Iklan Youtube Properti Terkini
Friday, July 19, 2024
Youtube Channel PT

WAWANCARA: BNI Sumsel Agresif Menyasar Sektor Perumahan

Bank BNI Sumsel semakin agresif menyalurkan pembiayaan untuk sektor perumahan di Sumatera Selatan. Segmen menengah bawah, termasuk FLPP juga kini menjadi konsen Bank BNI.

Propertiterkini.comSumatera Selatan adalah salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional. Pembangunan berbagai sektor juga terlihat tumbuh dengan massif, termasuk di Kota Palembang.

Sektor properti pun tidak kalah menggebrak dengan ragam produk properti. Baik komersil, ritel hingga perumahan di semua segmen, terutama menengah bawah.

Baca Juga: 25 Bank Akan Salurkan KPR FLPP di 2019

“Kami sangat optimis dengan perkembangan Sumsel saat ini. Sudah dipercaya sebagai salah satu tuan rumah penyelenggara Asian Games 2018. Pembangunan infrastrukturnya juga cukup massif. Bahkan Sumsel adalah provinsi pertama yang mengoperasikan LRT, bukan di Jakarta,” ujar Dodi Widjajanto, Senior Vice President – Pemimpin Wilayah BNI Kantor Wilayah Palembang di Palembang.

Lebih lengkap, berikut wawancara eksklusif bersama Dodi Widjajanto, yang dilakukan di kantornya BNI Sumsel, Kota Palembang, pertengahan September 2018 lalu:

Bagaimana Anda melihat potensi Sumatera Selatan, dan khususnya Kota Palembang?

Palembang dan perkembangannya cukup pesat, mall-nya banyak, hotelnya banyak, penerbangannya juga tinggi. Untuk ukuran ibukota provinsi sangat luar biasa. Dan Palembang ini juga menjadi hub untuk penerbangan di area Sumatera bagian selatan. Seperti ke Jambi ke Bengkulu, Pangkal Pinang, kemudian ke Tanjung Karang, sehingga sudah tidak perlu ke Jakarta. Bahkan sekarang ini, Palembang juga macet seperti di Jakarta. hehehe…

Macet ini dilema, di satu sisi ekonomi tumbuh, tapi di sisi lain lama sampai rumah atau kantor. Tetapi yang terpenting, semakin banyak penduduknya tentu kebutuhan akan perumahan juga semakin banyak.

Lantas bagaimana BNI sebagai salah satu bank penyalur kredit atau pembiayaan perumahan menyikapi perkembangan tersebut?

Kami memang kurang terkenal jika dibandingkan dengan BTN untuk sektor perumahan, dimana core bisnis mereka memang perumahan, sementara BNI di sektor kredit produktif. Untuk kredit produktif, kami termasuk salah satu pemain utama. Sementara untuk griya/perumahan/mortgage, kami akan lebih aktif. Kalau ibarat nyetir mobil, sekarang masih jalan normal aja, sehingga kami ingin ngebut.

Pasarnya juga cukup bagus dan menggiurkan, kami juga melihat ada link bisnis dengan kredit di sektor produktif. Jadi beberapa perusahaan yang kami biayai adalah developer. Jadi kemi pembiayaan untuk usaha produktifnya mereka, jasa konstruksi. Nantinya kami juga akan coba hubungkan mereka dengan pembiayaan end user. Selama ini kami memang kurang fokus untuk griya, sehingga sekarang kami akan mulai lebih fokus ke sana untuk melengkapi portofolio kami.

Kami melihat banyak peluang-peluang yang bisa digali, dan beberapa peluang bisnis itu ada kaitannya dengan apa yang kami kerjakan sekarang.

Baca Juga: Properti Palembang Bagai Gadis Seksi yang Menggoda

Sejauh ini sudah berapa persen besaran kredit perumahan dengan kredit lainnya?

Dominan memang masih kredit produktif. Perumahan tetap tumbuh. Consumer kami sekitar 26 persen. Kredit produktifnya 74 persen. Kami cukup konfiden untuk berkompetisi dengan yang lebih duluan. Karena kami juga punya produk-produk yang menurut kami cukup kompetitif dan kami juga bisa link-kan dengan kredit produktif kami. Kami juga punya produk-produk future lain transaksional banking yang bisa lebih kami kembangkan.

