PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Hunian sehat semakin menguat sebagai kata kunci utama dalam pasar properti nasional menuju 2026.
Preferensi konsumen tidak lagi berhenti pada lokasi strategis dan harga kompetitif, tetapi telah bergeser pada kualitas hidup harian yang ditawarkan sebuah kawasan hunian.
Baca Juga: Free PPN 2026 Jadi Momentum, Paramount Land Hadirkan Promo Properti di Dua Kawasan Unggulan
Konsep healthy living kini bukan sekadar nilai tambah, melainkan faktor penentu keputusan beli maupun sewa.
Ketua DPP Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI), Clement Francis, menegaskan bahwa konsumen properti saat ini jauh lebih rasional dan selektif. Mereka menilai hunian sebagai ekosistem hidup, bukan hanya bangunan tempat tinggal.
“Preferensi konsumen bergeser dari sekadar lokasi dan harga menjadi kualitas hidup harian. Isu udara, kenyamanan ruang, sampai walkability sekarang menjadi bahan pertimbangan utama,” ujar Clement kepada PropertiTerkini.com.
Perubahan Preferensi Konsumen: Dari Lokasi ke Kualitas Hidup
Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi pergeseran fundamental dalam cara konsumen memilih hunian.
Dari perspektif broker, Clement melihat konsumen semakin sensitif terhadap aspek yang langsung berdampak pada keseharian.
Baca Juga: PPN DTP 2026 Jadi Penentu Arah Pasar Hunian, Konsumen Makin Selektif
Kualitas udara dan kenyamanan termal menjadi sorotan, termasuk ventilasi silang dan pencahayaan alami yang membuat hunian tidak pengap.
Layout ruang yang memungkinkan aktivitas fisik ringan di rumah juga makin dicari, terutama sejak tren kerja hybrid berkembang.
Selain itu, lingkungan yang hijau dan tenang menjadi nilai jual penting. Kehadiran ruang terbuka hijau yang nyata—bukan sekadar elemen dekoratif—memberikan rasa sehat secara fisik dan mental.
Akses gaya hidup pun berubah, di mana konsumen menginginkan hunian yang memungkinkan aktivitas harian tanpa ketergantungan penuh pada kendaraan pribadi.
Konsep Hunian Sehat Makin Menentukan Minat Beli dan Sewa, Konsumen Makin Kritis
Pengaruh konsep hunian sehat terhadap minat pasar dinilai semakin signifikan, terutama di kalangan keluarga muda urban dan segmen menengah-atas.
Baca Juga: Properti Makassar Naik 1,7%, Jadi Bintang Pasar Rumah di Luar Jawa Akhir 2025
Untuk pasar sewa, fasilitas olahraga dan ruang hijau sering menjadi “deal maker”.
Penyewa menginginkan solusi praktis: tinggal di tempat yang langsung mendukung gaya hidup sehat tanpa perlu usaha ekstra.
Sementara untuk pembelian, konsep ini memperkuat keyakinan jangka panjang terkait tumbuh kembang anak, produktivitas, dan kualitas tidur.
“Healthy living sekarang bukan bonus lagi, tapi sudah menjadi alasan utama memilih hunian,” kata Clement.
Jika dulu pertanyaan konsumen sebatas “ada taman atau tidak”, kini pertanyaannya jauh lebih teknis.
Mereka ingin memastikan apakah kawasan benar-benar bisa digunakan untuk jogging, apakah trotoar aman dan fungsional, hingga apakah pencahayaan malam mendukung aktivitas luar ruang.

Fasilitas olahraga pun diuji secara realistis. Konsumen menilai apakah gym dan kolam renang benar-benar terawat dan digunakan, atau hanya sekadar gimmick pemasaran.
Hal ini menandakan meningkatnya literasi properti di kalangan pembeli dan penyewa.
Dari pengalaman pasar, terdapat beberapa fitur yang paling cepat menarik perhatian konsumen.
Walkability dan akses kebutuhan harian seperti minimarket, sekolah, dan transportasi publik menjadi prioritas utama.
Ruang hijau yang fungsional—bukan simbolik—juga sangat berpengaruh, disusul fasilitas olahraga yang benar-benar usable.
Pencahayaan serta ventilasi alami menambah nilai kenyamanan, sementara aspek keamanan menjadi prasyarat agar aktivitas luar ruang dapat dinikmati dengan tenang.
Dampak Hunian Sehat terhadap Nilai Jual dan Pasar Sekunder
Baca Juga: Harga Rumah Sekunder Naik 0,2% di Akhir 2025, Ini 7 Fakta Penting Pasar Properti Indonesia
Di pasar sekunder, hunian berkonsep sehat cenderung memiliki likuiditas lebih baik, selama kualitas pengelolaan kawasan konsisten. Kebersihan, keamanan, dan perawatan fasilitas menjadi faktor krusial.
Jika hanya mengandalkan jargon tanpa bukti fisik dan operasional, dampaknya terhadap harga relatif terbatas.
Namun secara tren, properti hijau dan sehat menunjukkan permintaan yang terus meningkat dan menjadi faktor pembeda di tengah pasar yang kompetitif.
Hunian yang mendukung gaya hidup sehat juga dinilai lebih tahan terhadap perlambatan pasar karena value-nya bersifat kebutuhan, bukan sekadar gaya.
Target pasarnya luas, mulai dari keluarga, pekerja hybrid, hingga tenant korporat.
Meski demikian, Clement mengingatkan bahwa harga tetap harus rasional dan kualitas pengelolaan tidak boleh dikompromikan. Saat daya beli mengetat, konsumen justru semakin selektif.
Baca Juga: Strategi KPR Pasutri Baru: 5 Langkah Cerdas Atur Keuangan demi Rumah Pertama
Pandangan 2026: Mixed-Use dan Hunian Terintegrasi Jadi Favorit

Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menyoroti bahwa di kota besar seperti Surabaya, hunian yang paling diminati adalah yang terintegrasi dalam mixed-use development.
Apartemen yang menyatu dengan pusat perbelanjaan, perkantoran, dan fasilitas komersial menawarkan kemudahan akses aktivitas harian.
“Produk hunian yang satu kesatuan dengan komersial cukup diminati karena kemudahan akses untuk aktivitas sehari-hari,” jelas Ferry.
Menurutnya, konsep ruang terbuka hijau tetap penting, meskipun keterbatasan lahan di kota besar membuat penerapannya selektif.
Dari perspektif riset pasar, hunian modern yang mendukung gaya hidup sehat memiliki daya tarik dan ketahanan nilai yang lebih baik, khususnya di segmen menengah-atas.
Baca Juga: Cat Heatgard Hadirkan Ruang Belajar Lebih Sejuk di Pandeglang, Suhu Turun hingga 20°C
Namun, Ferry mengingatkan bahwa penerapan konsep ideal ini berimplikasi pada harga.
Tidak semua segmen dapat mengadopsinya secara penuh karena biaya fasilitas turut masuk dalam harga unit.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com




