PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Properti sektor ritel, khususnya pusat perbelanjaan atau mall di Jakarta saat ini tengah mengalami transformasi besar-besaran untuk tetap relevan di tengah perubahan perilaku konsumen yang dinamis.
Berdasarkan data terbaru, rerata tingkat okupansi ritel di Jakarta berhasil meningkat tipis menjadi 77,9%.
Baca Juga: Kawasan Industri Greater Jakarta 2025 Tangguh: Serapan 318 Hektar, EV Dominasi 18%
Isu utamanya adalah pergeseran konsep dari sekadar tempat belanja menjadi pusat pengalaman atau experience-led retail.
Hal ini menjadi penting saat ini karena pengelola mall harus bersaing ketat dengan kemudahan belanja daring yang terus menggerus pasar konvensional.
Pihak yang paling terdampak adalah pengelola mall kelas menengah ke bawah yang masih beradaptasi, sementara mall premium justru semakin kokoh.
Rahasia utama di balik ramainya pusat perbelanjaan saat ini adalah dominasi sektor Food & Beverage (FnB) yang menguasai 50% dari total serapan ruang ritel baru.
Brand-brand besar seperti Chagee, Sushiro, dan Sancha tercatat sangat agresif melakukan ekspansi di berbagai sudut strategis Jakarta.
Baca Juga: 88 Plaza Balikpapan Hadirkan Urban District Modern Mulai Rp3 Miliar
Willson Kalip, Country Head Knight Frank Indonesia, menjelaskan bahwa transformasi ini adalah jawaban atas kebutuhan pasar.
“Konsep yang mampu menghadirkan open-air lifestyle, social space, dan kurasi tenant yang relevan terbukti lebih resilien dalam fase pemulihan pasar saat ini,” ungkap Willson.
Ia juga menekankan bahwa bangunan fisik ritel kini menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem ritel online melalui strategi omnichannel.
Strategi Tenant Mix dan Masa Depan Mall di Jakarta Tahun 2026
Meskipun menunjukkan tren positif, industri ritel di Jakarta dihadapkan pada fenomena bifurkasi, dimana terjadi perbedaan performa yang mencolok antara kelas mall.
Baca Juga: RISE Luncurkan 3 Proyek Premium 2026, Target Tambahan Rp28 Miliar per Tahun
Mall premium di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan relatif sangat kuat dengan tingkat kunjungan tinggi, sedangkan mall kelas menengah ke bawah masih tertekan.
Kondisi ini memicu tren flight to quality, di mana penyewa lebih memilih pindah ke mall dengan desain berkualitas dan lokasi yang lebih strategis.
Dari sisi harga, rerata sewa Mall Jakarta saat ini berada di angka Rp795.940 per meter persegi.
Nilai ini dianggap masih kompetitif bagi pelaku usaha gaya hidup, fashion, dan kecantikan yang ingin memperkuat citra merek mereka secara fisik.

Namun, para pemilik gedung harus tetap waspada terhadap risiko pasokan baru yang diprediksi akan masuk ke pasar pada tahun 2026 sebesar 61.000 meter persegi dari tiga proyek baru.
Syarifah Syaukat, Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, menambahkan bahwa keberhasilan sebuah pusat perbelanjaan kini bergantung pada inovasi ruang.
Baca Juga: Balikpapan Makin Berkilau, Ini 5 Potensi Kota Penyangga IKN yang Jadi Magnet Properti Baru
“Pusat perbelanjaan dengan konsep pengalaman, ruang yang inovatif, dengan pilihan tenant yang kompetitif menjadi pemenang dalam fase pemulihan saat ini,” jelas Syarifah.
Catatan penting bagi pengelola adalah memastikan ruang luar (outdoor) dikelola dengan baik karena tren “outdoor is the new indoor” kini menjadi standar baru kenyamanan konsumen.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com




