PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Harga rumah sekunder di Indonesia tercatat turun 0,3 persen secara bulanan (month-on-month/MoM) pada Oktober 2025, di tengah inflasi tahunan yang masih berada di level 2,86 persen.
Namun di balik perlambatan tersebut, kawasan industri di koridor timur Jakarta seperti Bekasi hingga Subang justru menunjukkan penguatan minat investor, seiring membaiknya konektivitas dan turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia.
Baca Juga: Green Office di CBD Jakarta 37%, Knight Frank Catat Definisi dan Permintaannya Kian Matang
Data tersebut tertuang dalam Flash Report November 2025 by Rumah123, laporan bulanan yang merangkum pergerakan harga, suplai, serta popularitas lokasi rumah sekunder di 13 kota besar Indonesia.
Berdasarkan Resale Price Index (RPI) Rumah123 dan 99.co, meski secara nasional harga rumah sekunder terkoreksi tipis 0,3 persen MoM, sebanyak tujuh kota masih mencatatkan kenaikan harga bulanan.
Makassar menjadi kota dengan kenaikan tertinggi mencapai 8,4 persen, disusul Bogor 1,3 persen dan Bekasi 0,9 persen.
Secara tahunan (year-on-year/YoY), harga rumah sekunder nasional masih tumbuh 0,3 persen dibandingkan Oktober 2024.
Baca Juga: Tren Properti Akhir 2025: Harga Rumah Stagnan, Konsumen Fokus Kawasan Mobilitas Tinggi
Dari sisi wilayah, Yogyakarta mencatat pertumbuhan tahunan tertinggi sebesar 5,4 persen, diikuti Denpasar 4,1 persen dan Makassar 3,5 persen.
Bekasi hingga Subang Jadi Magnet Investasi Baru
Laporan tersebut juga memperlihatkan pergeseran arah investasi properti ke kawasan penyangga industri.
Koridor industri Bekasi, Karawang, hingga Subang semakin menarik seiring masifnya pembangunan jalan tol, kawasan industri baru, serta masuknya investasi manufaktur, khususnya dari Tiongkok.
Dalam siaran pers Rumah123, disebutkan bahwa harga rumah sekunder di Bekasi naik 0,9 persen secara bulanan dan 1,4 persen secara tahunan, sementara Bogor mencatat kenaikan 1,3 persen MoM dan Tangerang naik 0,5 persen MoM.
Head of Research Rumah123, Marisa Jaya, menilai kawasan industri kini memainkan peran strategis dalam membentuk wajah baru sektor properti nasional.
Baca Juga: Indica Grande Paramount Petals Buka Peluang Bisnis Baru di Kota Mandiri Barat Jakarta
“Pengembang tidak lagi sekadar menjual rumah, tetapi membangun kawasan yang hidup, dengan fungsi residensial, komersial, dan industri yang saling melengkapi,” ujar Marisa.
Menurutnya, meningkatnya mobilitas dan konektivitas antarwilayah mendorong kawasan industri berkembang menjadi ekosistem ekonomi baru yang lebih inklusif dan berorientasi jangka panjang.
Suku Bunga Turun, Momentum Properti Terpadu
Dari sisi makroekonomi, Bank Indonesia pada Oktober 2025 mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen, setelah menurunkannya secara bertahap sejak Oktober 2024.
Penurunan suku bunga ini dinilai memberikan ruang bagi investor dan pengembang untuk kembali agresif, khususnya pada proyek kawasan industri terpadu dan hunian penunjang.
Flash Report mencatat, sejak April hingga Oktober 2025, inflasi konsisten berada di atas pertumbuhan harga rumah tahunan, menandakan pasar properti relatif tertahan namun stabil.
Baca Juga: Strategi Broker Properti Surabaya: 7 Perubahan Perilaku Konsumen yang Mengubah Peta Pasar
Kondisi ini membuka peluang akumulasi aset bagi investor dengan horizon jangka menengah hingga panjang.
Dari sisi minat pencarian (enquiries), Tangerang menjadi lokasi paling populer dengan pangsa 13,7 persen dari total pencarian rumah di Indonesia. Disusul Jakarta Selatan 11,8 persen dan Jakarta Barat 10,8 persen.
Di Jabodetabek, Jakarta Pusat mencatat kenaikan popularitas tertinggi secara bulanan, diikuti Bogor dan Bekasi.
Sementara di luar Jawa, Denpasar menjadi kota dengan peningkatan minat pencarian paling signifikan.

Pasar Melambat, Tapi Tidak Kehilangan Arah
Meski pertumbuhan harga rumah nasional melambat dan berada di bawah inflasi, Rumah123 menilai kondisi pasar masih menunjukkan ketahanan struktural.
Kota-kota dengan basis ekonomi kuat, konektivitas baik, serta dukungan sektor industri dan pariwisata tetap mencatatkan pertumbuhan positif.
Baca Juga: TV Micro RGB 115 Inci Jadi Andalan, Samsung Siapkan 6 Ukuran TV Premium di 2026
Flash Report November 2025 menegaskan bahwa strategi pengembangan kawasan berbasis industri dan mixed-use akan menjadi salah satu motor utama pasar properti ke depan, seiring perubahan perilaku investor dan kebutuhan hunian yang semakin terintegrasi dengan pusat aktivitas ekonomi.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com






