PropertiTerkini.com, (TANGERANG) — Properti kembali diposisikan sebagai instrumen investasi jangka menengah–panjang yang relatif aman pada 2026, seiring proyeksi penurunan suku bunga global dan stabilitas ekonomi domestik.
Isu ini mengemuka dalam acara Wealth Talk: Economic Outlook 2026 yang digelar Daun Karya Property di kawasan Tangerang.
Baca Juga: Stasiun Jatake BSD City Resmi Beroperasi, Dorong Kawasan Terintegrasi Berbasis Transportasi Massal
Diskusi ini menargetkan generasi muda—khususnya Gen Z—yang mulai mempertimbangkan hunian bukan sekadar tempat tinggal, tetapi bagian dari perencanaan keuangan.
Acara tersebut menghadirkan konsultan investasi Reinhard Suryanaga yang memaparkan arah ekonomi global dan Indonesia, termasuk implikasinya terhadap pilihan instrumen investasi seperti emas, ekuitas, dan properti.
Di tengah ketidakpastian global, properti dinilai tetap relevan karena kebutuhan hunian yang berkelanjutan dan potensi stabilisasi biaya kredit.
Bagi pembeli pemula dan investor awal, isu ini penting karena keputusan membeli properti sangat dipengaruhi oleh suku bunga, inflasi, dan prospek ekonomi. Kesalahan membaca siklus dapat berdampak pada beban cicilan dan potensi imbal hasil.
Arah Ekonomi Global 2026: Suku Bunga Turun, Risiko Masih Ada
Dalam paparannya, Reinhard menjelaskan bahwa proyeksi lembaga internasional seperti International Monetary Fund dan World Bank menunjukkan pertumbuhan ekonomi global 2026–2027 berada pada level moderat. Kondisi ini membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter.
Baca Juga: Tumbuh 711%, Produk Komersial Maggiore @ Paramount Gading Serpong Jadi Rebutan Pasar
Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, diperkirakan melanjutkan siklus penurunan suku bunga dengan proyeksi suku bunga acuan di kisaran 3%–3,25%.
Pelemahan pasar tenaga kerja AS dan inflasi yang lebih terkendali menjadi faktor pendorong kebijakan tersebut.
Namun, investor tetap perlu mencermati risiko global. Ketegangan geopolitik, volatilitas harga energi, serta dinamika pasar obligasi global masih berpotensi memicu fluktuasi pasar keuangan.
Bagi properti, risiko ini biasanya berdampak tidak langsung, terutama melalui perubahan biaya pendanaan dan sentimen konsumen.
Ekonomi Indonesia 2026 dan Dampaknya ke Pasar Properti
Untuk Indonesia, outlook 2026 dinilai relatif stabil. Inflasi diperkirakan tetap berada dalam rentang target, sementara suku bunga acuan Bank Indonesia diproyeksikan berada di kisaran 4,25%–4,5%.
Stabilitas ini menjadi sinyal positif bagi sektor properti, khususnya hunian tapak dan rumah pertama.
Kepercayaan konsumen mulai membaik, terutama untuk pembelian barang bernilai besar seperti rumah.
Meski daya beli belum sepenuhnya pulih, tren pemulihan bertahap membuka peluang transaksi yang lebih aktif dibandingkan 2025.
Dalam konteks ini, properti dipandang sebagai instrumen yang mampu melindungi nilai aset dari inflasi sekaligus menyediakan fungsi hunian.
Untuk pembeli rumah pertama, stabilnya suku bunga berarti cicilan lebih terprediksi. Sementara bagi investor, potensi capital gain dan sewa tetap menarik jika memilih lokasi dan harga yang tepat.
Properti sebagai Strategi dan Instrumen Investasi Jangka Panjang
Reinhard menekankan bahwa pada 2026, instrumen investasi yang dinilai potensial meliputi emas, ekuitas, dan properti.
Properti menonjol untuk strategi jangka menengah–panjang karena volatilitasnya relatif lebih rendah dibandingkan saham, serta didukung oleh kebutuhan hunian yang terus meningkat.
Baca Juga: Paradise Indonesia Mantap Jaga Pertumbuhan Double Digit, Fokus Profitabilitas 2026
“Investasi tetap perlu dilakukan secara selektif, dengan properti sebagai salah satu pilihan strategis di tengah potensi penurunan suku bunga,” ujarnya. Selektivitas ini mencakup lokasi, harga, aksesibilitas, dan reputasi pengembang.
Dari sisi risiko, pembeli perlu memperhitungkan biaya tambahan seperti pajak, perawatan, serta kemungkinan perlambatan pasar jika terjadi guncangan ekonomi global.
Properti bukan instrumen likuid; proses jual kembali membutuhkan waktu dan strategi harga yang realistis.
Dorong Literasi Finansial Generasi Muda

Founder Daun Karya Property, Kharolina Lesli, menyatakan bahwa kepemilikan hunian harus dipahami sebagai bagian dari perencanaan keuangan yang sehat.
“Kami ingin mendorong generasi muda untuk mengambil keputusan finansial yang lebih aman dan terencana sejak dini,” ujarnya, seraya menegaskan kampanye #MulaiAmanDariMuda yang digaungkan sejak 2025.
Acara Wealth Talk ini juga menegaskan peran pengembang dalam edukasi pasar, bukan semata penjualan produk.
Baca Juga: Rusun Subsidi Meikarta Masuki Tahap Land Clearing
Literasi finansial dinilai krusial agar generasi muda memahami risiko, tidak sekadar tergiur promo, dan mampu memilih properti sesuai kemampuan.
Sebagai bagian dari acara, Daun Karya Property juga memberikan insentif berupa diskon pembelian unit di proyek Avani Breeze Residence, serta hadiah apresiasi bagi peserta. Meski demikian, inti acara tetap pada edukasi ekonomi dan investasi.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com






