BERITA TERKAIT

Pasar Properti 2026 Masuk Fase Transisi: Pasok Baru Turun hingga 80%, Pemulihan Mulai Terlihat

Pasar properti mulai bergerak ke arah pemulihan, tetapi belum merata di semua sektor. Strategi pelaku industri berubah, dari ekspansi agresif menjadi lebih selektif dan efisien.

PropertiTerkini.com(JAKARTA) — Pasar properti 2026 mulai menunjukkan arah yang lebih jelas menuju pemulihan. Aktivitas terlihat meningkat sejak awal tahun, meskipun belum sepenuhnya kuat dan belum merata di semua sektor.

Pergerakan yang terjadi tidak datang dari lonjakan permintaan besar, melainkan dari dinamika yang lebih halus. Relokasi kantor, perubahan strategi bisnis, hingga munculnya sumber permintaan baru menjadi pendorong utama pergerakan pasar saat ini.

Baca Juga: Aturan WFH ASN Berlaku, Apakah Gedung Kantor di Jakarta Bakal Makin Sepi?

Di saat yang sama, tekanan masih terasa. Daya beli yang lebih selektif dan kondisi global membuat pelaku industri memilih langkah yang lebih hati-hati.

“Pasar properti sudah mulai menunjukkan arah ke fase pemulihan, meskipun belum sepenuhnya merata di semua sektor,” ujar Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia dalam Colliers Virtual Media Briefing Q1 2026, Rabu (8/4/2026).

Situasi ini membuat pasar tidak terlihat lesu, tetapi juga belum bisa disebut ekspansif. Ada pergerakan, namun dengan ritme yang lebih terukur.

Pasar Properti 2026: Transisi dari Ekspansi ke Penyerapan

Perubahan paling terasa datang dari sisi pasokan. Dalam beberapa tahun ke depan, tambahan unit baru turun drastis dibanding periode sebelumnya.

Data menunjukkan, pasok apartemen periode 2026–2029 hanya sekitar 3.100 unit, jauh di bawah periode 2020–2025 yang mencapai sekitar 19.300 unit.

Baca Juga: Properti Tangerang Salip Jakarta Selatan, 14,8% Pencarian Terkonsentrasi di Koridor Barat

Jika dihitung, penurunannya mendekati 80% secara kumulatif. Penurunan ini bukan sekadar perlambatan. Ini mencerminkan perubahan strategi besar di kalangan developer. Proyek baru tidak lagi menjadi prioritas utama.

“Developer sekarang jauh lebih selektif. Mereka tidak lagi agresif mengeluarkan proyek baru, tapi lebih fokus menghabiskan stok lama,” kata Ferry.

Pendekatan ini terlihat hampir di semua sektor. Fokus bergeser dari ekspansi ke penyerapan, dari mengejar pertumbuhan ke menjaga stabilitas.

Di sektor apartemen, kondisi ini terlihat jelas. Harga relatif stabil di kisaran Rp36 juta hingga Rp36,2 juta per meter persegi. Namun sekitar 60% transaksi justru berasal dari unit siap huni.

Artinya, pembeli lebih memilih kepastian. Proyek yang masih dalam tahap konstruksi cenderung kurang diminati, kecuali di segmen atas.

Pergerakan Pasar Ditopang Adaptasi, Bukan Lonjakan Permintaan

Jika dilihat lebih dalam, pemulihan yang terjadi saat ini bukan karena pasar kembali kuat secara tiba-tiba. Justru sebaliknya, pasar bergerak karena pelaku industri mulai beradaptasi.

Baca Juga: 5 Keuntungan Gedung Bersertifikasi Hijau: Solusi Hemat Biaya dan Kepatuhan ESG

Hampir semua sektor menjalankan strategi yang lebih realistis dan efisien. Developer menahan ekspansi, operator meningkatkan efisiensi, dan penyewa menjadi lebih selektif dalam mengambil keputusan.

