PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Harga rumah di Bekasi dan Depok yang menunjukkan tren penguatan signifikan hingga akhir tahun lalu, diyakini akan terus berlanjut hingga awal tahun 2026, menurut laporan terbaru Flash Report Rumah123, edisi Januari 2026.
Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi para pencari hunian dan investor properti di wilayah penyangga Jakarta untuk segera mengambil langkah strategis.
Baca Juga: Harga Rumah Sekunder Turun 0,3%, Kawasan Industri Bekasi–Subang Justru Makin Dilirik Investor
Berdasarkan data indeks harga properti sekunder, Bekasi berhasil mencatatkan pertumbuhan harga tahunan (year-on-year) sebesar 2,4 persen, menjadikannya salah satu kota dengan kenaikan harga tertinggi di Indonesia pada periode ini.
Kenaikan harga ini tidak hanya terjadi dalam hitungan tahunan, tetapi juga terlihat dalam dinamika bulanan yang cukup progresif.
Depok, misalnya, mencatatkan kenaikan harga rumah secara bulanan (month-on-month) sebesar 1,3 persen, sebuah angka yang tergolong tinggi untuk pertumbuhan dalam satu bulan di kawasan Jabodetabek.
Fenomena ini menarik perhatian karena terjadi saat volume suplai properti secara nasional justru tercatat mengalami kontraksi sebesar 9,1 persen secara tahunan, yang berarti kelangkaan stok unit siap huni mulai terasa di pasar.
Bagi konsumen, kenaikan harga ini menjadi isu krusial karena berkaitan langsung dengan keterjangkauan daya beli di tengah situasi ekonomi makro yang dinamis.
Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang bertahan di level 4,75 persen sejak September 2025 menjadi katalisator utama yang menjaga gairah pasar tetap hidup.
Baca Juga:Â Harga Rumah Seken di Depok Naik 3,8%, Tertinggi di Jabodetabek
Dengan bunga yang relatif stabil dan cenderung rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, beban cicilan KPR menjadi lebih terprediksi, meskipun harga pokok aset properti terus merangkak naik secara perlahan di kota-kota satelit.
Pentingnya memantau pergerakan harga di awal tahun ini juga didasari oleh profil popularitas wilayah yang terus bergeser.
Meskipun Tangerang masih mendominasi pangsa pasar pencarian dengan persentase 13,9 persen, Bekasi dan Depok terus membayangi sebagai alternatif utama bagi kelas menengah.
Dengan pertumbuhan infrastruktur yang semakin matang dan konektivitas transportasi massal yang kian terintegrasi, potensi kenaikan nilai aset atau capital gain di kedua wilayah ini diprediksi akan terus berlanjut sepanjang kuartal pertama tahun 2026.
Analisis Pertumbuhan Harga Rumah di Bekasi dan Depok Menurut Flash Report 2026
Data dari Flash Report Rumah123 edisi Januari 2026 mengungkapkan bahwa Bekasi telah keluar dari fase kontraksi yang sempat dialaminya pada sebagian besar periode tahun 2025.
Sebelumnya, dari Januari hingga Oktober 2025, Bekasi sempat mengalami penurunan harga di kisaran -0,7 persen hingga 1,4 persen, namun mulai menunjukkan pemulihan sejak November 2025.
Baca Juga:Â Kota Bekasi Bertransformasi Menuju Kota Metropolis
Keberhasilan Bekasi mencatatkan kenaikan tahunan 2,4 persen pada Desember 2025 menunjukkan adanya penguatan fundamental pasar yang didorong oleh tingginya permintaan rumah tapak di koridor timur Jakarta.
Di wilayah Depok, dinamika harga menunjukkan pola yang sedikit berbeda namun tetap menjanjikan bagi para pemilik aset.
Secara tahunan, kenaikan harga di Depok memang masih tipis di angka 0,1 persen, namun lonjakan 1,3 persen secara bulanan menunjukkan adanya sentimen positif jangka pendek yang sangat kuat.
Lonjakan bulanan ini bahkan melampaui pertumbuhan kota-kota besar lainnya di Jawa seperti Bandung (0,2%) atau Surabaya (0,4%), yang mengindikasikan bahwa Depok sedang mengalami percepatan penyesuaian harga di awal tahun ini.
