BERITA TERKAIT

Membaca Arah Investasi Properti Surabaya 2026: Gresik atau Sidoarjo?

Investasi properti surabaya pada 2026 menuntut ketepatan memilih kawasan penyangga. Gresik unggul untuk properti komersial, sementara Sidoarjo kuat sebagai hunian end-user jangka panjang.

PropertiTerkini.com(SURABAYA) Investasi Properti Surabaya pada 2026 tidak lagi cukup dibaca dari pusat kota semata. Investor dan pembeli kini dihadapkan pada pilihan kawasan penyangga yang menawarkan karakter pasar berbeda, terutama antara Gresik dan Sidoarjo.

Rudy Sutanto, Principal JAVA Property sekaligus Dewan Penasihat AREBI DPD Jawa Timur, menilai bahwa pasar Surabaya pada 2026 sudah berada di fase matang.

Baca Juga: Properti Jawa Timur 2026 Masuk Fase Matang, Gudang dan Ruko Pimpin Pasar

Konsekuensinya, keputusan investasi semakin bergantung pada ketepatan memilih lokasi, bukan sekadar mengikuti nama besar kota.

“Sekarang bukan soal beli properti dimana saja lalu tunggu naik. Investor harus paham kebutuhan dan karakter pasarnya,” ujar Rudy kepada PropertiTerkini.com.

Investasi Properti Surabaya 2026: Pasar Lebih Selektif di Tengah Suplai Besar

Pasar properti Surabaya pada 2026 memiliki karakter yang lebih “taft” dibandingkan Jakarta atau Bandung.

Suplai properti relatif lebih besar, terutama di segmen hunian kelas menengah atas, sementara pertumbuhan permintaan tidak bergerak seagresif kota-kota tersebut.

Rudy menjelaskan bahwa kondisi ini membuat Surabaya tidak lagi cocok sebagai pasar spekulasi jangka pendek. Pembeli dan investor harus lebih selektif dalam menentukan produk dan lokasi.

Baca Juga: Wellness Living Kian Menguat di Canggu, Echovista Tangkap Tren Lewat 35 Unit Villa

“Di Surabaya suplai properti cukup banyak, tapi demand investor tidak sebesar Jakarta atau Bandung. Ini sangat dipengaruhi oleh perbedaan pertumbuhan ekonomi dan perputaran uang,” jelasnya.

Situasi tersebut menjadikan Surabaya lebih ideal bagi pembeli rasional dan end-user, sementara investor perlu mencari peluang nilai tambah di kawasan penyangga yang memiliki fungsi ekonomi lebih spesifik.

Gresik Unggul untuk Investasi Komersial dan Jangka Menengah

Dalam perbandingan dua kawasan penyangga, Gresik dinilai lebih unggul untuk investasi properti komersial pada 2026. Keunggulan ini terlihat dari potensi kenaikan harga, peluang sewa, hingga strategi keluar (exit strategy).

Rudy menegaskan bahwa kekuatan utama Gresik terletak pada ekosistem industri dan logistik yang terintegrasi.

Baca Juga: Hunian Sehat Jadi Tren 2026: Alasan Properti Berkonsep Healthy Living Makin Diminati

“Gresik memiliki keunggulan mutlak berupa pelabuhan bertaraf internasional, kawasan industri, serta dukungan jalan tol yang langsung terhubung ke pelabuhan JIIPE dan area pergudangan,” ujarnya.

Dengan basis tersebut, permintaan properti di Gresik tidak hanya berasal dari pasar lokal, tetapi juga dari investor dan pelaku usaha luar negeri yang membutuhkan gudang, pabrik, dan fasilitas penunjang distribusi.

Sidoarjo Kuat Sebagai Basis Hunian End-User

Berbeda dengan Gresik, Sidoarjo tetap menonjol sebagai kawasan hunian penyangga Surabaya.

Permintaan di wilayah ini masih didominasi end-user yang mencari rumah tapak dengan harga lebih terjangkau dan akses yang semakin baik ke Surabaya.

Baca Juga: Free PPN 2026 Jadi Momentum, Paramount Land Hadirkan Promo Properti di Dua Kawasan Unggulan

Rudy menyebut bahwa fungsi Sidoarjo sebagai kawasan hunian akan tetap relevan hingga 2026, terutama bagi pembeli jangka panjang.

“Untuk hunian tapak, end-user masih bisa memilih Sidoarjo maupun Gresik Selatan. Pasarnya stabil dan sesuai kebutuhan tinggal, bukan spekulasi,” kata Rudy.

Dengan karakter tersebut, Sidoarjo lebih cocok bagi pembeli yang mengutamakan fungsi tempat tinggal dan keamanan nilai, dibandingkan investasi berbasis arus kas sewa.

Kesalahan Investor Membaca Pasar Penyangga

Salah satu kesalahan yang kerap dilakukan investor adalah menyamakan semua kawasan penyangga sebagai peluang yang setara. Padahal, setiap wilayah memiliki fungsi dan risiko berbeda.

Baca Juga: OneSmartServices Perluas Layanan ke Seluruh KEK Indonesia, Perkuat Infrastruktur Digital Investasi

“Kesalahan paling sering adalah mengejar aset yang sudah naik. Seharusnya membeli properti yang terkoreksi harga turun, saat pasar masih selektif,” tegas Rudy.

Menurutnya, pasar properti 2026 memberi keuntungan bagi investor yang disiplin, sabar, dan memahami siklus pasar.

Astonia Park View & beli rumah
Rumah tipe Nayra di Astonia Park View, Kabupaten Gresik./ Foto: dok. Astonia PV

Jadi, Gresik atau Sidoarjo? Sesuaikan dengan Tujuan Investasi

Membaca arah Investasi Properti Surabaya pada 2026 berarti memahami bahwa tidak ada satu jawaban untuk semua investor.

Gresik lebih tepat bagi investor komersial dan pencari arus kas, sementara Sidoarjo menawarkan stabilitas hunian bagi end-user.

“Investor harus jelas butuh properti apa. Beli dengan pertimbangan matang, baik dari sisi ROI maupun capital gain,” pungkas Rudy.

Baca Juga: Strategi KPR Pasutri Baru: 5 Langkah Cerdas Atur Keuangan demi Rumah Pertama

Dengan pasar yang semakin rasional, ketepatan lokasi dan segmen menjadi kunci utama keberhasilan investasi properti ke depan.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page