PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Kampung Nelayan Muara Angke kini menjadi salah satu fokus perhatian serius pemerintah dalam upaya transformasi kawasan pesisir yang lebih manusiawi dan terstruktur.
Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Fahri Hamzah, menegaskan bahwa penataan ini bukan sekadar perbaikan fisik, melainkan upaya menjawab isu krisis hunian layak di wilayah pesisir Jakarta Utara.
Baca Juga: Kementerian PKP Percepat Pembangunan Huntap Bagi Masyarakat Terdampak Bencana di Sumatera
Fokus utama penataan ini menyasar masyarakat nelayan yang selama ini tinggal di kawasan dengan sanitasi terbatas dan risiko banjir rob yang tinggi.
Langkah ini dianggap sangat krusial saat ini mengingat perlunya perlindungan bagi masyarakat pesisir dari dampak perubahan iklim dan penurunan muka tanah.
Pentingnya penataan ini berkaitan langsung dengan keberlanjutan ekonomi lokal, dimana masyarakat tidak boleh dipisahkan dari laut sebagai ladang utama mereka.
Dengan kondisi eksisting yang cukup padat, pemerintah berupaya menghadirkan hunian yang tidak hanya kokoh tetapi juga memiliki estetika perkotaan yang modern tanpa menghilangkan kearifan lokal.
Penataan terpadu ini diharapkan mampu menghilangkan kesan kumuh yang selama ini melekat pada kawasan tersebut.
Selain itu, aspek kesehatan lingkungan menjadi catatan penting yang harus diselesaikan dalam proyek penataan kawasan strategis ini.
Mengenai nilai investasi atau harga hunian, pemerintah terus melakukan pengkajian mendalam agar skema yang ditawarkan tidak memberatkan masyarakat nelayan berpenghasilan rendah.
Meski angka pastinya masih dalam tahap sinkronisasi dengan kementerian terkait, fokus utamanya adalah aksesibilitas dan keberlanjutan pembiayaan.
Risiko utama yang diwaspadai dalam proyek ini adalah koordinasi antar-lembaga dan adaptasi masyarakat terhadap bentuk hunian baru.
Oleh karena itu, pendekatan persuasif menjadi kunci utama agar program ini berjalan lancar dan diterima sepenuhnya oleh warga setempat.
Implementasi Rumah Panggung di Kampung Nelayan Muara Angke
Konsep rumah panggung bertingkat di Kampung Nelayan Muara Angke dinilai sebagai solusi paling rasional untuk menghadapi dinamika geografis di Jakarta Utara.
Fahri Hamzah menjelaskan bahwa rumah panggung memungkinkan adanya ruang terbuka di bagian bawah yang bisa difungsikan untuk berbagai kegiatan sosial maupun ekonomi.
Selain itu, desain vertikal ini merupakan jawaban atas terbatasnya lahan di pesisir Jakarta yang sudah sangat padat oleh bangunan semi-permanen.
Dengan menaikkan lantai bangunan, risiko kerusakan barang akibat pasang air laut atau banjir rob dapat diminimalisir secara signifikan.
Baca Juga: 5 Cara Menata Rumah agar Tetap Nyaman Sepanjang Musim Perayaan
“Konsep rumah panggung bertingkat lebih memungkinkan diterapkan di kawasan ini. Selain lebih tertata, ruang di bawahnya bisa dimanfaatkan dan akses lingkungan juga bisa diatur dengan lebih baik,” ujar Fahri saat meninjau langsung kondisi di lapangan.
Ia menambahkan bahwa pembangunan di kawasan pesisir harus memiliki keberpihakan yang nyata kepada rakyat kecil.
Menurutnya, rumah panggung adalah jembatan antara kebutuhan modernitas perkotaan dengan karakter budaya pesisir Indonesia yang sudah mengakar kuat sejak lama.
Fahri juga menekankan bahwa masyarakat pesisir tidak bisa dijauhkan dari ruang hidupnya atau direlokasi terlalu jauh ke daratan karena akan mematikan mata pencaharian mereka.
“Masyarakat pesisir tidak bisa dijauhkan dari ruang hidupnya. Rumah panggung menjadi solusi yang sesuai dengan karakter kawasan dan budaya pesisir Indonesia,” tegasnya.
Dengan konsep ini, akses mobilitas nelayan untuk menuju kapal atau dermaga tetap terjaga, namun dengan lingkungan tempat tinggal yang jauh lebih sehat dan rapi dibandingkan kondisi saat ini.
Integrasi lintas sektor menjadi prasyarat mutlak agar penataan ini tidak berjalan setengah-setengah atau ego sektoral.
Baca Juga: Samera Djohor Hadirkan Damara 2, Hunian Bebas Banjir di Medan dengan Nilai Investasi Tinggi
Kementerian PKP berencana melakukan koordinasi intensif dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mensinkronkan program ini dengan inisiatif yang sudah ada.
Salah satu rencana besarnya adalah mengintegrasikan penataan rumah panggung ini dengan program Kampung Nelayan Merah Putih.
Sinergi ini diharapkan menciptakan ekosistem hunian yang lengkap dengan fasilitas pengolahan ikan, sanitasi komunal, dan ruang terbuka hijau yang memadai.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com




