Home Blog Page 804

Ini Dia Solusi Praktis Atasi Air Keruh, Kotor, dan Bau Tak Sedap

0

Dari sekian banyak Hydro yang dipasarkan, ternyata jenis Hydro untuk rumah tangga-lah yang terlaris. Produk tipe ini dipasarkan dengan kisaran harga Rp2,5 juta – Rp12 juta.

“Batik Chic”, Brand Lokal yang Tak Kalah dengan Merek Internasional

0

Produk Batik Chic menerima penghargaan UNESCO Award of Excellence for Handicrafts 2012, atas prestasinya melestarikan warisan Indonesia.

Guruh Sukarno Persada Sasar Pasar Batik Kelas Menengah Atas

0

Produk batik Guruh Sukarno Persada dipasarkan mulai dari Rp800 ribu hingga Rp200 juta.

Simak, Keluarga Sederhana ini Meraup Untung Berlipat dari Bisnis Rumahan

0

OdisFood yang dijalankan dengan kondisi yang serba terbatas, kini omsetnya telah melebihi Rp 10 juta per bulannya.

Taiyo Power Led, Inovasi Solar Energy Besutan Sakaled

1

Flood Light tipe 80W-FL, bisa diaplikasikan di luar ruangan, kantor, hiburan, dan bangunan komersil.
Rata-rata produk LED dari Sakaled dipasarkan dengan harga mulai dari Rp 50an ribu hingga hingga jutaan rupiah. Sementara untuk lampu solar energy, rata-rata dibanderol dengan harga di atas Rp 1 juta hingga puluhan juta rupiah.

Dekor Asia Mendunia dengan Rumah Lipat dan Produk dari Kayu Bekas

0

Rata-rata per bulan Dekor Asia mampu menjual sebanyak 50 unit rumah bambu lipat, sementara pagar bambu yang diekspor 3-4 kontainer per bulan.

