PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Nuanu Creative City konsisten mewujudkan ekosistem kota terintegrasi dan paling kreatif di Bali dengan kemajuan nyata. Melalui Nuanu Real Estate terus mempercepat pengembangan proyek real estate di Bali dengan menargetkan lebih dari 400 unit hunian dan hospitality siap serah terima pada 2027, seiring meningkatnya minat investor dan penghuni terhadap kawasan berbasis komunitas dan gaya hidup.
Kawasan seluas 44 hektare di pesisir barat Bali ini dirancang sebagai kota kreatif yang mengintegrasikan hunian, pendidikan, seni, teknologi, hingga fasilitas gaya hidup dalam satu ekosistem. Model pengembangan seperti ini mulai menjadi tren baru di sektor properti global, di mana nilai kawasan dinilai lebih penting dibanding sekadar bangunan rumah.
Baca Juga: X Hotel: Hotel Pertama di Nuanu Buka 41 Unit Investasi Mulai Rp2,6 Miliar
Saat ini, pengembangan real estate di kawasan Nuanu mencakup 12 proyek residensial dan satu hotel investasi, dengan kombinasi skema kepemilikan freehold dan leasehold. Secara total, pengembang menyiapkan sekitar 102 unit freehold dan 396 unit leasehold yang akan dipasarkan kepada investor maupun penghuni.
CEO Nuanu Creative City Lev Kroll mengatakan bahwa pengembangan kawasan ini tidak hanya berfokus pada pembangunan hunian, tetapi juga menciptakan ekosistem kehidupan yang terintegrasi.
“Nuanu sejak awal tidak dirancang sebagai sekadar proyek pengembangan properti biasa. Visi kami adalah membangun tempat tinggal terbaik, dengan infrastruktur gaya hidup, pendidikan, dan komunitas yang mendukung kehidupan sehari-hari,” ujarnya kepada media di Jakarta, Senin (9/3/2026).
Nuanu Creative City dan Tren Baru Hunian Berbasis Ekosistem
Konsep kota kreatif yang dikembangkan Nuanu mencerminkan perubahan tren di sektor properti global. Jika sebelumnya pembeli hanya mempertimbangkan bangunan rumah, kini banyak orang mulai mempertimbangkan lingkungan dan komunitas di sekitarnya.
Baca Juga: Tren Investasi Properti di Bali Bergeser, Kawasan Nyanyi Tawarkan Keuntungan Investasi Tinggi
Head of Corporate Communications Nuanu Real Estate Reyni Wullur menjelaskan bahwa faktor kawasan kini menjadi pertimbangan utama dalam memilih tempat tinggal.
“Saat ini keputusan memilih tempat tinggal tidak lagi ditentukan pada bangunannya saja. Faktor terbesar adalah lingkungan sekitar dan siapa yang menjadi komunitas di dalamnya,” kata Reyni.
Karena itu, pengembangan kawasan dilakukan secara paralel antara hunian dan fasilitas pendukung seperti area seni, ruang publik, pendidikan, hingga fasilitas komersial.
Nuanu juga membatasi pembangunan hanya sekitar 30% dari total lahan, sementara sisanya dipertahankan sebagai ruang hijau dan area aktivitas komunitas. Pendekatan ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan lingkungan.
Seiring perkembangan proyek residensial dan fasilitas kawasan, komunitas di Nuanu juga mulai terbentuk. Pengembang menyebutkan bahwa sekitar 1.000 orang saat ini sudah tinggal dan beraktivitas di kawasan Nuanu, baik sebagai penghuni, pekerja, maupun bagian dari komunitas kreatif yang terlibat dalam berbagai kegiatan di dalam kawasan tersebut.
Baca Juga: Zumana Beach Club Bali, Destinasi Tepi Pantai Baru di Pantai Kuta
Selain itu, kawasan ini telah menjadi lokasi berbagai kegiatan internasional, mulai dari festival seni hingga konferensi global, yang turut mendorong pertumbuhan komunitas kreatif di dalamnya.

