BERITA TERKAIT

100 Tahun Ingvar Kamprad: Filosofi Sederhana yang Diam-Diam Mengubah Cara Orang Indonesia Menata Rumah

Mengenang satu abad kelahiran sang pendiri IKEA dan bagaimana idenya tentang rumah sederhana tetap relevan bagi keluarga muda di Indonesia.

PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Kalau Anda punya rak buku atau kotak penyimpanan di sudut kamar, besar kemungkinan ada jejak pemikiran Ingvar Kamprad sang pionir IKEA di sana.

Tahun 2026 ini sebenarnya bukan tahun biasa bagi dunia desain, karena kita memperingati seratus tahun kelahiran pria asal Småland, Swedia, yang mengubah cara dunia—termasuk kita di Indonesia—memandang arti sebuah rumah.

Baca Juga: Rumah Siap Sambut Tamu Lebaran? IKEA Gelar SALE hingga 80%

Isu besarnya bukan cuma soal perayaan ulang tahun, tapi bagaimana konsep “hidup sederhana” yang ia bawa justru jadi penyelamat di tengah makin mahalnya harga tanah dan makin sempitnya hunian perkotaan saat ini.

Mungkin kita tidak sadar, tapi banyak dari kita yang terdampak langsung oleh cara berpikirnya. Bayangkan pasangan muda yang baru pindah ke apartemen studio di Tangerang atau keluarga di Surabaya yang bingung menata ruang tamu merangkap ruang main anak.

Masalahnya selalu sama: ruang terbatas, tapi kebutuhan banyak. Di sinilah warisan Ingvar masuk.

Ia tidak menawarkan kemewahan yang sulit digapai, melainkan fungsi yang masuk akal dengan harga yang tidak bikin kantong jebol, mulai dari puluhan ribu untuk kotak merapikan kabel hingga jutaan untuk lemari multifungsi.

Baca Juga: Terima THR Lebaran: Yuk Upgrade Rumah, IKEA Hadirkan Promo hingga 80%

Pentingnya momen 100 tahun ini adalah pengingat bahwa kenyamanan rumah itu hak semua orang, bukan cuma yang punya rumah gedongan.

Namun, ada catatan pentingnya juga. Konsep rakit sendiri atau flatpack yang ia ciptakan menuntut kreativitas dan waktu dari pemiliknya.

Risiko kalau salah pilih atau salah rakit tentu ada, tapi itulah seninya memiliki barang yang terasa “punya kita banget”. Ingvar membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi di masa mudanya justru jadi bensin untuk menciptakan solusi yang cerdas.

Filosofi Ingvar Kamprad IKEA yang Tak Lekang Zaman

Jujur saja, kalau kita bicara soal IKEA, yang terbayang pasti toko luas dengan labirin yang bikin betah (atau bingung). Tapi di balik itu semua, ada dokumen bernama The Testament of a Furniture Dealer yang ditulis Ingvar tahun 1976.

Isinya bukan teori bisnis yang berat, tapi pesan sederhana: buatlah kehidupan sehari-hari jadi lebih baik bagi banyak orang. Prinsip ini disebut Democratic Design. Artinya, sebuah kursi tidak boleh cuma bagus dilihat, tapi harus kuat, ramah lingkungan, fungsinya jelas, dan harganya terjangkau.

Baca Juga: 5 Cara Menata Rumah agar Tetap Nyaman Sepanjang Musim Perayaan

Di Indonesia, prinsip ini terasa sangat “nyambung”. Kita sering melihat bagaimana ruang keluarga bisa berubah jadi kantor dadakan di siang hari dan tempat nonton di malam hari.

Tim IKEA Indonesia bahkan melihat dalam Life at Home Report 2025 bahwa kebutuhan terbesar masyarakat kita saat ini adalah solusi penyimpanan yang efektif. Kita suka menyimpan barang, tapi bingung mau ditaruh di mana. Itulah kenapa produk seperti rak yang merangkap sekat ruangan sangat laku di sini.

“Warisan Ingvar selalu berangkat dari hal-hal sederhana: memahami apa yang benar-benar dibutuhkan orang di rumah. Kami melihat bagaimana banyak orang Indonesia menata ruang dengan cara yang kreatif agar kehidupan sehari-hari terasa lebih nyaman,” ujar Ririn Basuki, Public Relations Manager IKEA Indonesia.