CEO 99 Group Indonesia, Wasudewan, dalam laporan tersebut menekankan pentingnya data yang akurat bagi masyarakat dalam mengambil keputusan properti.
Pihaknya menyatakan bahwa Flash Report ini dirancang untuk menjadi referensi terpercaya yang mencakup tren harga, suplai pasar sekunder, hingga analisis makro ekonomi.
Baca Juga:Â 7 Keunggulan Teknologi Biocrystal Serta dalam Mendukung Kualitas Tidur dan Kesehatan Mental
“Kami berharap laporan bulanan ini bermanfaat bagi masyarakat luas dalam memantau perkembangan tren pasar, khususnya di sektor properti sekunder yang terus dinamis,” jelas kutipan dalam laporan tersebut yang menyoroti komitmen akurasi data pasar.
Bagi calon investor, data ini memberikan gambaran bahwa Bekasi dan Depok adalah wilayah yang memiliki daya tahan (resilience) tinggi.
Meskipun inflasi tahunan nasional (IHK) tercatat berada di level 2,92 persen, pertumbuhan harga di Bekasi yang mendekati angka inflasi tersebut menunjukkan bahwa properti di sana mampu menjaga nilai aset dari gerusan ekonomi.
Dengan median harga yang masih kompetitif dibandingkan Jakarta, kedua wilayah ini tetap menjadi instrumen investasi yang “safe haven” bagi mereka yang ingin mengamankan modal di sektor riil.
Faktor Makro dan Risiko Investasi Properti yang Perlu Diwaspadai
Keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen menjadi angin segar bagi ekosistem properti nasional di awal 2026.
Suku bunga yang stabil ini diharapkan mampu menekan laju kenaikan bunga kredit perbankan, sehingga masyarakat tetap memiliki akses yang luas terhadap pembiayaan perumahan.
Baca Juga:Â AQUA Elektronik 39 Tahun: Strategi Produk Rumah Tangga 2026 di Tengah Perubahan Hunian Modern
Namun, konsumen juga perlu memperhatikan bahwa inflasi tahunan saat ini (2,92%) tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan indeks harga rumah nasional secara umum yang hanya 0,7 persen, sehingga pemilihan lokasi yang spesifik seperti Bekasi dan Depok menjadi kunci utama kesuksesan investasi properti.
Pertumbuhan harga rumah di Bekasi dan Depok yang berada di atas rata-rata nasional memberikan indikasi bahwa kedua kota ini memiliki faktor penarik yang lebih kuat dibandingkan rata-rata kota lain di Indonesia.
Faktor tersebut meliputi keberadaan kawasan industri yang masif di Bekasi serta pusat pendidikan dan pemukiman yang matang di Depok.
Namun, risiko likuiditas tetap harus dipertimbangkan, mengingat suplai pasar sekunder secara nasional sedang terkontraksi, yang bisa berarti persaingan dalam mencari unit berkualitas akan semakin ketat dan proses negosiasi harga mungkin akan lebih alot.

Catatan penting bagi calon pembeli adalah adanya penurunan proporsi popularitas tahunan di wilayah Depok sebesar 0,8 persen meskipun harganya naik.
Hal ini bisa mengindikasikan bahwa sebagian konsumen mulai mencari alternatif di wilayah lain karena harga di lokasi-lokasi premium Depok yang sudah mulai tinggi.
Investor disarankan untuk mencari properti di area pengembangan baru yang masih memiliki potensi pertumbuhan infrastruktur di masa depan agar tetap mendapatkan selisih harga atau capital gain yang optimal saat akan dijual kembali nantinya.
Sebagai kesimpulan, berinvestasi properti di Bekasi dan Depok pada tahun 2026 tetap merupakan pilihan yang bijak asalkan didasarkan pada data pasar yang valid.
Baca Juga:Â Properti Bebas Banjir Jadi Isu Utama: Alasan Samera Group Optimistis Pasar Hunian Pulih 2026
Dengan tren kenaikan tahunan Bekasi yang mencapai 2,4 persen dan momentum pertumbuhan bulanan Depok sebesar 1,3 persen, pasar properti di wilayah penyangga masih jauh dari titik jenuh.
Konsumen diharapkan terus memantau pergerakan data bulanan dan kebijakan moneter pemerintah untuk memastikan setiap transaksi properti yang dilakukan dapat memberikan nilai tambah yang maksimal di masa depan.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com