Tampil Beda dengan Produk Kontemporer Asli Indonesia

0
Fitria Nahdi, pemilik Nahdi Jewellry yang memroduksi berbagai aksesori dan perhiasan khas Indonesia (Foto: Pius)
Perlengkapan serta aksesoris yang memiliki nilai sejarah dari berbagai wilayah di Indonesia ternyata menjadi sangat menarik jika diracik menjadi ragam perhiasan modern. Produk yang hampir punah ini kini kembali diuntai melalui usaha kreatif (UKM) Nahdi Jewellry.
Begitu banyak jenis perhiasan yang Anda jumpai di pasaran. Tapi, pernahkah Anda melihat atau bahkan mengenakan perhiasan-perhiasan kontemporer yang tentu berbeda dengan lainnya? Ya beda, bentuknya asimetris dengan didesain yang unik, serta menyerupai berbagai perlengkapan dan aksesoris khas dari berbagai daerah di Indonesia.
Perhiasan tersebut, antara lain Mamuli dan Kanatar dari NTT, gelang dan anting dari Batak, anting dari Dayak, kalung dari Aceh. Atau perhiasan dan aksesoris lama lainnya, seperti Anahida, Maraga, Boh’ru, Gondang-gondang, Sangguri, dan sebagainya. Sebagaimana diketahui, produk-produk tersebut biasanya digunakan dalam upacara adat atau pernikahan di daerah.
Nah, bagaimana rasanya ketika Anda mengenakan produk-produk tersebut dalam sebuah acara di lingkup yang lebih modern?
Di tangan Fitria Nahdi, produk-produk bernilai etnik dan sangat bersejarah dari berbagai daerah di Indonesia tersebut ‘disulap’ menjadi produk modern yang tentu mengikuti desain dan gaya masa kini yang modis dan trendi. Anda akan terlihat sangat cantik dan anggun ketika mengenakan ragam macam perhiasan dan aksesoris ini.
“Jadi saya merepro berbagai perhiasan khas dari berbagai daerah di Indonesia yang memang hampir punah dan tidak banyak orang yang tahu soal ini,” ujar Fitria Nahdi, pemilik usaha yang berlabel Nahdi Jewellry ini.
Wanita yang biasa disapa Fitri ini telah menekuni usahanya sejak 2004 silam. Ia mendesain dan merangkai ulang berbagai perhiasan tersebut dengan tren dan gaya masa kini, namun tetap mempertahankan fungsi serta wujud aslinya. Sebut saja untuk corak warna atau ukuran. Dia berani memadukan berbagai warna serta menambahkan beberapa aksesoris tambahan pada beberapa perhiasan hingga terlihat benar-benar modis, dan cantik.
“Jika kita berani tampil beda dengan produk yang bagus, apalagi asli dari Indonesia, pasti banyak orang yang akan mencari produk kita ini,” tegas wanita kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, 6 Juni 1954.
Diakuinya, sebelum memroduksi sebuah produk, terlebih dahulu dia melakukan riset, baik melalui internet, membaca buku, maupun terjun langsung ke wilayah tersebut. “Jadi sebelum saya membuat sebuah produk, terutama produk khas dari sebuah daerah, maka saya juga harus tahu daulu cerita sejarah dibalik produk tersebut,” tutur Fitri sembari mengungkapkan beberapa cerita klasik asal-usul produknya.
“Jadi, saya tidak hanya menjual produk, tapi juga menjual cerita, sehingga pengguna produk ini pun tahu asal-usul atau sejarah, serta fungsi asli dari produk ini,” sambung Fitri yang mengaku nilai lebih tersebut telah menjadikan produk-produknya selalu laris diburu pembeli, terutama kaum hawa.
Perhiasan dan aksesori khas Nusantara, seperti Mamuli dan Kanatar dari NTT, gelang dan anting dari Batak, anting dari Dayak, kalung dari Aceh serta Anahida, Maraga, Boh’ru, Gondang-gondang, Sangguri, dan sebagainya.
Dikatakannya, khusus untuk produk-produk khas dari daerah langsung dikerjakan oleh para pengerajin di daerah asal produk itu. Ini, lantaran menurut dia, hasilnya akan lebih baik karena pengerajin lokal lebih mengetahui dan memahami arti dari produk tersebut.
“Saya cuma memberikan sedikit gambaran, selanjutnya mereka yang mengerjakannya sendiri. Ini juga kan membantu meningkatkan ekonomi keluarga mereka,” sebut ibu 2 putra dan 1 putri ini.
Untuk bahan baku, sebut istri Pilot Penerbang Garuda Indonesia, Handiarto ini, apapun bisa digunakan, termasuk bahan baku yang ‘aneh’.
