PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Permintaan rumah di Indonesia menunjukkan pola menarik: selama Ramadan aktivitas pencarian properti justru melambat, tetapi melonjak tajam segera setelah Lebaran.
Data terbaru menunjukkan pencarian hunian meningkat hingga 32% pada H+2 Lebaran, menandakan momen pascalibur panjang menjadi waktu strategis masyarakat mengambil keputusan membeli rumah.
Baca Juga: Cara Mengatur Keuangan: Uang THR Bisa Jadi Investasi Properti
Fenomena ini penting karena terjadi di tengah tantangan besar kepemilikan rumah bagi generasi muda.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sekitar 81 juta generasi muda Indonesia pada 2025 belum memiliki rumah sendiri.
Kondisi ini dipicu oleh stagnasi pendapatan yang berhadapan dengan kenaikan harga properti yang terus meningkat.
Namun, momentum Ramadan dan Lebaran mulai berubah makna. Jika sebelumnya identik dengan konsumsi jangka pendek, kini periode tersebut semakin dipandang sebagai waktu refleksi finansial yang memicu keputusan pembelian aset jangka panjang seperti rumah.
Permintaan Rumah Naik Tajam Setelah Lebaran, Fenomena “Tunda Beli” Saat Ramadan
Data tren pencarian properti selama tiga tahun terakhir menunjukkan pola yang konsisten. Aktivitas pencarian rumah cenderung menurun selama Ramadan, tetapi meningkat drastis setelah Lebaran.
Pada April 2023, pencarian properti turun sekitar 16%, sementara pada Maret 2025 penurunannya mencapai 8,8%.
Baca Juga: Tahun Kuda Api Memanas, KPR Take Over Jadi Solusi Jinakkan Inflasi yang Bakar Harga Rumah
Penurunan ini menunjukkan masyarakat lebih fokus pada kebutuhan konsumsi selama bulan puasa dan persiapan hari raya.
Namun begitu memasuki periode setelah Lebaran, tren langsung berbalik tajam. Pada 2023, pencarian rumah meningkat 29,3% pada H+3 Lebaran.
Tahun 2024 mencatat lonjakan 32,8% pada H+2, sementara pada 2025 peningkatan kembali terjadi sebesar 29,2% pada periode yang sama.
Head of Research Rumah123, Marisa Jaya, menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan erat dengan dinamika psikologis setelah momen mudik dan berkumpul bersama keluarga.
“Lebaran kini berfungsi sebagai reset point keputusan finansial rumah tangga Indonesia. Momen berkumpul bersama keluarga besar sering memunculkan kesadaran akan keterbatasan ruang dan kenyamanan, sehingga mendorong banyak orang mulai serius mempertimbangkan kepemilikan rumah,” ujar Marisa.
Baca Juga: Harga Rumah Seken 2025 Hanya Naik 0,7%, Pasar Properti Siap Melompat di 2026
Menurutnya, Lebaran kini tidak sekadar perayaan, tetapi menjadi titik transisi dari penyewa menjadi pemilik aset properti.
Harga Rumah Rp1–3 Miliar Jadi Target Utama Pembeli

(Dok. Rumah123)
Data juga menunjukkan kelas menengah atas memimpin minat pembelian hunian. Sekitar 36% pencari properti menargetkan rumah dengan harga Rp1–3 miliar, menjadikannya segmen paling dominan di pasar.
Minat ini didorong oleh kombinasi dana Tunjangan Hari Raya (THR) dan akses pembiayaan melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Rumah123 menyarankan masyarakat mulai mengalokasikan sekitar 30% THR sebagai dana uang muka (DP) rumah.
Strategi ini dianggap realistis untuk menutup kebutuhan DP, terutama bagi rumah di kawasan penyangga kota besar.
Baca Juga: Properti Tangerang Kuasai 56% Pasar Rumah Jabodetabek, Gading Serpong Jadi Magnet Hunian
Dari sisi lokasi, wilayah Tangerang mencatat tingkat pencarian tertinggi sebesar 15,6%, diikuti oleh:
Jakarta Selatan: 11,5%
Jakarta Barat: 9,5%
Bandung: 7,3%
Pergerakan ini menunjukkan konsumen mulai mencari hunian dengan harga lebih rasional di daerah penyangga metropolitan.
Konsumen Prioritaskan Rumah dengan Taman
Selain harga dan lokasi, konsumen juga semakin selektif terhadap kualitas hunian. Fasilitas taman menjadi filter pencarian paling populer dengan 71,5%, jauh melampaui fasilitas lainnya.
Baca Juga: Di Tengah Pasar Moderat, Gading Serpong Tetap Jadi Pilihan Rasional Investor Properti
Sebagai perbandingan:
Lapangan bulu tangkis: 16,7%
Kolam renang: 6,7%
Preferensi ini menandakan perubahan orientasi pembeli rumah yang kini lebih menekankan kualitas hidup dan ruang terbuka privat.
Marisa menambahkan, “Konsumen kini semakin rasional; mereka mencari keseimbangan antara harga, akses, dan kualitas hidup melalui ruang terbuka privat.”
Bagi pengembang, tren ini menjadi sinyal penting bahwa proyek hunian yang menawarkan konsep ruang terbuka dan lingkungan hijau memiliki daya tarik lebih besar.
Baca Juga: BSPS Kalbar Melonjak, Kuota Rumah Subsidi Capai 22.000 Unit
Catatan Penting bagi Calon Pembeli Rumah

(Dok. Rumah123)
Meski tren permintaan meningkat setelah Lebaran, calon pembeli tetap perlu memperhatikan beberapa risiko sebelum mengambil keputusan.
Pertama, kenaikan permintaan pascalebaran sering memicu kompetisi antar pembeli sehingga harga rumah bisa naik lebih cepat.
Kedua, kemampuan cicilan harus dihitung secara realistis, terutama jika mengandalkan KPR jangka panjang.
Ketiga, pembeli perlu memastikan legalitas properti dan reputasi pengembang sebelum melakukan pembayaran uang muka.
Baca Juga: Tenor Cicilan Rumah Subsidi 30 Tahun: Solusi Bebaskan MBR dari Cicilan Mahal!
Dengan perencanaan finansial yang matang, momentum pascalebaran justru bisa menjadi waktu yang tepat untuk mulai berinvestasi di sektor properti.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com