Semboyan BNI saat ini adalah BNI berbasis digital. Percepatan atau kemudahan untuk customer, kami tingkatkan dengan agresif. Khususnya yang berbasis digital. Ini termasuk salah satu andalan kami. Kami memang banyak promosi-promosi untuk pembiayaan griya karena memang terus terang sebagai pemain baru harus ada yang ditawarkan yang kurang lebih sama dengan pemain lama atau lebih menarik. Jadi konsep jualan yang klasik saja. Kami confident bisa. Kemarin kami adakan pertemuan dengan REI Sumatera Selatan nanti ke depan kami akan lebih aktif kalau misalnya ada pameran REI di mana saja, kami akan siap.

Saya kan area kerjanya Sumatera bagian selatan, jadi mencakup 5 provinsi. Lampung juga sudah melakukan perjanjian kerjasama 13 Developer. Jadi kami seleksi juga developer-developer yang terpercaya.

Sudah berapa developer yang bekerjasama dengan BNI?

Data terakhir sebanyak 45 developer dengan area kerjanya di Sumatera Selatan. Ini akan terus kami tingkatkan secara bertahap dan akan terus bertambah.

Kenapa baru sekarang ini lebih agresif?

Karena sebelumnya kawan-kawan di sini lebih sibuk cari yang komersial housing. Memang komersial marginnya lebih besar, tapi pasarnya kecil. Dan kondisi sekarang perkembangannya lambat. Beda dengan rumah-rumah yang harganya relatif lebih terjangkau. Termasuk yang FLPP pasarnya lebih menggiurkan dan orang pasti beli. Kalau rumah-rumah komersial biasanya untuk investasi. Nantinya kami lebih bergeser ke segmen yang lebih terjangkau. Rumah dengan harga terjangkau jumlahnya biasanya lebih banyak. Nah, kami menyiapkan yang belakang dulu supaya mesin produksinya siap.

Orang yang membeli commercial housing duitnya banyak, lebih lambat dia tenang-tenang saja. Tetapi kalau yang ini lebih sensitif. Dia perlu rumahnya segera karena untuk ditinggali. Kan semuanya termasuk back office processing juga kami sudah perbaiki, sudah tingkatkan bisnis prosesnya jadi kami komit dan yakin bisa. Makanya kemarin kami ketemu REI, kami tawarkan untuk coba kita revitalisasi kerjasamanya dengan anggota REI. Kita akan lihat bagaimana kondisi pembiayaan perumahan BNI sekarang dengan yang lalu. Saya sangat senang untuk lebih aktif lagi.

Berapa besar penyaluran kredit KPR BNI Sumsel pada tahun lalu?

Rata-rata per bulan 32,5 miliar rupiah. Itu sudah meningkat dari posisi tahun lalu di 2017. Jadi meningkat sekitar 9% dari tahun 2017. Jumlah debitur kami juga meningkat 6%. Cukup prospektif.

Apa saja produk dan program andalan BNI Sumsel?

Kami punya program-program promosi termasuk yang suku bunga tetap selama 2 tahun pertama, kemudian 3 tahun berikutnya dan bunganya jadi lebih murah 6,75% fixed 2 tahun pertama, setelah itu 3 tahun berikutnya 7,75%. Kemudian ada juga program insentif tambahan provisinya cuma 0,5%, mungkin di tempat lain lebih mahal. Kemudian biaya administrasinya kami nggak ada.

Ada program-program khusus dan produknya juga beragam, selain yang FLPP juga ada BNI Griya. Ada BNI Griya khusus nasabah emerald (nasabah high end), kemudian ada BNI Griya khusus notaris, ada juga griya untuk diplomat.

Baca Juga: REI Sumsel: Pengembang MBR Masih Bertahan, Meski Untung Kian Buntung

Kenapa dibuat seperti itu?

Sebelumnya saya di cabang Hongkong. Para pejabat Kemenlu, kalau di luar negeri gajinya besar tapi begitu balik ke dalam negeri jadi PNS lagi. Mungkin kalau di luar negeri gaji di Kedubes bisa 150 sampai 200 juta per bulan. Tetapi begitu balik, gajinya mungkin sekitar 10-15 juta. Waktu mereka di luar negeri rata-rata 3 tahun sehingga dia bisa angsur. Kami sesuaikan dengan kebutuhan pasar. Sehingga kami punya produk yang sangat beragam. Setiap tahun selalu ada hanya saja program-program insentifnya saja yang kami ubah, seperti promo dan undian undian. Jadi ini salah satu program kami untuk memberi daya tarik lebih. Kami berikan tambahan insentif reward kepada customer yang bukan pembiayaan rumahnya melalui kredit Griya BNI.

