk pada harga yang relatif lebih rendah dibandingkan nilai fundamentalnya.
Di sisi lain, tekanan biaya justru meningkat. Biaya konstruksi tercatat naik mendekati 20%, ditambah kenaikan harga lahan dan operasional pengembang. Secara logika pasar, tekanan ini akan mendorong penyesuaian harga ke atas dalam jangka menengah.
Baca Juga: Green Building Makin Dilirik: Saat Biaya Energi Naik, Bangunan Hemat Jadi Andalan
Namun pasar belum sepenuhnya bergerak. Ada jeda sebelum harga menyesuaikan.
Tangerang Unggul, Suplai Menyusut
Kesenjangan harga saat ini masih bisa dianggap sebagai bagian dari dinamika siklus pasar. Secara historis, fase undervalued sering menjadi titik awal kenaikan harga, terutama ketika biaya konstruksi sudah naik hingga 19,97%, diikuti kenaikan harga lahan dan beban operasional pengembang.
Di sisi lain, indikator fundamental justru menunjukkan penguatan yang belum sepenuhnya tercermin dalam harga pasar.
Wilayah Tangerang mulai mencerminkan dinamika tersebut. Kawasan ini, termasuk township seperti BSD City, menjadi pusat perhatian dengan pangsa pencarian mencapai 14,8%, melampaui Jakarta Selatan (12,4%) dan Jakarta Barat (9,3%).
Baca Juga: Harga Rumah Naik di 11 Kota, Jakarta Mulai Kehilangan Dominasi
Di saat yang sama, suplai rumah sekunder nasional turun sekitar 7,8% secara tahunan. Keterbatasan pasokan ini berpotensi menjadi pemicu kenaikan harga ketika permintaan kembali menguat.
Unit di segmen harga atas, khususnya di atas Rp3 miliar (khususnya di kawasan mandiri seperti BSD City), menunjukkan daya tahan kapital yang relatif stabil. Properti pada kisaran ini mulai dilihat sebagai instrumen lindung nilai (hedging) yang rasional di tengah volatilitas pasar keuangan.

Fase Entry Sebelum Harga Menyesuaikan
Kombinasi antara suplai terbatas, kenaikan biaya produksi, dan permintaan yang mulai pulih menciptakan tekanan struktural pada harga properti.
Dengan suku bunga acuan yang masih berada di level 4,75% dan insentif PPN DTP yang masih berjalan, ruang untuk akumulasi aset masih terbuka.
Momentum saat ini cenderung dibaca sebagai fase entry sebelum harga bergerak naik mengikuti nilai fundamentalnya.
Ketika penyesuaian terjadi, ruang undervalued biasanya tidak bertahan lama.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com




