Tuesday, January 31, 2023

Safe Settlement, Inovasi Mencegah Penyebaran COVID-19 di Pemukiman

Rumah merupakan langkah pertama untuk melindungi diri dan keluarga dari virus Corona. Rumah menjadi lebih dari sekedar tempat berteduh, tetapi juga benteng perlindungan.

- Advertisement -

PropertiTerkini.com, (JAKARTA) – Penerapan Safe Settlement dinilai efektif dalam menghambat penyebaran Covid-19 di pemukiman. Beberapa komplek perumahan di Jakarta sudah mulai menerapkannya.

Safe Settlement perlu dikembangkan sebagai langkah antisipasi dalam menghadapi pergeseran tren penyebaran virus Corona dari pasar ke pemukiman yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir.

Baca Juga: Perluas Kegiatan Sosial, Habitat for Humanity Sasar 1.200 Tempat Singgah Pejuang Medis

Namun, efektivitas penerapannya sangat bergantung pada partisipasi dan kerjasama antar warga. Hal ini terungkap dalam acara Philanthropy Learning Forum (daring) bertajuk “Inovasi dalam Mencegah Covid-19 melalui Safe Settlement” yang digelar di Jakarta, Selasa (14/7/2020).

Acara tersebut menghadirkan 4 pembicara yakni Susanto Samsudin (National Director Habitat for Humanity Indonesia), Lana Winayanti (Advisor Kemitraan Habitat), Ignesjz Kemalawarta (Wakil Ketua Umum Bidang Perundang-Undangan & Regulasi Property Real Estate Indonesia/REI) dan Jacob Kastanja (Gugus Tugas Covid-19 Perumahan Emerald Residence-Bintaro).

Acara ini merupakan kegiatan kolaborasi antara Filantropi Indonesia, Habitat for Humanity Indonesia, Kemitraan Habitat, dan Klaster Filantropi Permukiman dan Perkotaan dengan dukungan dari Ford Foundation.

Selama penyebaran virus Covid-19 merebak, selain tempat ibadah, sekolah, dan tempat lainnya, areal yang rentan terjangkit adalah pasar dengan tingginya jumlah masyarakat berkumpul.

Baca Juga: Sistem Keamanan Gedung Masuki Era Baru

Namun, dalam beberapa minggu terakhir penyebaran Covid-19 diperkirakan mulai bergeser dari pasar ke pemukiman warga. Beberapa anggota masyarakat telah terinfeksi positif Covid-19 di beberapa komplek pemukiman, khususnya di pemukiman yang padat di perkotaan.

Padahal, rumah atau tempat tinggal dinilai sebagai tempat yang cukup aman untuk mengisolasi diri dari terjangkitnya virus karena tingkat interaksi yang sempit.

Melihat situasi yang belum kondusif, maka perlu dilakukannya persiapan penanganan yang baik untuk mencegah kondisi yang semakin buruk melanda masyarakat di pemukiman.

Satu cara yang sangat efektif untuk diterapkan ialah Safe Settlement yang merupakan konsep untuk membangun lingkungan yang sehat dengan melibatkan partisipasi aktif ekosistem sekitar.

Baca Juga: Memilih Tempat Tidur yang Tepat dan Nyaman

Inisiatif Safe Settlement merupakan program yang bertumpu pada pendekatan ke masyarakat yang tidak hanya dapat dilakukan untuk masyarakat kelas menengah tapi juga kelas bawah. Tentunya masing-masing pemukiman dari setiap kelas akan memiliki tantangan yang berbeda dalam prakteknya.

Susanto menuturkan, rumah merupakan langkah pertama untuk melindungi diri dan keluarga dari virus Corona. Rumah menjadi lebih dari sekedar tempat berteduh, tetapi juga benteng perlindungan.

“Desain rumah yang tepat, seperti ventilasi, pencahayaan, dan ruang yang cukup, juga akses sanitasi serta higienitas di dalam rumah akan mendukung kampanye yang diserukan untuk selalu melakukan pola hidup bersih sehat seperti cuci tangan pakai sabun dan lainnnya,” ujar Susanto.

Salah satu contoh komunitas yang telah menerapkan konsep tersebut adalah Perumahan Emerald Residence-Bintaro. Secara sadar, para penghuninya telah membentuk tim Gugus Tugas Covid-19 di setiap RW.

Untuk mendukung kerja tim gugus tugas yang dibentuk, setiap RT kemudian mencari dan merekrut relawan yang juga berasal dari warga perumahan. Tugas mereka diantaranya membantu pengecekan dan pemeriksaan rumah warga serta membantu pelaksanaan e-survey terkait profil resiko warga.

Baca Juga: Dua Produk Samsung Mendukung Makanan Sehat #DiRumahAja

Jacob menyampaikan, bersama dengan para relawan pemeriksaan dilakukan tiga kali dalam satu hari, 10 rumah ke kiri, kanan dan depan.

“Sebelumnya para warga diminta untuk mengisi e-survey terkait profil resiko mereka. E-survey tersebut bersifat rahasia dan hanya dokter / petugas medis dari Puskemas yang diperbolehkan untuk membuka data tersebut. Melalui rangkaian aktivitas tersebut, maka petugas dapat lebih mudah untuk melakukan tracing dan melakukan pemetaan profil resiko warga serta dapat mudah memberikan kategori ODP, PDP, dan OTG,” terangnya.

Sementara menurut Ignesjz, Covid-19 telah membuat sebagian besar masyarakat melakukan Work from Home atau WFH. Dengan demikian fungsi rumah ke depan akan membutuhkan dukungan metode new design dan penerapan healthy building.

“Salah satu kriterianya adalah pemusatan masuknya udara melalui filter sampai keluar rumah. Covid-19 menyadarkan bahwa diperlukan konsep perencanaan, pengembangan dan pengelolaan perkotaan baru yang lebih sehat. Di masa depan akan ada fokus baru untuk menemukan solusi desain untuk bangunan individu dan lingkungan yang lebih luas agar memungkinkan masyarakat bersosialisasi tanpa harus harus berdesakan,” jelas Ignesjz.

Lana Winayanti, Advisor Kemitraan Habitat menambahkan, permukiman yang aman atau Safe Settlement sudah menjadi amanah SDGs, New Urban Agenda, dan UU no. 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Pengertian aman sangat luas bisa dikaitkan dengan aman dari resiko bencana alam maupun bencana non-alam seperti wabah penyakit.

“Situasi pandemi yang ada saat ini beserta protokol kesehatan yang menyaratkan antara lain, jaga jarak, penggunaan masker dan sering cuci tangan, mengingatkan kita semua akan pentingnya peran perumahan yang sehat khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah,” katanya.

Baca Juga: Sah, Begini Protokol Kesehatan Sektor Pariwisata

Sayangnya, sebagian dari protokol kesehatan tersebut sangat sulit diterapkan dengan baik di kawasan permukiman informal yang sangat padat, yang timbul akibat ketidakmampuan para penghuni dalam menyediakan perumahan yang sehat bagi MBR di perkotaan.

“Kolaborasi berbagai pemangku kepentingan, baik pemerintah, swasta, akademisi maupun masyarakat adalah kunci untuk mewujudkannya,” tegas Lana.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

BERITA TERBARU