PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Aktivitas renovasi dan pembangunan rumah yang semakin masif belakangan ini ternyata menyimpan satu risiko yang jarang dibicarakan.
Data Surveilans Nasional menunjukkan bahwa 1 dari 7 anak terpapar timbal di Indonesia, sebuah angka yang membuka mata soal kondisi lingkungan hunian saat ini.
Baca Juga: Material Bangunan Aman dari Timbal: 5 Fakta Penting yang Perlu Diketahui Pemilik Rumah
Paparan tersebut tidak selalu berasal dari sumber yang mencolok. Dalam banyak kasus, cat rumah lama yang mulai mengelupas justru menjadi salah satu penyumbang utama, tanpa disadari oleh penghuni.
Cat Rumah Lama dan Risiko yang Sering Diabaikan
Pada banyak hunian, terutama yang telah berusia cukup lama, kondisi cat yang pudar atau mengelupas sering dianggap hal biasa. Fokus biasanya hanya pada tampilan visual. Padahal, kondisi ini bisa menjadi pintu masuk paparan zat berbahaya.
Arsitek dan Urban Designer dari KIND Architects, Adjie Negara, mengingatkan bahwa ruang memiliki peran lebih dari sekadar fungsi fisik.
“Setiap ruang yang dibangun tidak hanya menjadi tempat beraktivitas, tetapi juga menjadi fondasi bagi lingkungan hidup yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan,” ujarnya dalam diskusi media, Rabu (8/4/2026).
Baca Juga: Punya Formulasi Baru Cat Tanpa Timbal, Mowilex Adakan Penukaran Cat Baru
Ketika cat lama mulai rusak, lapisannya dapat terdegradasi menjadi partikel sangat halus. Partikel ini bisa terhirup atau menempel pada tangan, terutama pada anak-anak yang masih sering berinteraksi langsung dengan permukaan rumah.
Situasi menjadi lebih berisiko saat renovasi dilakukan. Proses pengamplasan atau pengikisan cat lama dapat mempercepat penyebaran partikel tersebut ke udara.
Tanpa penanganan yang tepat, paparan justru meningkat pada fase yang seharusnya memperbaiki kondisi rumah.
Dampak Paparan Timbal terhadap Kesehatan Anak
Timbal merupakan logam berat yang cukup luas penggunaannya di berbagai sektor industri. Sifatnya yang stabil dan tahan korosi membuatnya banyak dimanfaatkan, termasuk dalam material bangunan di masa lalu.
Ahli Kimia dari FMIPA Universitas Indonesia, Yuni Krisyuningsih Krisnandi, menjelaskan bahwa paparan timbal dapat terjadi melalui udara maupun tertelan dari partikel di lingkungan.
“Paparan timbal, bahkan dalam kadar rendah, dapat merusak berbagai sistem organ tubuh,” ujarnya.
Dampaknya pada anak-anak menjadi perhatian utama. Sistem saraf yang masih berkembang membuat efeknya lebih signifikan dibanding orang dewasa.
Dokter Spesialis Anak, dr. Reza Fahlevi, menyebutkan, “Paparan timbal berdampak pada perkembangan otak, sehingga dapat menyebabkan penurunan kemampuan kognitif, prestasi belajar yang lebih rendah, berkurangnya rentang perhatian, serta gangguan perilaku.”
Paparan ini tidak selalu terasa langsung. Dalam banyak kasus, efeknya muncul perlahan, seiring akumulasi paparan dalam jangka waktu panjang.
Baca Juga: Pembangunan Pabrik Pintu Baja Fortress Capai 80%, Siap Genjot Produksi Massal di Akhir 2026
Pada orang dewasa, timbal dikaitkan dengan gangguan ginjal dan penyakit kardiovaskular. Sementara pada ibu hamil, paparan dapat memengaruhi janin, termasuk risiko kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah.
Regulasi Cat Bebas Timbal dan Tantangan Implementasi
Upaya pengendalian sebenarnya sudah ada. Indonesia telah memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI) yang mengatur batas kandungan timbal dalam cat, sejalan dengan rekomendasi global di bawah 90 ppm
Namun dalam praktiknya, penerapan standar tersebut masih belum merata. Statusnya yang belum wajib membuat pasar masih diisi oleh berbagai produk dengan kualitas yang beragam.
Data lain menunjukkan sekitar 44,8% masyarakat masih tinggal di rumah dengan potensi penggunaan cat bertimbal.
Baca Juga: 4 Keunggulan Vivace E Schneider Electric, Sakelar Modern yang Aman dan Elegan untuk Rumah
Kondisi ini menunjukkan adanya gap antara regulasi dan implementasi di lapangan. Kesadaran masyarakat juga menjadi faktor penting, karena pemilihan material sering kali masih didasarkan pada harga dan ketersediaan.
Di sisi lain, tren global mulai bergerak ke arah penggunaan material yang lebih aman dan berkelanjutan. Konsep lead-free perlahan menjadi standar baru, bukan lagi sekadar pilihan tambahan.
Implikasi terhadap Hunian dan Nilai Properti

Perubahan cara pandang terhadap kualitas hunian mulai terlihat. Tidak hanya soal lokasi dan desain, tetapi juga keamanan material yang digunakan.
Hunian dengan material yang lebih aman cenderung menawarkan kualitas hidup yang lebih baik. Dalam jangka panjang, hal ini juga dapat berdampak pada nilai properti, terutama di pasar yang semakin sadar akan aspek kesehatan.
Baca Juga: Renovasi Rumah Jelang Lebaran 2026: 4 Rekomendasi Lantai SPC TACO yang Bikin Hunian Lebih Hangat
Material bangunan kini mulai dipandang sebagai bagian dari investasi. Bukan hanya soal biaya awal, tetapi juga risiko jangka panjang yang mungkin muncul.
Sebaliknya, penggunaan material yang tidak memenuhi standar bisa menjadi potensi masalah di kemudian hari, baik dari sisi kesehatan maupun persepsi pasar terhadap properti tersebut.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com





