Thursday, February 9, 2023

Ajak Developer Bersinergi, SD Darmono: Kawasan Industri Itulah Container dan Developer Itulah Content

“Tanah enggak usah beli, tinggal kerja sama. Yang punya teknologi adalah real estate, bangun konstruksi yang murah, yang cantik dan berkualitas. Tetapi yang menciptakan pasar adalah kawasan industri,” SD Darmono.

- Advertisement -

PropertiTerkini.com, (JAKARTA) – Berbagai sektor industri terpukul sejak wabah Covid-19 menyebar di Tanah Air. Demikian halnya kawasan industri, termasuk pengembangan area hunian di dalamnya. Namun, Setyono Djuandi Darmono (SD Darmono), Founder & Chairman Jababeka menilai, ada jenis industri tertentu yang terdampak namun lebih banyak yang tumbuh.

Kawasan industri terbagi menjadi beberapa bidang. Ada penjualan lahan dan pabrik, tetapi juga di dalam kawasan tersebut ada infrastruktur, misalnya jualan listrik, jualan air, maintenance, dan lain-lain. Kemudian ada juga bagian residensial, seperti rumah hunian, rumah sakit, sekolah,” terang SD Darmono dalam webinar yang diselenggarakan oleh PropertyGuru Indonesia Property Awards, Rabu (29/7/2020) lalu.

Baca Juga: Properti Adalah Industri Strategis, Pemerintah Tutup Mata?

Untuk kebutuhan pabrik dan bahannya, kata Darmono, sebetulnya tidak begitu terdampak, karena masih terus terjadi transaksi, terutama di bidang-bidang yang industrinya bagus. Industri pun dibagi dalam tiga kelompok. Ada 30 persen atau sepertiga yang mengalami problem, misalnya karena terkena dampak PSBB, seperti industri otomotif. Tetapi ada industri lainnya seperti makanan dan obat-obatan yang justru meningkat.

“Jadi ada sepertiga yang terkena dampak, sepertiga justru meningkat, sepertiga transform, misalnya ada pabrik-pabrik UKM atau yang ukuran satu hektar, mereka bisa segera menyesuaikan diri. Misalnya sepeda yang saat ini booming maka mereka meningkatkan produksinya sampai tiga kali lipat,” ungkap Darmono.

Lebih lanjut menurut dia, jika industri-industri tersebut terus tumbuh maka imbasnya pada penjualan hunian di sekitarnya.

Darmono optimis, recovery akan berjalan cepat seiring dengan pengendoran PSBB oleh pemerintah.

Baca Juga: Benarkah, Wilayah Timur Jakarta Bangkit Lebih Cepat?

“Saya tidak pesimis kalau dibilang kawasan industri harusnya menjadi motor penumbuhan ekonomi yang paling cepat. Di dalam industri yang paling penting adalah infrastruktur, kalau infrastruktur lengkap, keamanan terjamin, kepastian hukum terjamin itu adalah 90% investment risk,” tegas SD Darmono.

Wisata Bergeliat

Keyakinan SD Darmono akan bangkitnya kawasan industri juga terlihat dari bergeliatnya sektor pariwisata.

Untuk diketahui, tidak hanya di Cikarang, Jababeka juga mengembangkan beberapa kawasan lain seperti di Kendal (Jawa Tengah) dan Morotai (Maluku Utara) serta di Tanjung Lesung (Banten).

Khusus di Tanjung Lesung sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Jababeka juga turut berkontribusi, termasuk dalam sektor pariwisata. Darmono melihat, sektor pariwisata kini mulai tumbuh, terutama yang masih dalam jangkauan mengemudi/berkendara dari Jakarta. Dari Jakarta ke Tanjung Lesung hanya memakan waktu sekitar 3 – 4 jam.

Baca Juga: Jababeka Pasarkan Rumah Sehat Dua Lantai Rp300 Jutaan

Hotel kami di sana saat justru penuh dengan ekspatriat yang tinggal di Jakarta. Anomaly bawa hotel lain kosong sementara hotel di Tanjung Lesung penuh. Bahkan harganya naik karena yang ngisi adalah orang-orang ekspatriat yang punya uang. Dan banyak homestay milik rakyat di sana juga sangat laku,” terangnya.

Kolaborasi dengan Pengembang

Lebih jauh terkait pengembangan kawasan industri, Darmono optimis akan terus berkembang pesat. Untuk inilah dia mengajak para pengembang properti agar berkolaborasi, bersama mengembangkan kawasan tersebut.

“Tanahnya sudah ada, infrastruktur lengkap, pasarnya kita yang ciptakan. Jadi sebetulnya tidak ada hal yang harus berkompetisi di sini, tetapi kolaborasi. Kawasan industri itulah container dan real estate developer itulah content. Kita saling membutuhkan,” katanya.

“Enggak usah beli, tinggal kerja sama. Yang punya teknologi adalah real estate, bangun konstruksi yang murah, yang cantik dan berkualitas. Tetapi yang menciptakan pasar adalah kawasan industri,” sambungnya.

Darmono mencontohkan kawasan industri di Cikarang, dimana saat ini sudah ada sebanyak 2.000 pabrik dari 30 negara dengan total karyawan sekitar satu juta.

Baca Juga: Okupansi Hotel Turun Hingga 7 Persen, Ini yang Harus Dilakukan Hotelier

“Jadi kalau mau jualan rumah ke mereka akan mudah sekali. Enggak usah beli tanah tetapi kerja sama. Yang penting pandai dalam bikin konstruksi dengan harga murah, desain arsitekturnya bagus, cepat, cantik, interiornya bagus, harganya menarik,” jelasnya.

Rata-rata pabrik di Cikarang, kata dia usianya sekitar 20 hingga 30 tahun, sehingga kemampuan belinya juga cukup tinggi dan rata-rata adalah middle class.

“Jangan dianggap bahwa kawasan industri itu harga rumahnya murah-murah semua, salah. Dengan adanya berbagai fasilitas yang lengkap di sana orang-orang menengah ke atas pun sudah senang tinggal di sana termasuk para ekspatriat,” ujarnya.

Apalagi, kata dia, kebutuhan akan hunian di Indonesia juga masih cukup besar, karena 40 juta kepala keluarga belum punya rumah.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

BERITA TERBARU