PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Harga rumah sekunder di awal 2026 menunjukkan fenomena tidak biasa: turun 1,2% secara bulanan di saat inflasi Indonesia justru melonjak ke 4,76%. Kondisi ini menciptakan gap hingga 4,4% antara inflasi dan pertumbuhan harga properti—sebuah sinyal pasar yang jarang terjadi.
Bagi konsumen, ini terlihat seperti “diskon diam-diam”. Namun di balik itu, ada dinamika yang lebih kompleks: suplai menurun, permintaan tetap hidup, dan pasar sedang mencari titik keseimbangan baru.
Baca Juga: Generasi Muda Serbu Properti, Data Rumah123 Bongkar Faktanya
Harga Rumah Sekunder Turun: Momentum Emas atau Ilusi Pasar?
Penurunan harga rumah sekunder sebesar 1,2% (MoM) dan 0,4% (YoY) menjadi indikator bahwa pasar properti sedang memasuki fase konsolidasi.
Dalam situasi inflasi tinggi, harga properti yang stagnan atau turun membuat aset ini relatif lebih terjangkau. Artinya, daya beli terhadap properti meningkat—terutama bagi first-time buyers.
Namun, ada twist penting: volume suplai justru turun 7,8% secara tahunan.
Baca Juga: Permintaan Rumah Meledak 32% H+2 Lebaran, Harga Hunian Rp1–3 Miliar Paling Diburu
Ini menandakan pemilik properti memilih menahan aset (hold) dibanding menjual di harga yang belum optimal. Dampaknya, pilihan unit di pasar semakin terbatas.
“Penurunan suplai ini adalah sinyal penting. Jika suplai terus menyusut sementara minat pencarian tetap stabil, maka kita kemungkinan besar sedang mendekati fase bottoming out,” ujar Marisa Jaya, Head of Research Rumah123.
Dengan kata lain, pasar bisa berbalik naik—dan biasanya tanpa pemberitahuan dulu.
Rentang Harga: Dari Rp741 Juta hingga Rp21 Miliar
Data Flash Report Maret 2026 by Rumah123 menunjukan, segmentasi harga rumah juga memperlihatkan bahwa permintaan tetap tersebar di berbagai kelas.
Baca Juga: Tren Pasar Properti 2026: Peta Panas Serapan Rumah dari Tangerang ke Bekasi Terkuak
Untuk rumah kecil (≤60 m²), Jakarta Pusat mencatat median Rp741 juta dengan lonjakan 25,4% YoY—indikasi kuat aktivitas pembeli pemula.
Di segmen menengah (61–150 m²), harga berkisar Rp1,6 miliar, terutama di Jakarta Selatan dan Yogyakarta.
Sementara itu, rumah besar (≥251 m²) mencapai Rp21 miliar di Jakarta Pusat, mencerminkan daya beli investor dan high-net-worth buyers yang tetap agresif.
Data median harga pada halaman 17 laporan Flash Report Rumah123 juga menegaskan bahwa meskipun harga melambat, pasar tidak berhenti—hanya lebih selektif dan rasional.
Ini bukan market lesu, tapi market yang “pilih-pilih”.
Peta Permintaan: Tangerang Dominan, Jakarta Kembali Dilirik
Baca Juga: Tren Sewa Rumah Menguat di Kota Besar, Apakah Konsumen Mulai Menunda Beli?

Dari sisi permintaan, Tangerang masih menjadi lokasi paling populer dengan pangsa pencarian 14,8%.
Namun, Jakarta Selatan mencatat kenaikan minat terbesar secara bulanan, menandakan pergeseran kembali ke kawasan inti.
Menariknya, Medan muncul sebagai kota dengan kenaikan harga tahunan tertinggi sebesar 5,5%, mengalahkan kota-kota favorit sebelumnya seperti Yogyakarta dan Denpasar.
Sebaliknya, Jakarta mengalami koreksi harga tahunan hingga -1,7%, membuatnya kembali kompetitif di pasar.
Baca Juga: 87% Pekerja Indonesia Kembali ke Kantor, Gedung Premium Jakarta Diprediksi Langka
Dalam perspektif investor: lokasi premium sedang “re-pricing”.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com




