BERITA TERKAIT

Satu-Satunya dari Indonesia, House of Tugu Jakarta Masuk Daftar Terbaik Dunia 2026

House of Tugu Jakarta menembus daftar global bergengsi versi TIME Magazine tahun 2026. Pengakuan ini memperkuat tren properti heritage premium sebagai magnet wisata dan investasi.

PropertiTerkini.com(JAKARTA) — Di tengah meningkatnya tren wisata berbasis pengalaman, House of Tugu Jakarta resmi masuk dalam daftar World’s Greatest Places 2026 versi TIME Magazine, menjadikannya satu-satunya properti dari Indonesia yang berhasil menembus kurasi global tahun ini.

Pengakuan ini tidak hanya prestisius, tetapi juga menjadi indikator kuat bahwa hospitality berbasis budaya kini semakin relevan di pasar internasional.

Baca Juga: 9 Referensi Hotel di Gading Serpong untuk Staycation, Meeting, hingga Perjalanan Bisnis

Bagi pelaku industri properti dan pariwisata, momentum ini berdampak langsung pada positioning Indonesia di mata global. Segmen hotel heritage yang sebelumnya niche kini naik kelas menjadi high-value asset, terutama di kota-kota dengan kekuatan sejarah seperti Jakarta.

Dari sisi konsumen, hotel seperti House of Tugu Jakarta umumnya berada di kelas premium dengan kisaran harga sekitar Rp2 juta hingga Rp5 juta per malam, bergantung pada tipe kamar dan pengalaman yang ditawarkan.

Namun, value yang dijual bukan sekadar akomodasi, melainkan pengalaman budaya yang tidak bisa direplikasi hotel konvensional.

Meski demikian, konsep ini memiliki keterbatasan kapasitas dan segmentasi pasar yang lebih spesifik. Artinya, tidak semua wisatawan cocok dengan model hospitality berbasis heritage yang lebih eksklusif dan curated.

Baca Juga: Ekspansi Agresif RISE 2026: Luncurkan Hotel Premium dan Klaster Hunian Baru

House of Tugu Jakarta Dorong Tren Properti Heritage Premium

Masuknya House of Tugu Jakarta ke daftar global menegaskan pergeseran strategi dalam industri hospitality—dari sekadar fasilitas menuju pengalaman berbasis narasi budaya.

Properti ini lahir dari perjalanan panjang keluarga Tugu sejak 1960-an, yang mengumpulkan artefak dan menjaga warisan budaya Indonesia yang mulai tergerus zaman. Pendekatan ini menciptakan diferensiasi kuat dibanding hotel modern yang berorientasi efisiensi dan standar global.

Lucienne Anhar, co-owner Tugu Hotels & Restaurants Group, menyampaikan, “Kami tidak pernah memulai dengan tujuan membangun jaringan hotel dan restoran. Yang ingin kami lakukan adalah menjaga kisah tentang masyarakat Indonesia agar tetap dikenang melalui ruang, artefak, dan pengalaman.”

Baca Juga: Parador Hotels & Resorts Punya 10 Hotel Strategis, Dari Budget Stay hingga Ballroom Raksasa

Konsep tersebut diperkuat dengan kehadiran elemen kuliner dan ruang budaya seperti Jajaghu dan Babah Koffie, yang mengangkat resep dan suasana masa lalu dalam format modern. Ini menciptakan ekosistem pengalaman yang menyatu—dari menginap hingga eksplorasi budaya.

Pada 2026, strategi ekspansi juga difokuskan pada peningkatan experience. Akan hadir De Tiger, speakeasy poolside dengan live music, serta The Huang Museum yang menampilkan ribuan artefak bersejarah dari koleksi keluarga Tugu.

Model ini mencerminkan tren global experience-driven hospitality, di mana nilai properti tidak lagi hanya ditentukan oleh lokasi dan fasilitas, tetapi oleh cerita dan pengalaman yang ditawarkan.

Peluang Investasi dan Risiko Properti Berbasis Budaya

Pengakuan global ini membuka peluang baru bagi sektor properti, khususnya di kawasan heritage seperti Kota Tua Jakarta.

Baca Juga: Staycation Lebaran di Cirebon Makin Murah, Hotel Ini Siapkan Paket Menarik Mulai Rp170 Ribu

Pertama, exposure internasional meningkat signifikan. Destinasi berbasis sejarah kini memiliki daya tarik lebih kuat bagi wisatawan premium global, yang berdampak pada kenaikan potensi nilai properti di sekitarnya.

Fasad House of Tugu Jakarta di kawasan Kota Tua
Tampilan fasad House of Tugu Jakarta di kawasan Kota Tua yang menjadi satu-satunya properti Indonesia dalam daftar terbaik dunia 2026. (Foto: Dok. House of Tugu Jakarta)

Kedua, ini memperluas spektrum investasi. Investor kini mulai melirik boutique hotel dan properti berbasis budaya sebagai alternatif dari hotel konvensional yang lebih kompetitif dan padat.

Namun, ada risiko yang perlu diperhitungkan. Properti heritage membutuhkan biaya perawatan tinggi, regulasi konservasi yang ketat, serta waktu pengembangan yang panjang. Ini bukan model investasi cepat, melainkan long-term value play.

Selain itu, keberhasilan House of Tugu Jakarta tidak mudah direplikasi. Dibutuhkan kurasi artefak, konsistensi brand, serta storytelling yang kuat selama bertahun-tahun—bukan sekadar renovasi bangunan lama.

Baca Juga: Harris Hotel & Convention Serpong Resmi Dibuka: Investasi Rp400 Miliar, Tawarkan Promo Stay 3 Pay 2

Pada akhirnya, pencapaian ini menjadi validasi bahwa masa depan properti hospitality Indonesia bergerak ke arah diferensiasi berbasis budaya.

Bagi pelaku industri, ini bukan sekadar inspirasi—melainkan sinyal untuk pivot strategi sebelum pasar bergerak lebih cepat.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page