Sejauh ini apakah ada kendala, seperti misalnya dalam hal hubungan kerjasama dengan developer atau pemerintah?

Rasanya nggak ada. Justru kami juga banyak masukan dari teman-teman di REI. Tetapi memang ke depannya kami harus lebih sering ketemu dengan mereka supaya lebih sering interaksi. Supaya kami juga bisa mendapatkan informasi yang lebih akurat dan cepat. Saya minta tim kami juga bergerak lebih aktif dan informasi serta komunikasi dengan developer juga lebih rajin. Karena emang ini adalah soal kompetisi. Jadi memang pendekatan ke developer penting, kecepatan proses dan kepastian pembiayaan juga kami tingkatkan.

Sekarang berapa lama untuk bisa mengajukan KPR atau kredit Griya?

Kami bedakan, ada yang Fix Income untuk mereka yang punya gaji tetap dan non Fix Income. Kalau yang fixed income hanya 3 jam padahal sebelumnya 5 hari. Kemudian untuk non fix income selama 3 hari karena kami perlu verifikasi datanya. Untuk yang 3 jam pun ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Seperti penggajian yang harus sudah melalui bank BNI sehingga kami lebih mudah untuk melihat mutasi pendapatannya. Kami yakin dan confident bisa untuk bersaing dengan bank lain. Info dari ketua REI SumSel, sebanyak 90% perumahan adalah FLPP. Sehingga kalau kita hanya bertempur di 10% berat juga.

Developer seperti apa yang bisa memenuhi kriteria untuk bisa diajak kerjasama dengan BNI?

Antara lain ada rekomendasi dari REI. Kemudian juga proyek-proyek yang pernah dia kerjakan di mana saja. Jadi rekam jejak dia memang harus dipelajari. Perusahaan dengan reputasi bagus tentunya lebih mudah diajak kerjasama, relatif lebih aman diajak kerjasama. Bukan berarti developer kecil tidak bisa dibiayai, tetap bisa cuman memang harus bertahap. Kita membangun hubungan baik dengan rekam jejaknya terlebih dahulu, kalau memang kondisinya bagus maka kita akan melakukan kerjasama. Jangan sampai ada masalah di kemudian hari, misalnya developernya menghilang atau proyeknya mangkrak. Jadi tentunya di pengembang besar yang didahului, pertimbangan mitigasi risiko. Menghindari hal-hal yang tidak kita harapkan dan kemungkinan terjadinya komplain karena project tidak selesai. Makanya kita perlu beberapa developer besar yang kita anggap reputasi, komitmen, maupun likuiditasnya kuat. Jadi tidak hanya bergantung pada bank.

Bagaimana dengan target Kredit Griya untuk tahun ini?

Target kami di 2018 ini, kalau digabung untuk consumer seluruhnya sebesar Rp2,6 triliun. Sedangkan tahun lalu Rp2,3 triliun, jadi naik sekitar 13%. Untuk semester pertama consumer semuanya sudah Rp2,44 triliun (91% di Agustus). Mudah-mudahan bisa melampaui target kami pada tahun ini. Kredit ini ada angsurannya sehingga kami harus cari lebih. Dengan kondisi Sumatera bagian selatan khususnya Sumsel ini, mudah-mudahan harga CPO dan batubara stabil terus karena banyak yang menggantungkan hidupnya dari sini. Karet memang andalan tapi saat ini harganya lagi rendah.

Ada kebijakan baru dari Bank Indonesia soal LTV yang membebaskan bank untuk bisa memberikan bunga hingga 0%. Meski terkonfirmasi kemudian dari beberapa bank bahwa seminimal mungkin bunganya sebesar 5%. Itupun beberapa bank masih sangat berat. Bagaimana pendapat Anda soal hal ini, terutama bank yang berada di daerah?

Jadi ini memang salah satu upaya pemerintah untuk memberi stimulus ekonomi, karena kemarin sempat melambat dengan berbagai kondisi. Tetapi banyak faktor yang mempengaruhi hal ini. Memang ada yang bilang daya beli turun, buktinya banyak mall-mall yang tutup. Padahal saya yakin bahwa daya beli tidak turun. Income orang Indonesia semakin sejahtera, cuman pola belanja mereka berubah. Bahkan pameran otomotif selalu ramai. Sekarang memang banyak yang tidak pergi ke mall. Terutama anak-anak muda yang lebih suka belanja online. Jadi sebenarnya memang banyak orang yang menahan belanja sebab mereka melihat situasi ekonomi tidak menentu. Saatnya nanti pasti mereka akan belanjakan uang tersebut. Pola konsumen juga banyak yang berubah, semula banyak yang suka jalan-jalan ke mall dan belanja kini lebih banyak yang gunakan uang tersebut untuk jalan-jalan ke luar negeri.