Di sektor perkantoran, misalnya, permintaan memang mulai naik, tetapi sebagian besar berasal dari relokasi, bukan ekspansi.

“Permintaan sudah mulai naik, tapi yang dominan itu relokasi. Perusahaan pindah ke gedung yang lebih efisien atau lebih berkualitas,” jelas Ferry.

Kondisi ini membuat pasar masih berada dalam posisi tenant market, di mana penyewa memiliki daya tawar yang kuat. Paket sewa yang kompetitif menjadi faktor utama yang menjaga aktivitas tetap berjalan.

Di sisi lain, sumber permintaan baru mulai muncul. Sektor kendaraan listrik (electric vehicle) mulai mendorong kebutuhan di sektor industri, sementara di ritel, ekonomi berbasis gaya hidup menjadi penggerak baru.

Perubahan ini tidak langsung terlihat besar, tetapi cukup untuk menjaga pasar tetap bergerak.

Baca Juga: Wajah Ekonomi Jakarta 2026: Transformasi Ritel dan Industri Jadi Penjaga Resiliensi Nasional

Siapa yang Terdampak dan Apa Risikonya?

Perubahan arah pasar ini berdampak langsung pada tiga pihak utama, yakni developer, investor, dan konsumen.

Developer kini harus menahan ekspansi dan fokus menyerap stok lama. Berbagai strategi digunakan, mulai dari diskon, subsidi KPR, hingga bonus furnitur untuk menarik pembeli.

Investor menjadi lebih berhati-hati. Biaya kepemilikan seperti service charge tetap berjalan, bahkan ketika unit belum menghasilkan. Hal ini membuat minat investasi, terutama di apartemen, cenderung menurun.

Sebaliknya, pengguna langsung (end-user) justru menjadi penggerak utama pasar. Pembelian lebih didorong kebutuhan nyata dibanding spekulasi.

Namun ada catatan penting. Permintaan yang ada saat ini belum sepenuhnya organik.

Baca Juga: Mengejar Makna di Trans Jawa: Saat Travoy Mengubah Perjalanan dari Tebakan Jadi Perencanaan

Pasar masih bergantung pada stimulus, seperti insentif PPN DTP 100% yang berlaku sepanjang 2026. Tanpa insentif tersebut, penyerapan berpotensi melemah.

Di sisi lain, tekanan global juga belum hilang. Kenaikan harga material dan potensi inflasi dapat mendorong biaya konstruksi naik, yang pada akhirnya akan memengaruhi harga properti ke depan.

Stabil, Tapi Masih Menunggu Momentum

insentif PPN DTP 100% 2026
Kebijakan PPN DTP 100% 2026 diharapkan memacu gairah pasar properti di kawasan strategis. Foto gedung apartemen dan perkantoran di kawasan Sudirman, Jakarta. (Pius Klobor/PropertiTerkini.com)

Pasar properti 2026 tidak berada dalam kondisi stagnan. Pergerakan tetap ada, bahkan mulai mengarah ke pemulihan.

Namun pemulihan ini berjalan bertahap dan tidak merata.

Di satu sisi, penurunan pasok hingga 80% membantu menyeimbangkan pasar. Di sisi lain, kondisi ini juga berpotensi membatasi pilihan produk baru dalam beberapa tahun ke depan.

Untuk sektor tertentu seperti perkantoran, pemulihan penuh bahkan diperkirakan masih membutuhkan waktu sekitar 2–3 tahun untuk kembali ke level sebelum pandemi.

Baca Juga: 1 dari 7 Anak Terpapar Timbal, Ancaman Tersembunyi dari Cat Rumah Lama

Pada akhirnya, pasar tidak sedang melemah. Pasar hanya bergerak dengan cara yang berbeda.

Lebih hati-hati. Lebih selektif. Dan, untuk sementara waktu, tidak terburu-buru.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page