Proyek Hunian dan Hotel Investasi yang Sedang Dikembangkan Nuanu Real Estate
Beberapa proyek hunian yang sedang dikembangkan di kawasan ini memiliki konsep yang berbeda-beda, mulai dari hunian berbasis komunitas hingga vila yang terintegrasi dengan alam.
Salah satu proyek terbaru adalah Flower Estates, hunian freehold bagi warga negara Indonesia yang menawarkan vila dua hingga tiga kamar tidur dengan taman privat. Unitnya memiliki luas sekitar 106–135 meter persegi dengan konsep taman privat yang terintegrasi dengan lanskap tropis Bali.
Proyek yang dikembangkan bersama Nuanu Nature Team ini dipasarkan mulai sekitar Rp8,4 miliar hingga Rp9,9 miliar per unit, dengan target serah terima pada 2027.
Baca Juga: Wellness Living Kian Menguat di Canggu, Echovista Tangkap Tren Lewat 35 Unit Villa
Selain itu terdapat Black Sands Oasis, proyek hunian berstatus leasehold yang menawarkan pilihan studio hingga vila 1–4 kamar tidur. Ukuran unitnya berkisar 31–159,8 meter persegi, dengan harga mulai sekitar Rp1,8 miliar hingga Rp7,9 miliar. Proyek ini direncanakan selesai dan mulai diserahterimakan pada kuartal pertama 2028.
Nuanu juga menghadirkan The Sense, hunian berbasis komunitas yang dirancang untuk kreator, entrepreneur, dan profesional global. Pilihan unitnya cukup beragam, mulai dari studio, suites, penthouse hingga vila lima kamar tidur, dengan luas unit sekitar 55,6–600 meter persegi.
Harga unit dipasarkan mulai sekitar Rp2,6 miliar hingga Rp35,2 miliar, dengan target serah terima pada kuartal keempat 2027.
Sementara itu, proyek hospitality yang dikembangkan adalah X Hotel, hotel investasi pertama di kawasan Nuanu. Properti ini menawarkan 41 unit kamar hotel dengan ukuran sekitar 37–62 meter persegi.
Baca Juga: 130 Kamar Hotel Indigo Bali Ubud Siap Sambut Tamu pada 2027
Harga unit dipasarkan mulai Rp2,8 miliar hingga Rp3,9 miliar, dengan target operasional pada kuartal pertama 2027.
Menurut Reyni, proyek hotel ini dirancang untuk memanfaatkan pertumbuhan pariwisata Bali sekaligus meningkatkan nilai kawasan bagi para pemilik properti.
Sutala dan Penguatan Ekosistem Lifestyle Nuanu

Selain pengembangan hunian, Nuanu juga tengah menyiapkan proyek Sutala, distrik kuliner dan gaya hidup yang akan menjadi pusat aktivitas sosial di kawasan tersebut.
Distrik ini dirancang menghadirkan lebih dari 60 tenant dengan dominasi konsep food and beverage (F&B) yang dikurasi secara khusus untuk menciptakan pengalaman kuliner yang berbeda dibanding pusat perbelanjaan konvensional.
Sutala dibangun di atas area sekitar 17.000 meter persegi dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2026.
Menurut Fransiskus Conrad, Director of Sutala, kehadiran distrik kuliner ini penting untuk menciptakan ekosistem kawasan yang hidup, di mana penghuni, wisatawan, dan komunitas kreatif dapat berkumpul dalam satu ruang sosial.
Baca Juga: Rusun Subsidi Meikarta Rp16 Triliun Dimulai: Target 141.000 Unit, Dorong Program 3 Juta Rumah
Konsep ini sejalan dengan perubahan tren pusat komersial modern yang kini lebih menekankan pengalaman, komunitas, dan interaksi sosial dibanding sekadar aktivitas belanja.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com