Baca Juga: Lippo Akan Perluas Palembang Icon

Bagaimana Anda melihat perkembangan Palembang ke depannya?

Palembang berkembang sangat cepat dan pesat. Simpul-simpul TOD di stasiun LRT bakal sangat ramai. Apalagi kelak pengembang membangun hunian dan perkantoran di TOD tersebut. Daerah-daerah sekitar stasiun LRT pasti akan dibangun hunian vertikal atau rumah susun. Seperti di Wisma Atlet Jakabaring juga sangat prospektif untuk disewakan atau dijual. Sehingga bagi konsumen yang ingin memiliki properti atau hunian bisa dipertimbangkan untuk beli di saat ini. Sebab 5 hingga 10 tahun ke depan harganya pasti melambung sangat tinggi. Dulu harga tanah di Seberang Ilir bahkan dijual dengan harga Rp1.000 per meter persegi, karena memang dianggap jauh dari kota Palembang. Tetapi sekarang ini, harganya bahkan sudah tidak terbeli. Dulu di sana dibilang desa sekarang sudah menjadi kota.

Pengembang properti memang nafasnya harus panjang, karena harus siap misalnya daerah itu 10 tahun belum dibangun. Jadi memang uangnya harus lebih banyak. Tetap yakin pasti naik. Tidak pernah ada cerita properti turun, biasanya harga tertahan itu karena akses saja. Mungkin karena daerahnya susah dijangkau atau aksesnya terlalu sempit. Seperti saya dulu di Jakarta tinggal di daerah Ciputat dekat kampus UIN, pindah ke arah Bintaro karena saya berangkat kantor naik kereta. Rumah saya di Ciputat saya jual harganya naik namun tidak tinggi karena masih masuk ke dalam gang. Tetapi yang di Bintaro Sejak saya beli hingga saat ini (sekitar 7 tahun) naiknya sudah 3 kali lipat atau sekitar 300%. Bahkan kalau saya disuruh beli lagi saya nggak sanggup, hahaha…

Kita Yakin properti akan tumbuh, asal tidak ada krisis lagi. Kalau soal kurs dolar saat ini saya sendiri tidak begitu khawatir. Hanya karena politik sehingga digoreng sana sini seolah sangat mengkhawatirkan. Bahkan suka dibanding bandingkan dengan 1998. Padahal kasusnya sangat berbeda. Saat ini utang terkontrol, dan kebocoran relatif lebih kecil. Saya tidak membela pemerintahan sekarang. Yang jelas kita melihat uang tersebut telah dikonversi jadi barang, seperti infrastruktur dan lainnya. Infrastruktur tersebut tentunya akan menjadi barang yang sangat berharga beberapa tahun yang akan datang.

Kemarin saya jalan ke Prabumulih, Tanjung Karang naik mobil. Saya merasakan sangat lancar sekali. Beruntung juga sudah ada jalan tol dari Palembang – Indralaya, itu sudah sangat lumayan. Sudah terasa seperti di Jawa. Bukan berarti Sumatera terkebelakang, walaupun kenyataannya seperti begitu. Bahwa infrastruktur jalan masih sangat terbatas. Jalannya sangat sempit sekali. Dulu saya pernah tinggal di Sumatera di Bengkulu dan di Jambi, saya diajak bapak keluar kota jalannya masih itu-itu saja setelah 40 tahun. Kemarin saya dari Palembang ke Lampung jam 09.30 malam, saya melalui Jalan Tol Palembang – Indralaya sangat nyaman sekali. Ini yang dibutuhkan saat ini.

Baca Juga: Ada KPR Milenial, Beli Rumah Subsidi Tanpa Batasan Gaji

Sekarang kita lihat di Cirebon, begitu jalan tol-nya jadi, orang Jakarta yang pengen makan empal gentong, berangkat pagi, sore balik lagi. Nantinya perumahan di Cirebon juga bakal sangat laku oleh orang Jakarta. Jadi begitu infrastrukturnya jadi, properti pun sangat mudah untuk dikembangkan. Sehingga kita juga yakin di Palembang akan perkembangan yang sama oleh pembangunan infrastruktur.

- Advertisement -
Demo Below News

BERITA TERKAIT

Sharp Plasmacluster
Sharp Plasmacluster

BERITA TERBARU

Demo Half Page