PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Harga Lahan Industri di Greater Jakarta diproyeksikan naik pada awal 2026 setelah mencatat penyerapan kuat sepanjang 2025. Rata-rata harga saat ini berada di level USD 177,84 per meter persegi.
Lonjakan ini tidak lepas dari total transaksi lahan yang mencapai 311,85 hektare sepanjang 2025, melampaui rata-rata tahunan 2020–2023 sebesar 213 hektare.
Baca Juga: Harga Rumah Sekunder Turun 0,3%, Kawasan Industri Bekasi–Subang Justru Makin Dilirik Investor
Menariknya, capaian tersebut terjadi meski tidak ada peluncuran pasok baru pada kuartal terakhir 2025.
Artinya, pasar bergerak dalam kondisi permintaan tinggi dan pasokan terbatas.
Bagi investor maupun pelaku industri, momentum ini menandai fase kompetisi lahan siap bangun yang semakin ketat.
Harga Lahan Industri Naik karena Pasok Ketat dan Serapan Tinggi
Laporan Colliers Quarterly Property Market Q4 2025 mencatat adanya pengetatan pasok secara struktural, khususnya di kawasan industri matang.
Bekasi sebagai hub utama kini mendekati kapasitas efektif dengan sisa sekitar 100 hektare.
Keterbatasan ini mendorong pergeseran minat ke koridor baru seperti Karawang, Purwakarta, dan Subang.
Baca Juga: Menuju 2030, Investasi Data Center Global Tembus USD 3 Triliun, Indonesia Kian Dilirik Investor
Wilayah tersebut dinilai masih memiliki cadangan lahan yang relatif lebih tersedia.
Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia, menyatakan bahwa, pasar lahan industri Greater Jakarta terus menunjukkan fundamental yang kuat.
“Penyerapan lahan telah melampaui rata-rata tahunan 2020–2023, bahkan tanpa adanya peluncuran pasokan baru pada tahun ini,” katanya.
Ia menambahkan, “Berdasarkan permintaan yang terus kuat dan pasokan yang terbatas, kami memproyeksikan harga lahan industri akan mengalami tren kenaikan pada awal 2026 seiring meningkatnya kompetisi terhadap lahan siap bangun.”
Catatan penting bagi konsumen korporasi: volatilitas nilai tukar tetap menjadi risiko, mengingat transaksi banyak menggunakan denominasi USD.
EV dan Data Center Dorong Permintaan Baru
Permintaan lahan masih didominasi industri manufaktur—otomotif, tekstil, alat berat, dan barang konsumsi.
Baca Juga: Penataan Kawasan Kumuh di Lampung Jadi Prioritas Utama Menteri PKP
Namun sektor data center mulai tampil sebagai motor baru, terutama di kawasan GIIC.
Perubahan kebijakan Electric Vehicles (EV) turut memengaruhi lanskap permintaan.

Insentif fiskal untuk unit impor berakhir pada akhir 2025, dan mulai Januari 2026 produsen diwajibkan memenuhi persyaratan produksi lokal lebih ketat.
Kebijakan ini diperkirakan menggeser kebutuhan penyewa ke industri perakitan otomotif dan komponen baterai.
Artinya, kebutuhan lahan industri berpotensi tetap solid dalam jangka menengah.
Baca Juga: REIWA Experience Center Hadir di Semarang: Solusi Hunian Modern dengan Pusat Elektronik Estetik
Bagi investor, pertanyaannya sederhana: masuk sekarang saat harga rata-rata USD 177 per m², atau menunggu dengan risiko kenaikan lanjutan?
Pasar sudah memberi sinyal—kompetisi lahan akan semakin intens.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com





