BERITA TERKAIT

TRINLAND Akuisisi Prime Land: Targetkan 3 Sumber Pendapatan Berulang dari Sektor Hospitality

Langkah ekspansi ini mengarah pada perubahan model bisnis developer menuju income jangka panjang. Sektor villa dan co-living mulai dilihat sebagai mesin pertumbuhan baru.

PropertiTerkini.com(JAKARTA) — Pasar properti perlahan berubah arah. Tidak lagi sepenuhnya bergantung pada penjualan unit, beberapa pengembang kian serius masuk menggarap model bisnis yang lebih panjang napasnya.

Salah satu langkah yang cukup terasa datang dari PT Perintis Triniti Properti Tbk atau TRINLAND (IDX: TRIN) yang mengakuisisi Prime Land, melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada awal Rabu (8/4/2026).

Baca Juga: Triniti Land-Artotel Teken MoU Strategis, Target Rp1,5 Triliun Recurring Revenue dalam 10 Tahun

Rencana pengambilalihan saham mayoritas ini menjadi bagian dari upaya memperluas portofolio ke sektor hospitality—mulai dari villa hingga co-living. Area yang beberapa tahun terakhir berkembang cukup cepat, terutama di destinasi seperti Bali dan Yogyakarta.

Di titik ini, arah bisnis developer mulai terlihat bergeser. Bukan hanya menjual produk, tetapi juga menjaga agar produk tersebut terus menghasilkan.

Akuisisi Prime Land, Arah Baru TRINLAND ke Recurring Income

TRINLAND secara terbuka menargetkan penguatan pendapatan berulang (recurring income) melalui ekspansi ini, sekaligus memperbaiki kualitas revenue secara keseluruhan.

Pergeseran ini terasa logis. Penjualan properti cenderung fluktuatif, sangat bergantung pada kondisi ekonomi dan daya beli. Sementara model berbasis sewa atau operasional menawarkan arus kas yang lebih stabil, meski membutuhkan pengelolaan yang lebih kompleks.

Baca Juga: Masuknya Rahayu Saraswati, TRINLAND Pacu Logistic Park, Data Center, dan Ultra Luxury Hospitality di 2026

“Kami melihat kinerja Prime Land yang sangat baik selama ini, baik dari sisi pengembangan produk yang inovatif maupun penerimaan pasar yang kuat. Atas dasar itu, terdapat keyakinan bagi kami untuk melakukan ekspansi bisnis ke sektor hospitality dan target market baru melalui rencana akuisisi ini. Kami optimistis langkah ini akan memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan TRINLAND ke depan, termasuk dalam memperkuat recurring income dan kualitas revenue kami,” ujar Ishak Chandra, Group CEO TRINLAND melalui keterangan resminya.

Kalimat tersebut menggambarkan satu hal sederhana, developer mulai ingin memiliki “mesin uang” yang tetap berjalan, bahkan setelah proyek selesai dijual.

Secara sederhana, ada tiga sumber pendapatan berulang yang mulai dibangun dari model ini, yaitu pendapatan sewa dari unit hospitality, fee pengelolaan properti, serta kombinasi penjualan unit yang tetap diikuti dengan pengelolaan operasional jangka panjang.

Adapun Prime Land masuk dalam kategori developer yang bermain di segmen yang agak berbeda. Fokusnya tidak hanya pada hunian, tetapi juga pengalaman tinggal.

Portofolionya mencakup villa di kawasan wisata serta konsep rumah kos modern yang menyasar profesional muda. Pendekatannya cukup jelas—menggabungkan fungsi tempat tinggal dengan gaya hidup yang lebih fleksibel.

Baca Juga: Maison Aela Bali Dorong Transformasi Paradise Indonesia, Dari Lifestyle Destination ke Quiet Luxury

Salah satu proyek yang cukup dikenal adalah Villa Dibali, yang menjadi contoh bagaimana produk hospitality bisa menarik minat pasar lintas segmen, termasuk wisatawan.

“Kami percaya bahwa dengan bergabungnya Prime Land dalam payung grup TRINLAND akan membawa Prime Land ke tahap pertumbuhan yang lebih cepat. Dengan dukungan pengalaman dan kapabilitas TRINLAND selama ini, kami optimistis dapat menciptakan sinergi yang kuat, memperluas jangkauan pasar, serta menghadirkan proyek-proyek berkualitas yang mampu memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan,” tambah Anthony Sudarsono, CEO Prime Land.

Jika dilihat lebih jauh, segmen ini memang sedang berkembang. Hunian kini tidak hanya soal lokasi dan harga, tetapi juga pengalaman dan fleksibilitas penggunaan.

Yield Villa Bali dan Kos Urban Mulai Dilirik

holdwell business park lampung, modern business park
Ilustrasu-Holdwell Business Park sebagai modern business park pertama di Bandar Lampung yang dikembangkan oleh TRINLAND. (Dok. Triniti Land)

Di lapangan, minat terhadap properti berbasis sewa sebenarnya sudah terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Di Bali, pelaku industri menyebut yield villa sewa harian di kawasan seperti Canggu atau Ubud dalam kondisi optimal dapat berada di kisaran 8–12% per tahun, tergantung tingkat okupansi dan pengelolaan.

Sementara di kota-kota besar, konsep kos modern atau co-living menunjukkan angka yang relatif stabil, dengan potensi yield di kisaran 6–10% per tahun. Angka ini lebih rendah, tetapi cenderung konsisten karena ditopang kebutuhan hunian jangka panjang dari pekerja urban.

Data tersebut menjelaskan mengapa sektor ini mulai dilirik developer besar. Ada kombinasi antara pertumbuhan demand, fleksibilitas produk, dan peluang cashflow yang lebih terukur dibandingkan hanya mengandalkan capital gain.

Baca Juga: Gairah Metropolis di Timur Jakarta: 16 Tahun Summarecon Bekasi dan Transformasi Menuju Kota Terpadu Modern

Namun, angka tersebut tetap sangat bergantung pada lokasi, kualitas produk, dan manajemen operasional. Tidak semua proyek otomatis menghasilkan yield optimal.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page