PropertiTerkini.com, (BSD CITY) — Kalau dulu orang beli properti cukup lihat lokasi dan harga, sekarang ada satu variabel baru yang diam-diam jadi penentu, yakni Environmental, Social, and Governance atau ESG.
Di momen ini, Sinar Mas Land muncul di depan setelah meraih Best ESG-Focused Real Estate Brand – Indonesia 2026 dalam Global Brand Awards 2026 yang diselenggarakan Global Brand Magazine
Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar seperti berita korporasi biasa. Tapi kalau ditarik ke kebutuhan konsumen—ini sebenarnya menyentuh hal yang sangat praktis, yakni biaya hidup, kenyamanan tinggal, dan keamanan investasi.
ESG Sinar Mas Land: Dari Penghargaan ke Dampak Nyata Konsumen
Penghargaan ini tidak diberikan begitu saja. Penilaiannya mencakup banyak aspek—mulai dari inovasi, kinerja bisnis, hingga bagaimana perusahaan menjalankan tanggung jawab lingkungan dan sosialnya secara konsisten.
Artinya, ini bukan sekadar soal “branding hijau”. Ada sistem yang diuji.
Deputy Group CEO Strategic Development and Assets Sinar Mas Land, Herry Hendarta, mengatakan, “Penghargaan ini merupakan apresiasi atas upaya berkelanjutan kami dalam mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di setiap aspek pengembangan kawasan.”
Baca Juga:BSD City Resmi Punya Jaringan 5G, Infrastruktur Digital Kota Makin Kuat
Kalau diterjemahkan lebih sederhana—Sinar Mas Land tidak hanya membangun rumah, tapi membangun ekosistem.
Dan di sinilah mulai terasa ke konsumen. Rumah dengan efisiensi energi berarti pengeluaran listrik lebih rendah. Kawasan dengan ruang terbuka hijau membuat kualitas hidup lebih baik. Hal-hal kecil, tapi kalau dijalani tiap hari—efeknya besar.
Tidak heran kalau pendekatan ESG mulai dilihat bukan sebagai “nilai tambah”, tapi standar baru.
Harga Properti, Lebih Mahal atau Lebih Untung?
Ini pertanyaan yang paling sering muncul.
Di kawasan seperti BSD City, harga rumah memang tidak bisa dibilang murah. Untuk rumah landed, kisarannya bisa mulai dari Rp1,5 miliar hingga di atas puluhan miliar. Sementara apartemen berada di rentang sekitar Rp700 juta hingga Rp2 miliar, tergantung lokasi dan spesifikasi.
Sekilas, terlihat premium. Tapi ada logika lain yang mulai bermain. Properti berbasis ESG cenderung:
- Lebih efisien biaya operasional
- Lebih menarik di pasar sewa
- Lebih stabil nilainya dalam jangka panjang
Dengan kata lain, harga beli mungkin lebih tinggi. Tapi cost of ownership bisa lebih rendah.
Ini yang mulai dilihat investor—bukan sekadar beli murah, tapi menyimpan aset dalam jangka panjang dengan nilai yang lebih stabil dan risiko yang lebih terkendali.
Dan tren ini bukan hanya di Indonesia. Secara global, properti berbasis ESG mulai menjadi preferensi utama.
Baca Juga: Melihat Keceriaan 24 Klub Basket Cilik di Ajang Paramount Petals & Basketball Cup
Risiko dan Hal yang Harus Dicek Konsumen
Di balik tren ESG, ada satu hal yang perlu diwaspadai, yaitu tidak semua yang terlihat hijau benar-benar berkelanjutan. Istilahnya sederhana—greenwashing.
Beberapa proyek hanya menonjolkan tampilan hijau, tapi minim implementasi nyata. Pohon ada, tapi sistem pengelolaan energi tidak jelas. Branding kuat, tapi operasional biasa saja.
Karena itu, konsumen perlu lebih kritis:
- Apakah ada sertifikasi green building resmi?
- Bagaimana sistem pengelolaan sampahnya?
- Apakah benar menggunakan energi terbarukan?
Baca Juga: Laba RISE Melonjak 165%, Bukti Sektor Properti Surabaya Masih Seksi Bagi Investor

Sinar Mas Land sendiri menyebut sejumlah inisiatif konkret, mulai dari penyediaan ruang terbuka hijau, penerapan konsep bangunan dan material ramah lingkungan (green building) yang mengedepankan efisiensi energi dan air, program pengelolaan sampah terpadu melalui fasilitas mandiri seperti Rumah Pemulihan Material (RPM) Jatiwaringin, hingga pemanfaatan energi terbarukan di sejumlah proyek.
Dalam hal pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kualitas hidup di sekitar kawasan, perusahaan melakukan pengembangan UMKM dan sejumlah program sosial, di antaranya Bina Usaha, Pelatihan dan Festival UMKM, Pemberdayaan Petani Lokal, Bantuan Pendidikan, serta Kampung Dolanan Khatulistiwa (KADO KITA).
Di samping itu, tata kelola perusahaan berjalan dengan prinsip good corporate governance melalui transparansi, akuntabilitas, serta penerapan standar etika bisnis yang tinggi.
Namun tetap—keputusan membeli properti tidak bisa hanya berdasarkan klaim.
Harus dilihat, dicek, dan dipahami.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com





