PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Memasuki tahun ini, dinamika tren pasar properti 2026 menunjukkan pergeseran gravitasi hunian yang semakin menjauh dari pusat Jakarta.
Fenomena “Peta Panas” atau heatmap serapan rumah tapak mengungkapkan bahwa wilayah penyangga kini bukan lagi sekadar alternatif, melainkan destinasi utama.
Baca Juga: Target Sinar Mas Land 2026: Strategi Rp10 Triliun di Tengah “Demam” Rumah Tapak
Isu keterbatasan lahan di DKI Jakarta yang memicu inflasi harga rumah tak terkendali menjadi pemicu utama masyarakat, khususnya segmen menengah, untuk berburu aset di koridor barat dan timur.
Dampak terbesar dirasakan oleh para pencari properti pertama dari generasi Milenial dan Gen Z.
Berdasarkan data Indonesia Property Watch (IPW), terjadi lonjakan permintaan sebesar 18 persen untuk rumah di kisaran harga Rp1–2 miliar pada awal tahun ini.
Pentingnya momen ini terletak pada ketersediaan stok residensial yang masih cukup melimpah di wilayah seperti Tangerang, yang didukung oleh stimulus PPN DTP serta tenor KPR yang fleksibel hingga 25 tahun.
Secara statistik, temuan LEADS Property Services selama 10 tahun terakhir membuktikan dominasi kawasan penyangga sangat absolut.
Baca Juga: Pasar Properti Indonesia 2026: Peluang di Tengah Tren Rumah Seken dan KPR Tenor Panjang
Total pasokan kumulatif rumah tapak di Jabodetabek mencapai 196.700 unit dengan tingkat penjualan rata-rata menyentuh 93 persen.
Tangerang secara luar biasa menguasai 56 persen pangsa pasar, jauh mengungguli wilayah lainnya dalam hal volume dan kecepatan serap unit.
Berikut adalah rincian data serapan pasar rumah tapak berdasarkan kota satelit (Data 10 Tahun Terakhir:
| Wilayah | Pasokan Kumulatif (Unit) | Tingkat Penjualan (%) | Rata-Rata Harga (Per Unit) |
| Tangerang | 92.000 | 94% | Rp3,0 Miliar |
| Bekasi | 46.700 | 93% | Rp1,7 Miliar |
| Bogor | 37.500 | 95% | Rp2,0 Miliar |
| Depok | 10.500 | 92% | Rp1,7 Miliar |
| Jakarta | 9.900 | 84% | Rp5,0 Miliar |
| Total | 196.700 | 93% (Rata-rata) | Rp2,7 Miliar (Rata-rata) |
Eksplanasi Pakar dalam Tren Pasar Properti 2026

(Foto: Pius Klobor/PropertiTerkini.com)
Martin Samuel Hutapea, Associate Director LEADS Property, memproyeksikan tren pasar properti 2026 untuk sektor rumah tapak akan terus tumbuh stabil di angka 5-6 persen secara tahunan.
“Milenial kini semakin matang; mereka tidak hanya melihat harga, tetapi juga aksesibilitas dan fasilitas. Tangerang unggul karena pengembangan kawasan terpadu (township) dengan infrastruktur lengkap yang sangat relevan dengan kebutuhan gaya hidup generasi muda saat ini,” jelas Martin.
Baca Juga: Hunian Vertikal, Jawaban Kota Masa Depan yang Terus Bertumbuh
Ali Tranghanda, Pengamat Properti dari IPW, menambahkan bahwa kekuatan fundamental kawasan Tangerang juga berasal dari sinergi beberapa pengembang besar yang membangun kawasan kota mandiri terintegrasi seperti di Gading Serpong dan BSD City, sehingga sulit ditandingi.
“Integrasi pengembang besar di sana menciptakan pusat pertumbuhan mandiri. Rencana masuknya jalur MRT ke Gading Serpong dan Tangerang nantinya juga akan menjadi booster luar biasa bagi kenaikan harga tanah dan minat sewa. Meski harga lahan tinggi, daya serapnya tetap stabil karena kualitas wilayahnya jauh di atas Jakarta,” jelas Ali.
Perspektif lapangan dari Vemby Intan, Ketua DPD AREBI Banten, menyebut bahwa fenomena “bergeser ke barat” adalah keniscayaan ekonomi.
“Banyak pembeli dari Jakarta Barat dan Utara pindah ke Tangerang karena di Jakarta mereka sudah tidak punya opsi rumah di bawah Rp1,5 miliar. Meskipun capital gain tahun ini diprediksi tidak melompat drastis karena faktor geopolitik, namun ini adalah titik tunggu terbaik sebelum siklus naik berikutnya,” ungkap Vemby.
Baca Juga: Tenor Cicilan Rumah Subsidi 30 Tahun: Solusi Bebaskan MBR dari Cicilan Mahal!
Sebagai catatan penutup, risiko bagi konsumen tetap ada pada ketelitian memilih pengembang.

Pakar menyarankan untuk tetap memegang prinsip Pay Yourself First—prioritaskan cicilan hunian di kawasan yang sudah memiliki fasilitas ekosistem seperti kafe, gym, dan transportasi terpadu.
Menunda pembelian di saat pasar sedang bergerak stabil di tahun 2026 hanya akan membuat nilai aset semakin menjauh dari daya jangkau pendapatan di masa depan.
Risiko & Catatan Penting: Konsumen perlu mewaspadai fluktuasi suku bunga perbankan setelah masa promo KPR berakhir.
Baca Juga: Paramount Land Bidik Rp5,5 Triliun di 2026, Fokus Dua Proyek Strategis dengan Produk Inovatif
Disarankan untuk memilih unit di kawasan township yang sudah mapan agar nilai aset tetap terjaga dan memiliki likuiditas tinggi jika ingin dijual kembali.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com