“Apa saja yang ada di sekitar saya bisa dijadikan sebuah perhiasan, seperti kalung, gelang, anting, cincin, dan bros. Bisa logam, kain, kayu, batu, mutiara, tulang, dan sebagainya. Bahkan sumbu kompor, jam bekas, koin, sisa potongan celana jeans dan kabel pun saya gunakan untuk beberapa produk saya,” ungkapnya.
“Enaknya bisnis perhiasan ya, kaya gini. Produknya gak kadaluarsa sehingga bisa diperbaharui. Sebentar lagi kan mau Imlek, nuansa merah. Jadi beberapa produk saya yang belum laku bisa saya perbaharui,” tambahnya.
Dengan desain kontemporer yang memadukan unsur etnik daerah, maupun tanpa unsur daerah, serta produk murni hasil karyanya, Fitri mengaku perharinya dia bersama beberapa karyawannya mampu memroduksi hingga 50 set perhiasan.
Sementara perhiasan yang dia hasilkan itu dipasarkan dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 300 ribu hingga Rp 5 juta. Produk yang mahal biasanya menggunakan bahan-bahan tertentu seperti bebatuan yang langka.
Fasih dengan Pasar
Ragam produk Nahdi Jewellry (Kiri atas ke kanan: Kalung Kanatar tunggal NTT Rp 500.000, Kalung Tanimbar Rp 350.000, Kalung Sutra dengan Amulet Rp 500.000, Kalung Mamuli NTT dasi Rp 750.000, Kalung New design dengan mutiara air tawar dan pirus, kalung dan tasbih dari mutiara air tawar Rp 400.000, Kalung dari Aceh Rp 750.000, Kalung dan mutiara tawar Rp 400.000, Kalung sutra dan Bohru Aceh Rp Rp 350.000.
Dalam menjalankan dan mengembangkan usahanya, lulusan Ilmu Politik FISIP Universitas Indonesia ini mengaku tak menemui hambatan yang berarti. Didasari hobi dan kecintaannya pada produk serta budaya Indonesia, Fitri bilang, usahanya tersebut kian dikenal sehingga pasarnya pun semakin luas.
Pengalaman berbisnis yang diperolehnya di beberapa perusahaan tempat dia bekerja sebelumnya, menjadi modal berharga bagi Fitri. Tak ayal, selera pasar sudah cukup fasih baginya. Tak hanya pasar dalam negeri, sebut saja beberapa pasar luar negeri, seperti Brunei Darusalam, Singapore, Jepang, Hongkong, Italy, Berlin, Perancis, Algeir, Argentina, Mesir, Senegal, Nairobi, Afrika Selatan, Inggris, Turki, dan Dubai.
“Kalau pembeli Afrika lebih menyukai perhiasan yang ada mutiaranya, sebab di sana susah mendapatkan mutiara. Kalau saya pameran di sebuah negara yang memuja batu, maka model di luar itu tidak saya bawah,” terangnya. Dalam setahun, Fitri bisa mengikuti delapan kali pameran di dalam negeri dan 8-13 kali pameran ke luar negeri. “Itu pun saya seleksi dulu,” tegasnya.
Pameran luar negeri yang pernah ia ikuti, antaralain Indonesia In-store Festival 2012 di Takashimaya Tamagawa Tokyo pada 11-17 April 2012, pameran International Jewellery Kobe (IJK) ke-16 di Kobe, Jepang. Ada pula Inacraft, Australia New Zealand Woman Association (ANZA), British Woman Association (BWA), dan American Woman Association (AWA).
“Dari pengalaman saya, negara-negara di Timur Tengah dan Afrika paling banyak membeli perhiasan saya,” sebut Fitri.
Meskipun banyak mengikuti pameran luar negeri dengan pembeli yang juga terus meningkat, namun baginya, pasar dalam negeri tetaplah yang lebih potensial. “Justeru pembeli dalam negeri, khususnya di Jakarta saja sudah cukup tinggi. Jadi kalau mau memilih memang saya lebih suka pasarkan di dalam negeri.”
Untuk pameran dalam negeri, kata dia, nilai transaksi sekali pameran bisa mencapai Rp 80 – Rp 150 juta. “Itu pameran selama lima hari,” ujarnya.
Kini, dengan kesuksesannya membangun usaha ini, Fitri pun sering diundang oleh berbagai lembaga/instansi untuk menceritakan kisah suksesnya sekaligus memberikan motivasi untuk membangun sebuah usaha menjadi entrepreneur. Dia pun siap menerima siapa saja yang ingin belajar membangun usaha, terutama perhiasan.
“Jika ada orang yang ingin belajar ya datang saja. Bawah kalungnya atau apapun yang bisa kita sama-sama kreasikan menjadi sebuah perhiasan cantik dan menarik,” tutupnya. [Pius Klobor/IndoTrading News]

