PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Data center global diproyeksikan memasuki fase supercycle hingga 2030, dengan total investasi yang diperkirakan mencapai USD 3 triliun.
Laporan Global Data Center Outlook 2026 dari JLL menegaskan bahwa lonjakan kebutuhan kecerdasan buatan (AI) menjadi katalis utama, sekaligus membuka peluang strategis bagi Indonesia sebagai pasar pertumbuhan data center di Asia Tenggara.
Sejalan dengan tren tersebut, pertumbuhan sektor data center global diperkirakan akan berlangsung agresif dalam lima tahun ke depan.
JLL mencatat kapasitas data center dunia akan hampir berlipat ganda, dari 103 gigawatt (GW) saat ini menjadi sekitar 200 GW pada 2030.
Ekspansi ini menuntut investasi masif yang diproyeksikan menembus USD 3 triliun, mencakup peningkatan nilai aset properti sebesar USD 1,2 triliun serta pembiayaan utang baru sekitar USD 870 miliar.
Menurut JLL, kondisi ini menandai dimulainya supercycle investasi infrastruktur digital global, dimana data center menjadi tulang punggung ekonomi berbasis teknologi.
Meski tumbuh cepat, indikator properti menunjukkan fundamental pasar tetap sehat dan tidak mengarah pada risiko gelembung.
Baca Juga: Jakarta Peringkat ke-20 Biaya Konstruksi Data Centre 2025
“Kami sedang menyaksikan transformasi paling signifikan dalam infrastruktur data center sejak era awal migrasi cloud,” ujar Matt Landek, Global Division President, Data Centers and Critical Environments JLL.
Ia menambahkan, hyperscaler global bahkan mengalokasikan hingga USD 1 triliun belanja data center hanya dalam periode 2024–2026, di tengah keterbatasan pasokan dan tantangan koneksi listrik yang dapat memakan waktu hingga empat tahun.
AI Menjadi Penggerak Utama Transformasi Data Center Global
Salah satu temuan kunci JLL adalah meningkatnya dominasi beban kerja AI. Pada 2030, sekitar 50% kapasitas data center global diperkirakan akan digunakan untuk kebutuhan AI, melonjak dari sekitar 25% pada 2025.
Bahkan, JLL memproyeksikan 2027 sebagai titik krusial ketika kebutuhan AI inference melampaui training.
Baca Juga: INPP Optimistis Tutup 2025, Laba Tembus Rp493,9 Miliar dan Penjualan Properti Naik 49,8%
“Kami melihat munculnya paradigma infrastruktur baru. Fasilitas pelatihan AI membutuhkan kepadatan daya hingga 10 kali lebih besar dan mampu menghasilkan tarif sewa sekitar 60% lebih tinggi dibandingkan data center konvensional,” kata Andrew Batson, Global Head of Data Center Research JLL.
Tak hanya berdampak pada properti, kontribusi pendapatan dari chip AI juga diproyeksikan melonjak hingga 50% dari total pasar semikonduktor global pada 2030.
Teknologi baru seperti custom silicon dan neuromorphic computing mulai dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi energi sekaligus menekan kebutuhan infrastruktur jangka panjang.
Indonesia Masuk Peta Pertumbuhan Data Center Asia Tenggara
Tren global tersebut tercermin kuat di Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memproyeksikan industri data center nasional tumbuh sekitar 14% per tahun hingga 2028, seiring meningkatnya jumlah pengguna internet dan akselerasi ekonomi digital.
Baca Juga: Bukan Sekadar Tren, Inilah Standar Baru Hunian Modern Terintegrasi
Sementara itu, World Bank memproyeksikan permintaan data center di Indonesia tumbuh hingga 16,8% per tahun, menegaskan fundamental jangka panjang sektor ini.
“Investor properti di Indonesia kini semakin aktif mendiversifikasi portofolio ke sektor alternatif yang menawarkan stabilitas dan pertumbuhan jangka panjang. Data center menjadi salah satu segmen paling menarik, berdampingan dengan logistik, kesehatan, dan pendidikan,” ujar Farazia Basarah, Country Head JLL Indonesia.
Secara geografis, kawasan CBD Jakarta tetap relevan karena kedekatannya dengan internet exchange point.
Di luar Jabodetabek, Cikarang dan Karawang diminati hyperscaler berkat kawasan industri matang dan akses listrik mandiri. Batam pun mulai dilirik sebagai calon hub data center regional berkat keunggulan konektivitas lintas negara.
Fundamental Pasar Kuat, Tantangan Energi Jadi Isu Kunci
Meski pertumbuhan pesat, JLL mencatat fundamental pasar data center global masih sangat solid.
Tingkat okupansi mencapai 97%, sementara 77% proyek yang sedang dibangun telah memiliki komitmen penyewa.
Baca Juga: Royal Key Sinar Mas Land Bidik Penjualan Rp3,6 Triliun dari 1.400 Unit Properti
Tarif sewa global diperkirakan tumbuh rata-rata 5% per tahun hingga 2030, dengan kawasan Amerika memimpin di kisaran 7% per tahun.
Namun, tantangan utama tetap pada ketersediaan energi. Rata-rata waktu tunggu koneksi listrik di pasar utama kini melampaui empat tahun, mendorong sejumlah operator mendanai pembangkit listrik mereka sendiri atau menerapkan skema bring your own power.
“Sistem penyimpanan energi baterai (BESS) dan kombinasi energi terbarukan akan menjadi pilar utama strategi energi data center global menuju 2030,” ujar Martin Jensen, EMEA Division President, Data Centers JLL.
Di Indonesia, isu ketersediaan listrik, air bersih, konektivitas, serta kesiapan talenta dinilai menjadi faktor penentu daya saing di tengah kompetisi regional yang semakin ketat.
Baca Juga: Areum Residence Diluncurkan, Travelio Bidik Segmen Premium Lewat Standar Hunian Hotel-Grade

Pasar Modal dan Arah Investasi Data Center
Aktivitas pasar modal di sektor data center juga terus menguat. Sejak 2020, nilai transaksi merger dan akuisisi (M&A) global telah melampaui USD 300 miliar.
Pembentukan core fund data center global diproyeksikan menembus USD 50 miliar pada 2026, dengan target imbal hasil minimal 10%.
Baca Juga: Hunian Modern dengan Gaya Hidup Sehat di Summarecon Crown Gading
Instrumen pembiayaan seperti ABS dan CMBS semakin dimanfaatkan untuk mendukung ekspansi, menegaskan posisi data center sebagai salah satu kelas aset properti paling strategis dalam dekade mendatang.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com






