BERITA TERKAIT

Rusun Paniki Dua Dibanderol Rp450 Ribu, Ini Hitung-hitungan Kelayakannya

Harga sewa rusun Rp450 ribu per bulan di Manado mulai disorot karena dianggap terjangkau. Namun di lapangan, muncul pertanyaan sederhana: benar-benar ringan, atau masih terasa berat?

PropertiTerkini.com(MANADO) — Pemerintah terus mendorong hunian vertikal dengan harga sewa yang lebih rendah dari pasar. Di Manado, perhatian tertuju pada Rusun Paniki Dua yang ditawarkan dengan tarif sekitar Rp450 ribu per bulan.

Angka ini muncul saat Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait meninjau lokasi pembangunan di Paniki Dua, Kecamatan Mapanget, Jumat (10/4/2026). Proyek tersebut ditargetkan rampung pada Februari 2027 dan ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Baca Juga: Lahan KAI Kiaracondong Bakal Jadi Hunian TOD Pertama di Bandung

“Pembangunan ini kita percepat dan diharapkan sudah selesai pada Februari 2027. Rusun ini nantinya bisa disewa masyarakat dengan harga sekitar Rp450 ribu per bulan,” ujar Maruarar.

Di atas kertas, tarif ini terlihat ringan. Tapi begitu masuk ke realitas pengeluaran harian, hitungannya mulai terasa berbeda.

Terutama bagi MBR yang penghasilannya tidak stabil, biaya hunian sering kali menjadi pos yang paling sensitif.

Rusun Paniki Dua dan Hitung-hitungan Biaya Hunian MBR

Jika dibagi rata, Rp450 ribu per bulan setara sekitar Rp15 ribu per hari. Secara nominal memang rendah, bahkan lebih murah dari sebagian kos sederhana di beberapa kota.

Namun biaya hunian tidak berdiri sendiri. Ada listrik, air, transportasi, dan kebutuhan dasar lain yang tetap harus dipenuhi.

Baca Juga: BSPS Majalengka 2026 Melonjak 4 Kali Lipat, 1.030 Rumah Warga Siap Dibedah

Dalam pendekatan umum, beban hunian idealnya berada di kisaran 20–30 persen dari penghasilan bulanan. Dengan asumsi tersebut, maka penyewa rusun ini setidaknya memiliki pendapatan di atas Rp1,5 juta hingga Rp2 juta agar tetap berada dalam batas aman.

Di bawah angka itu, ruang keuangan menjadi sangat sempit. Sedikit saja ada pengeluaran tak terduga, tekanan langsung terasa.

Artinya, harga Rp450 ribu memang bisa disebut terjangkau, tetapi belum tentu aman untuk seluruh kelompok MBR.

Paniki Dua Mulai Terbaca sebagai Arah Baru Hunian Vertikal

Lokasi proyek berada di lahan sekitar 3.280 meter persegi di Paniki Dua, dengan akses ke Jalan Salak Raya, yang merupakan lahan bersertifikat Hak Pakai atas nama Pemerintah Kota Manado. Kawasan ini bukan tanpa alasan dipilih.

Baca Juga: Rusun Subsidi Meikarta Rp16 Triliun Dimulai: Target 141.000 Unit, Dorong Program 3 Juta Rumah

Mapanget selama beberapa tahun terakhir mulai berkembang, didukung akses ke Bandara Sam Ratulangi dan jaringan jalan yang semakin terbuka. Secara perlahan, kawasan ini mulai dilihat sebagai kantong hunian baru.

Pemerintah Kota Manado sebelumnya juga telah membangun rusun di Kelurahan Paniki dengan kapasitas 60 unit pada 2023. Kehadiran proyek lanjutan memberi sinyal bahwa pembangunan hunian vertikal mulai dikonsolidasikan di area ini.

Direktur Jenderal Perumahan Perkotaan Kementerian PKP Sri Haryati menyampaikan bahwa kesiapan proyek sudah cukup matang.

“Lahan pembangunan telah siap setelah dilakukan land clearing dan pengecekan sertifikat. Selain itu, calon penghuni juga telah disiapkan melalui daftar tunggu berbasis by name by address (BNBA),” ujarnya.

Artinya, bukan hanya proyeknya yang siap, tetapi kebutuhan hunian juga sudah teridentifikasi.

Konsep Bhineka Tunggal Ika dan Catatan yang Perlu Dicermati

Selain harga, ada pendekatan lain yang coba dibawa dalam proyek ini. Menteri PKP mengusulkan nama Rusun Bhineka Tunggal Ika sebagai simbol keberagaman.

Baca Juga: Properti Tangerang Salip Jakarta Selatan, 14,8% Pencarian Terkonsentrasi di Koridor Barat

“Nama ini mencerminkan keragaman masyarakat di Sulawesi Utara khususnya Manado,” ujar Maruarar.

Rumah susun yang dibangun Kementerian
Ilustrasi: Rumah susun yang dibangun Kementerian PKP. (Foto Dok. Kementerian PKP).

Pendekatan ini menarik, karena memberi dimensi sosial pada hunian, bukan sekadar tempat tinggal.

Namun ada beberapa hal yang tetap perlu diperhatikan. Bangunan dirancang tiga lantai dengan total 44 unit tipe Arunika 36. Jumlah ini relatif terbatas jika dibandingkan dengan kebutuhan hunian MBR yang terus meningkat.

Selain itu, kualitas pengelolaan setelah pembangunan sering menjadi faktor penentu. Banyak proyek rusun yang awalnya baik, namun menurun karena kurangnya maintenance dan pengelolaan yang konsisten.

Baca Juga: Tekan WNI Berobat ke Luar Negeri, BSD City Siapkan RS Standar Internasional

Di titik ini, keberhasilan Rusun Paniki Dua tidak hanya bergantung pada harga sewa, tetapi juga pada bagaimana hunian tersebut dikelola dalam jangka panjang.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page