PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Sebanyak 87% pekerja Indonesia kembali ke kantor melalui kebijakan return-to-office (RTO) atau skema kerja hybrid terstruktur. Angka ini menjadi yang tertinggi di dunia dan hampir dua kali lipat rata-rata kawasan Asia Pasifik.
Temuan tersebut berasal dari survei Workforce Preference Barometer yang dirilis oleh JLL Indonesia. Data ini menunjukkan bahwa aktivitas kerja fisik mulai pulih secara signifikan setelah beberapa tahun didominasi pola kerja jarak jauh.
Baca Juga: Sinyal Positif Pasar Perkantoran Jakarta: Penyewa Kini Berkuasa Atas Harga Sewa Gedung Premium!
Kembalinya pekerja ke kantor mendorong meningkatnya kebutuhan ruang kerja berkualitas tinggi, khususnya di gedung perkantoran Grade A di Jakarta yang selama beberapa tahun terakhir mengalami tekanan akibat perubahan pola kerja.
Menurut James Taylor, Kepala Departemen Riset JLL Indonesia, tren RTO memberikan sinyal positif bagi pemulihan pasar perkantoran nasional.
“Indonesia menunjukkan momentum pemulihan yang kuat. Tingginya kebijakan kembali ke kantor mulai mengurangi tingkat kekosongan, terutama di gedung Grade A. Dengan pasokan baru yang terbatas dalam beberapa tahun ke depan, perusahaan yang membutuhkan ruang berkualitas tinggi perlu mengambil keputusan lebih cepat untuk mengamankan lokasi strategis,” ujar James.
Permintaan ruang kantor bahkan tercatat meningkat pada kuartal IV 2025, menjadi yang terkuat sejak kuartal III 2019.
Baca Juga: Sektor Perkantoran Jakarta Menguat: 3 Fakta Kinerja Q3 2025 yang Tunjukkan Ketahanan Pasar
Dalam beberapa tahun ke depan, kondisi pasar juga diperkirakan semakin ketat karena tidak ada tambahan pasokan gedung perkantoran premium baru hingga sekitar 2028. Hal ini membuat ruang kantor berkualitas tinggi berpotensi semakin terbatas.
Bagi perusahaan penyewa, situasi tersebut menjadi catatan penting karena keputusan ekspansi kantor kemungkinan harus dilakukan lebih cepat agar tidak kehilangan lokasi strategis.
Kantor Bukan Lagi Sekadar Tempat Kerja
Survei JLL juga menunjukkan bahwa mayoritas pekerja Indonesia memiliki persepsi positif terhadap kembali bekerja dari kantor.
Sekitar 90% pekerja Indonesia menyatakan sentimen positif terhadap kerja di kantor, jauh di atas rata-rata global yang berada di angka 72%.
Baca Juga: Kawasan Industri Greater Jakarta 2025 Tangguh: Serapan 318 Hektar, EV Dominasi 18%
Selain itu, sekitar tiga perempat pekerja kantor menilai kolaborasi tatap muka membuat pekerjaan lebih efektif dibandingkan sistem kerja jarak jauh.
Namun, meningkatnya kehadiran karyawan juga diikuti ekspektasi baru terhadap kualitas ruang kerja. Sekitar dua pertiga pekerja Indonesia berharap perusahaan meningkatkan fasilitas kantor sebagai bentuk kompensasi atas kehadiran fisik mereka.
Respons perusahaan mulai terlihat melalui peningkatan desain kantor, fasilitas kolaborasi, teknologi kerja, hingga penyediaan tunjangan tambahan bagi karyawan.
Meski demikian, sebagian pekerja masih berharap fleksibilitas kerja tetap dipertahankan. Lebih dari separuh responden ingin tetap memiliki opsi kerja fleksibel, sementara saat ini fasilitas tersebut baru tersedia bagi sekitar 44% tenaga kerja.
Baca Juga: Properti Tangerang Kuasai 56% Pasar Rumah Jabodetabek, Gading Serpong Jadi Magnet Hunian
Strategi Workplace Jadi Faktor Penentu Daya Saing
Perubahan ekspektasi tenaga kerja membuat perusahaan mulai memandang kantor secara berbeda. Kantor kini tidak lagi sekadar ruang operasional, tetapi menjadi bagian dari strategi bisnis.
Menurut Rosari Chia, Kepala Departemen Office Leasing JLL Indonesia, peran kantor semakin penting dalam membangun pengalaman kerja karyawan.
“Perusahaan kini melihat kantor bukan lagi sekadar tempat bekerja, tetapi sebagai aset strategis yang berperan langsung dalam produktivitas, inovasi, dan daya saing bisnis,” ujar Rosari Chia.
Baca Juga: Permintaan Rumah Meledak 32% H+2 Lebaran, Harga Hunian Rp1–3 Miliar Paling Diburu

Ia menambahkan bahwa perusahaan membutuhkan ruang kerja yang mampu mendukung kolaborasi dan identitas organisasi.
“Kolaborasi, pengalaman karyawan, juga identitas kantor secara tidak langsung mendukung strategi jangka panjang organisasi,” jelasnya.
Bagi investor dan pengembang properti komersial, tren ini membuka peluang baru di segmen gedung kantor premium.
Namun bagi perusahaan penyewa, ada satu risiko yang perlu diperhatikan. Jika permintaan terus meningkat sementara pasokan gedung premium terbatas, maka harga sewa ruang kantor berpotensi naik dalam beberapa tahun ke depan.
Baca Juga: 16 Tahun Summarecon Bekasi: Dari Township Pinggiran Jadi Kota Lifestyle di Timur Jakarta
Situasi tersebut membuat perusahaan perlu mulai menyusun strategi properti secara lebih matang agar tetap mendapatkan ruang kantor yang sesuai kebutuhan bisnis.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com