Ekspor Sejak 1980, Ternyata Resleting Ini Made in Indonesia

0

Awal ditentang orangtua. Muliamin keras kepala, melawan tapi tak dengan suara. Akhirnya ia buktikan, resleting made in Tangerang itu mampu menembus pasar dunia. Kini, perusahaannya jadi produsen dan eksportir resleting terbesar di Indonesia.

Ditentang Orangtua, Muliamin Buktikan dengan Ekspor Resleting

0

MULIAMIN belum mau pensiun. Meski tak terlibat langsung dalam produksi resleting, namun pendiri PT Fajarindo Faliman Zipper ini tetap eksis dalam melakukan berbagai penelitian dan pengembangan perusahaannya. Di usia yang ke-66 tahun, ia masih semangat mengembangkan usahanya itu, lantaran bisnis ini merupakan kesukaan dan hobinya sejak lama.

Ingin Punya Sepatu dan Tas Unik Seperti Ini? Buruan ke U-See Shoes

0
Pemilik U-See Shoes and Bag, Yusi Kurniawati (Foto: Pius)
U-See Shoes and Bag menerima pesanan produk yang dapat disesuaikan dengan selera dan keinginan pembeli.
Sepatu yang satu ini mungkin masih asing bagi Anda. Tapi, tahukah Anda bahwa sepatu ini memiliki kualitas yang tak kalah dari sepatu pabrikan. Bahkan, banyak pembelinya adalah warga negara asing yang sangat tertarik dengan keunikan juga kualitas sepatu buatan tangan Yusi Kurniawati ini.
Apa keunikan produk handmade yang telah diproduksi sejak dua tahun lalu itu? Kepada IndoTrading News, wanita yang biasa disapa Yusi ini menuturkan keunikan sepatunya tersebut terletak pada bahan juga desain dan modelnya.
“Semua ini komentar dari para pembeli. Kata mereka produk sepatu saya ini unik dan empuk. Jadi nyaman di kaki,” kata Yusi menjelaskan.
“Tapi, kita tidak hanya menjual keunikannya saja, kualitas produk juga menjadi perhatian utama kita,” sambungnya.
U-See Shoes and Bag milik Yusi memproduksi beraneka model dan jenis, serta corak sepatu juga tas yang khusus diperuntukan bagi perempuan. Produk-produk tersebut menggunakan tiga bahan dengan kualitas terbaik, yang tentu menjamin kualitas serta daya tahan produk tersebut. Ketiga bahan itu, yakni kulit, batik, dan ular.
Bahan kulit terdiri dari dua, yakni kulit polos yang hanya warna-warni dan kulit corak. Kulit ini biasanya dari hewan ternak, seperti sapi, domba, dan kambing.
“Saya tidak main di buaya, menurut saya kulit buaya terlalu keras sehingga kurang nyaman di kaki. Tapi saya pernah menggunakan kulit kanguru. Waktu itu memang ada pesanan khusus,” tutur Yusi.
Sementara bahan dari ular, sambungnya, saat ini menggunakan dua jenis ular, yakni piton dan kobra. “Ular ini pun ada yang multi color dan satu warna,” sebut Yusi sembari memperlihatkan jenis bahan tersebut.
Sedangkan bahan batik, Yusi menggunakan batik khas dari daerah Bali (Prada Bali), yang menurut dia memiliki kualitas terbaik.
“Kalau untuk batik, aku langsung datang ke sana (Bali). Jadi jika aku nemuin batik yang kualitasnya bagus, maka aku langsung beli,” kata Yusi yang mengaku lebih menyukai batik modern ini.
Hingga kini, Yusi yang hobi menggambar ini telah memproduksi ribuan pasang sepatu. Kata dia, sepatu-sepatu dengan model yang simpel adalah jenis sepatu yang paling laris.
“Jadi kita namakan sepatu dan sandal ‘Bakpao’ karena bentuknya yang gendut. Ini sudah terjual banyak banget. Orang-orang lebih suka yang begini,” jelasnya.
Tak hanya sepatu yang diproduksi oleh Yusi. Wanita 38 tahun ini pun tengah kebanjiran pesanan tas, yang juga didesain dan diproduksinya sendiri.
“Untuk tas, saya baru mulai produksi 2012 lalu, itupun setelah saya mendapatkan banyak permintaan dari pembeli. Produk ini juga menggunakan bahan yang sama,” jelas Yusi.
Permintaan Meningkat, Harga “Pas”
Boots Unik Batik dan Batik Kalimantan Bag & Shoes
Corak dan desain unik, dengan menggunakan bahan-bahan pilihan, sudah tentu menjamin kualitas dan mutu produk tersebut. Maka tak heran, produk-produk ini pun dijual dengan harga yang cukup mahal.
Sebut Yusi, untuk sepatu dengan pasaran dalam negeri dijual dengan rentan harga mulai Rp 385.000, hingga jutaan rupiah per pasang.
“Sementara untuk pasar luar negeri, harga yang paling murah adalah sekitar Rp 1,5 juta per pasang,” terangnya.
Lain lagi dengan tas. Produk unik ini pun dijual dengan harga yang bervariasi, tergantung ukuran, corak dan model, serta bahannya. “Tas, ada yang sampai Rp 3,5 juta untuk di luar negeri, sementara dalam negeri bisa sampai Rp 1,25 juta.”
