PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Masalah gangguan irama jantung atau aritmia kini punya solusi yang lebih aman dan minim risiko bagi warga Jakarta dan sekitarnya. Primaya Hospital Kelapa Gading baru saja memperkenalkan layanan ablasi jantung tanpa radiasi (non-fluoroscopic cardiac ablation).
Lewat teknologi pemetaan 3D, dokter bisa melihat jalur listrik jantung secara langsung tanpa perlu mengandalkan sinar X-Ray yang biasanya digunakan dalam prosedur konvensional.
Baca Juga: Medical Suites BSD City Targetkan Operasional 2026, Solusi Kesehatan Global di KEK ETKI
Langkah ini diambil karena kasus gangguan irama jantung, terutama Atrial Fibrilasi (AF), ternyata cukup tinggi di Indonesia.
Jika biasanya pasien merasa harus terbang ke luar negeri untuk mendapatkan tindakan medis yang canggih, kehadiran teknologi ini di Kelapa Gading membuktikan bahwa fasilitas kesehatan dalam negeri sudah mampu bersaing di level internasional.
Tindakan perdana teknologi ini diperlihatkan melalui kegiatan Live Case – Hands on Non Fluoroscopic Ablation Course yang digelar pada Sabtu, 9 Mei 2026. Acara tersebut melibatkan kolaborasi antara tim spesialis internal rumah sakit dengan pakar dari Taiwan.
Risiko Stroke dan Pentingnya Ablasi Jantung Tanpa Radiasi
Gangguan irama jantung bukan perkara sepele. Yoga Yuniadi, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia, menjelaskan bahwa Atrial Fibrilasi sudah menjadi masalah kesehatan global. Di Indonesia saja, penderitanya diperkirakan mencapai 3 hingga 5 juta orang.
Seringkali, orang tidak sadar kalau irama jantungnya bermasalah. Yoga Yuniadi menyebutkan bahwa sekitar 56% pasien AF bersifat asimtomatik atau tidak merasakan gejala apa pun. Padahal, kondisi jantung yang berdebar dan dibiarkan begitu saja bisa meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat.
“Keluhan jantung berdebar sering dianggap sepele, padahal kondisi ini dapat meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat. Jika keluhan muncul berulang, sebaiknya segera diperiksakan. Karena itu, deteksi dini dan penanganan yang tepat menjadi sangat penting, terutama pada kelompok golden age atau 40–60 tahun,” ungkap Yoga Yuniadi.
Kabar baiknya, teknologi ablasi terbaru ini punya profil keamanan yang sangat tinggi. Risiko komplikasi beratnya tercatat kurang dari 0,2 persen.
Selain itu, karena tidak menggunakan radiasi, pasien maupun tenaga medis terhindar dari paparan sinar yang dalam jangka panjang kurang baik bagi tubuh.
Baca Juga: Petals Urban Market dan Cara Baru Menikmati Akhir Pekan di Kota Mandiri Paramount Petals
Kolaborasi Global Primaya Hospital untuk Layanan Lokal
Penerapan teknologi baru ini juga mendapat dukungan dari organisasi profesi. Agung Fabian Chandranegara, yang mewakili Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS), menekankan bahwa perkembangan teknologi di bidang aritmia berjalan sangat cepat.

Oleh karena itu, edukasi dan kolaborasi seperti yang dilakukan di Primaya Hospital sangat diperlukan agar kualitas layanan bagi pasien di Indonesia terus meningkat.
Senada dengan hal itu, Direktur Primaya Hospital Kelapa Gading, Ferry Aryo, menegaskan bahwa rumah sakit berkomitmen menyediakan layanan jantung yang paripurna. Dengan adanya fasilitas mulai dari Angioplasti hingga ablasi modern, masyarakat tidak perlu lagi mencari pengobatan ke luar negeri.
Baca Juga: Matera Lakeside Hadirkan Genre Baru Hunian Luxury di Paramount Gading Serpong
“Kegiatan ini menjadi bukti bahwa Cardiac & Vascular Center di Primaya Hospital Kelapa Gading telah memiliki layanan jantung modern paripurna. Ke depan, pengembangan akan terus dilakukan agar masyarakat mendapatkan akses layanan yang lebih aman, presisi, dan terintegrasi,” pungkas Ferry.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Chanel