Menurutnya, tantangan ruang terbatas di kota besar justru membuat semangat Ingvar makin relevan. Solusi yang cerdas dan dekat dengan kenyataan hidup adalah kunci yang terus dipegang hingga kini.

Satu hal yang menarik dari cara kerja Ingvar adalah keberaniannya mencoba hal baru. Ia tidak takut salah. Baginya, kemajuan hanya datang kalau kita berani mencoba.

Baca Juga: Rapikan Kamar Mandi dengan 3 Cara Berikut: Lebih Nyaman dan Terjangkau!

Nilai ini yang dibawa ke gerai-gerai di Indonesia, dari Alam Sutera sampai Bali. Bahwa rumah adalah tempat yang dinamis, selalu berubah mengikuti siapa yang tinggal di dalamnya.

Jadi, jangan heran kalau koleksi di toko selalu terasa baru, karena mereka memang mengikuti bagaimana ritme hidup kita yang juga terus bergerak setiap harinya.

Mengenal Sosok Ingvar: Dari Penjual Korek Api Hingga Jadi Legenda

Lalu, siapa sebenarnya sosok Ingvar Kamprad ini? Ia lahir tahun 1926 di pedesaan Småland yang berbatu. Orang-orang di sana terkenal hemat dan cerdik memanfaatkan apa yang ada.

Bayangkan, di usia 17 tahun, saat remaja lain mungkin masih sibuk main, Ingvar sudah mendirikan IKEA. Nama IKEA sendiri adalah singkatan: Ingvar Kamprad, Elmtaryd (peternakan tempat ia tumbuh), dan Agunnaryd (desa setempat). Ia mulai dengan berjualan korek api, kartu ucapan, hingga majalah menggunakan sepeda.

Baca Juga: Masih Perlu Bawa Kartu Akses? Intip Masa Depan Keamanan Versi HID

Ketertarikannya pada furnitur muncul ketika ia melihat betapa mahalnya perabot rumah saat itu. Ia ingin memotong jalur distribusi agar harga bisa ditekan. Terobosan paling ikoniknya adalah flatpack—membongkar kaki meja agar bisa dimasukkan ke dalam kardus tipis.

Karyawan IKEA berdiri di depan toko
Suasana karyawan di depan toko IKEA pada masa awal perkembangan perusahaan yang didirikan Ingvar Kamprad, mencerminkan perjalanan panjang hingga 100 tahun kelahirannya. (Foto: Dok. IKEA)

Ini revolusioner karena biaya angkut jadi murah dan barang jarang rusak di jalan. Konsep ini lahir dari pengamatan sederhana saat ia melihat seorang karyawan mencopot kaki meja agar muat di dalam mobil pelanggan.

Ingvar adalah tipe pemimpin yang tetap rendah hati meski sudah sangat sukses. Ia dikenal sering naik kelas ekonomi saat terbang atau mengendarai mobil tua selama bertahun-tahun.

Baginya, pemborosan adalah dosa besar. Struktur yayasan yang ia bangun pada 1982 juga memastikan IKEA tetap independen dan keuntungannya diputar kembali untuk pengembangan serta misi sosial. Hingga akhir hayatnya di tahun 2018, ia tetap menjadi sumber inspirasi bagi ribuan karyawannya.

Baca Juga: Akses Tol di Depan Mata, Paramount Petals Siap Terkoneksi Lebih Cepat ke Jakarta

Kini, seratus tahun sejak kelahirannya, semangat dari SmÃ¥land itu masih ada di ruang tamu kita. Ia mungkin sudah tiada, tapi idenya tentang rumah yang “mengerti” penghuninya tetap hidup.

Selama masih ada keluarga kecil yang butuh meja makan serbaguna atau mahasiswa yang butuh lampu meja murah untuk belajar, jejak Ingvar Kamprad akan selalu ada. Bahwa pada akhirnya, rumah yang baik bukan soal seberapa mahal harganya, tapi seberapa nyaman kita bisa bernapas di dalamnya.

***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page