“Produk-produk, baik sepatu maupun tas yang kami pasarkan di luar negeri memang tidak sama dengan yang di dalam negeri, terutama corak atau desainnya. Namun masih menggunakan bahan-bahan yang sama,” tegasnya dia.
Diakui Yusi, bisnis yang awalnya hanya iseng ini terus berkembang pesat seiring membanjirnya pesanan, baik dari dalam maupun luar negeri.
“Awalnya memang saya hanya iseng dengan selembar kulit sapi. Eh, ternyata laku dibeli dan dibilang produk itu bagus. Makanya saya terusin,” jelasnya.
Merasa produknya itu semakin diminati, Yusi pun mendatangkan beberapa tukang sepatu dari Solo. Dan, produksi pertama pun terjual sebanyak 40 pasang sepatu.
Dijelaskannya, setiap tiga bulan ia mengeluarkan modal untuk keperluan belanja yang bisa mencapai sekitar Rp 40 juta.
“Untuk per lembar kulit domba seperti ini habisnya sekitar Rp 1,1 juta. Ini bisa untuk satu tas. Sementara untuk sepatu agak sulit diprediksi karena harus disesuaikan dengan coraknya,” jelas Yusi.
Kini, dalam sebulan, Yusi bersama 20an karyawannya (tujuh orang tukang sepatu) bisa memproduksi sebanyak 400 an pasang sepatu siap dijual. “Kalau untuk tas, sementara ini hanya costum, jadi hanya tergantung pesanan saja.”
Seiring peningkatan permintaan, baik sepatu maupun tas dari dalam dan luar negeri tersebut, omset U-See Shoes and Bag pun terus naik.
“Puji Tuhan, usaha kita ini terus berkembang dengan baik. Rata-rata omzet per bulan, sudah mencapai ratusan juta rupiah,” ucapnya.
Yusi bilang, berkembangnya usaha dia tersebut juga dikarenakan beberapa event pameran yang telah diikutinya, seperti pameran fashion maupun UKM. Lebih dari itu, juga melalui media online dan dari mulut ke mulut.
“Ya, memang naiknya cukup tajam. Kita terus berusaha untuk bisa memenuhi semua permintaan pembeli,” sebut dia.
Untuk pasar lokal, sambungnya, masih mendominasi dengan menyerap market sekitar 60 persen, sementara pasar luar negeri 40 persen.
“Untuk luar negeri ya, seperti ke Australia, Dubai, dan beberapa pasar di Asia, seperti ke Vietnam. Dan, kami harapkan pameran Hongkong World Designer Boutique yang merupakan event internasional pertama kami ikuti di luar negeri pada 14-17 Januari 2013 besok ini pun bisa menarik minat banyak calon pembeli, baik dari Hongkong maupun negera-negara lainnya,” harap Yusi.
Kata dia, selama ini, rata-rata para pemesan dari luar negeri lebih menyukai produk dengan bahan dari ular.
“Puji Tuhan, tadi saya baru terima email dari Amerika yang tertarik dan memesan produk kita yang berbahan Batik Prada Bali,” tambahnya.
Layani Pemesanan
Semi Boots Snake Skin Python Gradasi dan Unique Stripes Shoes
Nah, bagi Anda yang tertarik untuk mengenakan atau mengoleksi produk-produk unik dan cantik ini, Anda pun bisa memesan sesuai selera corak dan desain serta model dan bahan yang Anda sukai.
“Yusi aku pengen yang corak butterfly, ukurannya segini, bahannya kulit, modelnya seperti ini,” ungkap Yusi mencontohkan permintaan dari pelanggannya.
Jika ada permintaan demikian, “maka aku cariin yang butterfly. Atau aku gambarain, mau butterfly yang seperti apa, baru aku ajuin ke pengerajin untuk dibuatkan seperti gambarku itu. Jika bisa ya kita buatkan, tapi jika belum bisa maka aku ajukan butterfly yang lain,” jelasnya.
“Pelanggan kita, apalagi yang sudah maniak sepatu, satu orang saja bisa mesan sampe 11 pasang hanya untuk pake sendiri, dan itu beda-beda warna dengan model yang sama. Seperti ibu ini,” tutur Yusi sembari memperlihatkan foto pelanggan dan produk sepatunya tersebut.
Ayo, Anda juga berminat? Jika iya, bisa segera memesan produk-produk ini. Lantaran keterbatasan bahan dan corak, jangan sampai Anda ketinggalan model dan corak serta bahan yang Anda inginkan.
“Untuk sepatu berbahan kulit, minimum order 1 seri, yakni dengan ukuran (size) 36-40. Di atas size 40, harga berbeda. Sebab, dalam bisnis sepatu, size di atas 40 untuk kulit bisa menjadi dua sepatu. Jadi size yang ready dengan harga yang sudah ditentukan adalah size 1 seri, yakni 36-40,” jelasnya.
Sambung dia,” Tapi kalau untuk imitasi, minimal order harus 1 kodi atau sekitar 20an pasang,” sambungnya.
Produk-produk ini pun kini telah tersedia di beberapa gerai pusat perbelanjaan, sebut saja di gerai Batik Keris di Mall Puri Indah, Kembangan, Jakarta Barat. [Pio/IndoTrading News]

Valuta Asing

IDR - Indonesian Rupiah
USD
16,994.6051
EUR
19,578.1250
GBP
22,467.7210
JPY
106.4464