PropertiTerkini.com, (KAPUAS HULU) — Pernah terpikir bagaimana selembar kain bukan cuma jadi penutup tubuh, tapi bisa mengubah nasib sebuah keluarga? Di pelosok Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, kerajinan tangan ini sedang jadi primadona.
Melalui program Aram Bekelala Tenun Iban, para perempuan Dayak Iban membuktikan bahwa menjaga warisan leluhur bisa berjalan beriringan dengan urusan dapur.
Baca Juga: Merajut Asa Sumba: 3 Tahun Mengubah Hidup Masyarakat Melalui Seni dan Budaya
Bayangkan saja, hanya dalam setahun, pendapatan rata-rata para penenun di sana melonjak drastis hingga 360%. Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas, tapi berarti ada lebih banyak anak yang sekolahnya terjamin dan dapur yang lebih mengepul di empat dusun wilayah Kapuas Hulu.
Sebenarnya, menenun sudah jadi napas sehari-hari bagi mereka, tapi dulu aksesnya terbatas. Masalah klasik seperti teknik yang itu-itu saja, sulitnya mencari pewarna alami, sampai bingung mau jual ke mana, seringkali membuat potensi ini jalan di tempat.
Lewat inisiatif Yayasan Kawan Lama, hambatan itu mulai dipangkas satu per satu melalui pelatihan yang sangat terstruktur. Isunya sekarang bukan lagi soal “bisa menenun atau tidak”, tapi bagaimana cara membuat Tenun Iban ini punya nilai jual tinggi di mata kolektor atau konsumen modern di Jakarta, bahkan dunia.
Ketua Yayasan Kawan Lama, Tasya Widyakrisnadi, sempat menekankan betapa pentingnya kemandirian ini.
Baca Juga: Upaya Tobatenun Tingkatkan Kualitas Hidup Perajin Kain Batak
“Program Aram Bekelala Tenun Iban dirancang sebagai upaya jangka panjang untuk memperkuat kemandirian komunitas penenun Dayak Iban,” tuturnya.
Dia menjelaskan bahwa dengan meningkatkan kapasitas dan membuka akses pasar, pelestarian budaya tidak akan berhenti sebagai hobi, melainkan menjadi mesin penggerak ekonomi yang manfaatnya bisa dirasakan terus-menerus oleh masyarakat setempat.
Memang benar, tanpa ekonomi yang kuat, tradisi sehebat apa pun seringkali terancam ditinggalkan oleh generasi muda yang lebih memilih mencari kerja di kota.
Pemerintah daerah pun tidak tinggal diam melihat pergerakan ini. Wakil Bupati Kapuas Hulu, Sukardi, memberikan apresiasi karena program ini sangat pas dengan visi daerah dalam memberdayakan perempuan. Dia melihat bahwa kain ini adalah identitas yang harus dikembangkan agar jadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.
Baca Juga: Hisense Bongkar Rahasia TV Hemat Energi: Teknologi “Diam-Diam” yang Bisa Pangkas Tagihan Listrik
Penting dicatat, risiko dari program seperti ini biasanya adalah ketergantungan pada pendamping, namun Aram Bekelala mengakalinya dengan sistem Training of Trainers (ToT).
Artinya, penenun yang sudah mahir diajarkan untuk menjadi guru bagi yang lain, sehingga ilmu itu tetap berputar di dalam komunitas mereka sendiri tanpa harus selalu menunggu instruksi dari luar.
Inovasi Warna Alam Tenun Iban Kapuas Hulu dan Tantangan Pasar Modern
Bicara soal harga, kain tenun berkualitas tinggi tentu tidak murah karena prosesnya yang rumit. Namun, daya saing Tenun Iban kini meningkat berkat eksplorasi warna-warna baru.
Dulu pilihannya mungkin terbatas, tapi sekarang para penenun sudah bisa menghasilkan 69 variasi warna hanya dari tanaman lokal seperti daun kratom, kayu tebelian, hingga ketapang.
Baca Juga: Panduan Lengkap Investasi Properti di Koridor Barat Jakarta 2026: Cuan atau Jebakan?
Ada sekitar 58 motif lama yang didokumentasikan kembali, ditambah lima motif baru yang lebih segar. Ini langkah cerdas, sebab konsumen sekarang sangat peduli pada aspek lingkungan (eco-friendly) dan cerita di balik sebuah produk.
Kristina Anyun, salah satu penenun yang merasakan langsung manfaatnya, bercerita kalau sekarang ia jauh lebih percaya diri.
“Melalui pelatihan dan pendampingan yang kami terima, kami tidak hanya belajar meningkatkan kualitas tenun, tetapi juga lebih percaya diri dalam mengelola dan memasarkan hasil karya kami,” katanya.

Perasaan mampu mengelola usaha secara mandiri inilah yang sebenarnya menjadi nilai tak ternilai dari sebuah program pemberdayaan, melebihi sekadar bantuan modal tunai.
Meski prestasinya sudah sampai ke panggung besar seperti Jakarta Fashion Week 2026 hingga World Expo Osaka 2025, perjalanan ini masih panjang. Yayasan Kawan Lama berencana fokus pada penguatan perencanaan bisnis para penenun di tahun 2026 ini.
Tantangannya adalah bagaimana menjaga kualitas tetap stabil saat permintaan pasar mulai membludak. Apalagi sekarang akses pasar sudah dibuka lebar melalui kanal distribusi Pendopo, yang memang spesialis dalam mengurasi produk budaya nusantara.
Baca Juga: Sinar Mas Land Raih Global Brand Awards 2026: ESG Jadi Penentu Baru Investasi Properti
Tasya menutup dengan optimisme bahwa pemberdayaan berbasis budaya ini adalah fondasi ekonomi yang inklusif.
Jadi, kalau Anda melihat kain Tenun Iban di galeri Pendopo atau pameran busana, ingatlah bahwa ada proses panjang dari tangan-tangan terampil di Kapuas Hulu yang kini hidupnya jauh lebih sejahtera. Sebuah bukti nyata bahwa ketika warisan leluhur dikelola dengan manajemen modern, hasilnya bisa luar biasa bagi semua orang yang terlibat.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com




