PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Industri hotel sedang berubah, pelan tapi pasti, dan arah perubahannya makin jelas dalam beberapa tahun terakhir. Sustainability bukan tren lagi, tapi kini menjadi standar baru hotel bintang lima—dan perubahan ini mulai terasa nyata di Jakarta.
Dulu, konsep ramah lingkungan sering ditempatkan sebagai nilai tambah. Sekarang, justru mulai bergeser menjadi ekspektasi dasar. Tamu tidak hanya mencari kamar nyaman atau layanan premium, tapi juga ingin tahu bagaimana hotel tersebut beroperasi—apakah bertanggung jawab terhadap lingkungan dan komunitas.
Baca Juga: 5 Keuntungan Gedung Bersertifikasi Hijau: Solusi Hemat Biaya dan Kepatuhan ESG
Salah satu contoh yang cukup mencolok datang dari Mandarin Oriental Jakarta, salah satu hotel yang berada dalam naungan Astra Property.
Dalam waktu lima bulan, hotel ini mengantongi lima penghargaan keberlanjutan, mulai dari sertifikasi global hingga pengakuan nasional. Bukan sekadar pencapaian angka, tapi menunjukkan konsistensi yang tidak instan.
“Yang kami lakukan setiap hari, mulai dari dapur, ruang meeting, hingga program komunitas, semuanya terhubung pada satu prinsip yang sama,” ujar Christian Wildhaber, General Manager Mandarin Oriental Jakarta.
Ia menegaskan bahwa menjaga lingkungan dan komunitas bukan lagi tambahan, melainkan bagian dari operasional sehari-hari.
Perubahan seperti ini tidak berdiri sendiri. Ia datang bersamaan dengan meningkatnya tekanan global terhadap praktik ESG (Environmental, Social, Governance), sekaligus meningkatnya kesadaran konsumen yang kini lebih kritis dalam memilih.
Dari Sertifikasi hingga Pengalaman Nyata di Balik Layar
Kalau hanya berhenti di sertifikat, mungkin cerita ini tidak terlalu menarik. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Mandarin Oriental Jakarta memulai dari standar global seperti Global Sustainable Tourism Council (GSTC), yang menilai aspek lingkungan, sosial, hingga tata kelola.
Lalu berlanjut ke level regional melalui ASEAN Green Hotel Standard 2026–2028, dengan indikator yang tidak ringan—mulai dari efisiensi energi, pengelolaan limbah, sampai keterlibatan komunitas.
Baca Juga: 5 Alasan Mixed-Use Development Jadi Strategi Bisnis Modern, The Arumaya Jawab Tren Near Me Economy
Namun yang terasa berbeda adalah bagaimana semua itu diterjemahkan ke pengalaman tamu.
Program seperti Mindful Meetings, misalnya, mencoba mengubah cara orang melihat meeting. Tidak lagi sekadar formal dan melelahkan, tapi dibuat lebih seimbang—dengan elemen wellness, menu sehat, hingga suasana yang lebih tenang. Terlihat sederhana, tapi sebenarnya mencerminkan perubahan cara berpikir.
Di sisi lain, praktik di dapur juga ikut berubah. Produk laut yang digunakan berasal dari sumber berkelanjutan, sementara bahan seperti kopi, teh, dan kakao sudah memiliki sertifikasi Rainforest Alliance atau Fairtrade. Bahkan penggunaan kertas pun sudah mengacu pada standar FSC.
Hal-hal seperti ini sering tidak terlihat langsung oleh tamu. Tapi justru di situlah letak perubahannya—lebih dalam, lebih sistemik.
Dampaknya ke Konsumen dan Arah Baru Industri
Bagi konsumen, dampak perubahan ini mungkin tidak selalu terasa secara eksplisit. Tidak ada label besar di kamar yang menjelaskan semuanya. Tapi perlahan, pengalaman menginap menjadi berbeda.
Baca Juga: Schneider Electric Pertahankan Skor ESG Tertinggi: Apa Dampaknya bagi Industri?
Ada kesan bahwa pilihan kita lebih “berarti”. Bahwa kenyamanan yang didapat tidak datang dengan biaya lingkungan yang besar.
Di sisi lain, tren ini juga mulai memengaruhi pasar korporasi. Banyak perusahaan global kini memiliki standar ESG sendiri, termasuk dalam memilih hotel untuk event atau perjalanan bisnis. Artinya, hotel yang tidak mengikuti arah ini berisiko tertinggal.
Namun tentu ada catatan. Implementasi sustainability bukan tanpa biaya. Dibutuhkan investasi pada sistem, rantai pasok, hingga pelatihan sumber daya manusia. Dalam jangka pendek, ini bisa berdampak pada struktur biaya operasional.
Meski begitu, dalam jangka panjang, pendekatan ini justru memperkuat positioning hotel. Bukan hanya sebagai tempat menginap, tapi sebagai brand yang relevan dengan masa depan.
Sustainability, Bukan Lagi CSR, Tapi Sudah Masuk Strategi Inti
Baca Juga: Keberlanjutan Jadi Strategi Bisnis: 48% Perusahaan Indonesia Manfaatkan AI Hadapi Tantangan Ekonomi

Yang menarik, sustainability di sini tidak lagi berdiri sebagai program CSR yang terpisah. Ia sudah masuk ke dalam sistem manajemen.
Kinerja keberlanjutan dipantau melalui platform independen, diaudit secara berkala, dan bahkan terhubung langsung dengan KPI manajemen senior.
Artinya jelas—ini bukan sekadar inisiatif, tapi sudah menjadi bagian dari target bisnis.
Pendekatan seperti ini memperlihatkan arah baru industri perhotelan di Indonesia. Bahwa pertumbuhan dan tanggung jawab tidak lagi harus dipertentangkan.
Baca Juga: Harga Rumah Jakarta Makin Jomplang, Selisihnya Tembus 3 Kali Lipat
Dan jika melihat kecepatannya, perubahan ini kemungkinan besar akan menyebar. Bukan hanya di hotel, tapi juga ke sektor properti lain.
Karena pada akhirnya, sustainability bukan lagi soal siapa yang paling cepat memulai—tapi siapa yang bisa bertahan ketika itu menjadi standar.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com




