Thursday, February 9, 2023

Ternyata Hanya 40,95 Persen Milenial yang Beli Properti dengan Uang Sendiri

Yang menjadi pertanyaan, bagaimana dengan gaji Rp8,5 juta/bulan dapat membeli properti seharga Rp500 juta bahkan 1 miliar.

- Advertisement -

PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Apakah Anda diantara para milenial yang beli properti dengan uang sendiri? Atau sebaliknya, masih dibantu oleh orang tua atau keluarga lainnya?

Baru-baru ini Indonesia Property Watch merilis temuan terbarunya. Disebutkan bahwa minat generasi milenial beli properti semakin lama semakin memerlihatkan peningkatan.

Baca Juga: Kota Mandiri Baru Vasaka City 640 Hektar Mulai Dibangun, Cluster Perdana Rp250 Jutaan

Milenial merupakan kelompok demografi setelah Generasi X (Gen-X). Tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini.

Para ahli dan peneliti biasanya mengelompokan generasi ini dengan tahun kelahiran 1980-an sampai akhir tahun 1990-an.

Berdasarkan survei yang dilakukan Indonesia Property Watch belum lama ini, ternyata milenial yang aktif melakukan pembelian rumah atau properti berada di kisaran usia 27 sampai 39 tahun dengan penghasilan rata-rata Rp8,5 juta/bulan.

“Memang tingkat penghasilan ini mungkin tergolong tinggi saat ini dibandingkan penghasilan rata-rata milenial yang diperkirakan penghasilannya Rp 6-7 juta/bulan. Namun begitulah faktanya, hanya mereka dengan penghasilan itu yang diperkirakan sanggup untuk membeli properti saat ini,” kata  Ali Tranghanda, CEO Indonesia Property Watch.

Baca Juga: Dimulai Serah Terima Huntap Kepada Warga Terdampak Bencana Badai Seroja di NTT dan NTB

Masih menurut hasil riset tersebut, Ali mengungkapkan, tidak semua milenial membeli rumah dengan uang sendiri. “Ternyata hanya sebesar 40,95% yang benar-benar menggunakan uang sendiri,” ujarnya.

Lantas, bagaimana dengan yang lainnya? Sebesar 39,05%, sebut Ali, masih dibantu oleh orang tua mereka, baik dalam hal uang muka atau sebagian cicilannya.

“Ada juga orang tua yang membelikan properti sepenuhnya untuk anaknya sebesar 12,38%. Sedangkan selebihnya lagi milenial tidak membeli properti karena memiliki warisan dari orang tuanya,” terang Ali.

Harga properti yang dibeli pun bervariasi dengan komposisi terbesar di kisaran harga Rp500 juta – 1 miliaran sebesar 37,8%, diikuti harga properti di kisaran Rp300 – 500 jutaan sebesar 28,51%, harga properti di atas Rp1 miliar sebesar 22,98%, dan terkecil untuk harga properti dibawah Rp300 juta.

Baca Juga: Masuk Pasar Indonesia, Viessmann Merevolusi Solusi Air dengan Teknologi Jerman

“Yang menjadi pertanyaan bagaimana dengan gaji Rp8,5 juta/bulan dapat membeli properti seharga Rp500 juta bahkan 1 miliar. Dengan gaji Rp8,5juta/bulan mereka hanya bisa mencicil 1/3 dari penghasilan tersebut atau kira-kira Rp2,5-3 juta/bulan yang berarti hanya properti seharga Rp300-400 juta saja yang bisa mereka miliki,” terang Ali.

Hal ini ternyata terjawab dengan profil status perkawinan para milenial ini. Sebesar 38,79% milenial yang membeli properti adalah mereka yang telah berkeluarga dengan minimal memiliki 1 orang anak.

Sedangkan bagi keluarga muda yang belum memiliki anak prosentasenya pun cukup besar yaitu sebesar 30,17%. Artinya sebagian besar milenial membeli rumah saat mereka sudah menikah dan dari sisi penghasilan bisa digabungkan sehingga bisa membeli rumah yang lebih besar.

Baca Juga: Bangun Perumahan Segmen MBR Informal, Upaya Kurangi Backlog Hunian

Nah itulah profil pembeli milenial yang bisa menjadikan referensi bagi para pengembang untuk dapat membidik pasar dengan lebih baik. Namun jangan lupa, saat ini generasi setelah milenial, yaitu generasi Z pun sudah mulai ‘melek’ properti. Para pengembang bersiap untuk pasar yang lebih besar lagi.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

BERITA TERBARU