BERITA TERKAIT

5 Alasan Mixed-Use Development Jadi Strategi Bisnis Modern, The Arumaya Jawab Tren Near Me Economy

Bagi perusahaan yang mempertimbangkan kontrak jangka panjang atau ekspansi bisnis, kawasan dengan konektivitas tinggi dan sertifikasi hijau dinilai memiliki prospek nilai yang lebih stabil, bahkan berpotensi meningkat dalam jangka panjang.

PropertiTerkini.com(JAKARTA) — Mixed-use development kian menguat posisinya sebagai strategi bisnis modern di tengah dinamika urbanisasi dan perubahan pola kerja masyarakat perkotaan.

Di Jakarta, tantangan mobilitas, efisiensi waktu, hingga kebutuhan akan ekosistem kerja terintegrasi mendorong perusahaan dan pelaku usaha mencari solusi properti yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Baca Juga: Astra Property Gelar Topping Off Arumaya Financial Center, Gedung Premium TB Simatupang Siap Beroperasi 2026

Data menunjukkan, rata-rata waktu tempuh pekerja di Jakarta mencapai 1–2 jam per hari, sementara proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan sekitar 67 persen penduduk Indonesia akan tinggal di kawasan perkotaan pada 2035.

Kondisi ini mendorong pergeseran preferensi terhadap lokasi bisnis yang tidak sekadar strategis, tetapi juga terintegrasi secara fungsional.

Dalam konteks tersebut, konsep mixed-use development dinilai mampu menjawab kebutuhan bisnis modern.

Berikut lima alasan kuat mengapa model pengembangan ini semakin menjadi pilihan strategis, sebagaimana tercermin pada pengembangan The Arumaya di Jakarta Selatan.

Baca Juga: Green Office di CBD Jakarta 37%, Knight Frank Catat Definisi dan Permintaannya Kian Matang

1. Mixed-Use Development Dekat dengan Konsumen dan Tren Near Me Economy

Perilaku konsumen mengalami perubahan signifikan. Pencarian layanan berbasis lokasi terdekat atau near me meningkat tajam, seiring preferensi masyarakat terhadap kemudahan akses tanpa perjalanan panjang.

Bagi pelaku usaha ritel dan kuliner, berada di kawasan mixed-use development berarti menempatkan bisnis langsung di jalur aktivitas harian ribuan orang.

Sementara bagi penyewa perkantoran, kedekatan dengan beragam fasilitas memberikan dampak langsung terhadap efisiensi waktu, produktivitas, dan kenyamanan karyawan.

2. Fasilitas Terintegrasi Dorong Work-Life Balance Karyawan

Mixed-use development menggabungkan hunian, perkantoran, dan area komersial dalam satu kawasan terpadu. Konsep ini secara nyata memangkas jarak antarkegiatan penting dalam kehidupan urban.

Baca Juga: Strategi Broker Properti Surabaya: 7 Perubahan Perilaku Konsumen yang Mengubah Peta Pasar

Akses mudah ke fasilitas kesehatan, olahraga, hingga pilihan kuliner tidak hanya meningkatkan kualitas hidup karyawan, tetapi juga berkontribusi pada produktivitas jangka panjang.

Bagi tenant ritel, konsentrasi pekerja profesional dengan daya beli stabil menciptakan ekonomi siang hari yang konsisten, berbeda dengan kawasan komersial tunggal yang cenderung fluktuatif.

3. Akses ke Pasar Multi-Segmen yang Lebih Stabil

Keunggulan utama mixed-use development terletak pada keberagaman segmen pengguna, mulai dari penghuni residensial, pekerja kantoran, hingga pengunjung eksternal. Masing-masing segmen memiliki pola konsumsi berbeda, dari pagi hingga malam hari.

Bagi pelaku usaha, kondisi ini menciptakan arus pengunjung yang stabil dan sumber pendapatan yang lebih terdiversifikasi.

Baca Juga: Paramount Petals Tawarkan Promo Akhir Tahun 2025, Cashback hingga Rp50 Juta

Dibandingkan kawasan dengan satu fungsi utama, mixed-use development menawarkan ketahanan bisnis yang lebih kuat terhadap dinamika pasar.

4. Efisiensi Operasional dan Komitmen Keberlanjutan

Ekosistem terintegrasi memungkinkan efisiensi operasional yang sulit dicapai pada pengembangan properti konvensional.

Infrastruktur bersama seperti sistem keamanan terpadu, manajemen parkir terpusat, dan logistik yang efisien membantu menekan biaya operasional tenant.

Selain itu, banyak mixed-use development modern telah mengadopsi teknologi hemat energi dan meraih sertifikasi bangunan hijau.

Baca Juga: Bangun Huntap Pascabencana di Sumut, Kementerian PKP Gandeng Yayasan Buddha Tzu Chi

Bagi perusahaan yang mengedepankan prinsip keberlanjutan, hal ini memberikan nilai tambah bagi reputasi dan persepsi publik terhadap komitmen lingkungan.

5. Stabilitas Nilai Investasi Jangka Panjang

Diversifikasi fungsi dan segmen pengguna membuat mixed-use development relatif lebih tahan terhadap fluktuasi ekonomi. Ketika satu sektor mengalami perlambatan, sektor lain dapat menjadi penyeimbang.

Bagi perusahaan yang mempertimbangkan kontrak jangka panjang atau ekspansi bisnis, kawasan dengan konektivitas tinggi dan sertifikasi hijau dinilai memiliki prospek nilai yang lebih stabil, bahkan berpotensi meningkat dalam jangka panjang.

The Arumaya, Implementasi Mixed-Use Development Modern di Jakarta Selatan

Baca Juga: TEKCE, Perusahaan Properti Asal Spanyol Luncurkan Program Partner dan Affiliate, Bidik Kolaborasi Properti Lintas Negara

Aerial view mixed-use development The Arumaya Jakarta Selatan
Aerial view kawasan mixed-use development The Arumaya yang memadukan perkantoran, hunian, dan ruang terbuka hijau dalam satu kawasan terintegrasi di Jakarta Selatan. (Dok. Astra Property)

Menjawab kebutuhan tersebut, Astra Property menghadirkan The Arumaya, sebuah kawasan mixed-use development yang berlokasi strategis di R.A. Kartini, Jakarta Selatan.

Berdiri di atas lahan seluas 25.792 meter persegi, The Arumaya mengintegrasikan Arumaya Financial Center sebagai area perkantoran dan komersial, serta Arumaya Residences yang dirancang untuk gaya hidup urban modern.

“Kami merancang The Arumaya dengan filosofi Simply Integrated, Smartly Connected. Konsep mixed-use development ini bukan hanya tentang menyatukan berbagai fungsi dalam satu kawasan, tetapi juga menciptakan ekosistem yang mendukung gaya hidup urban yang lebih sehat, efisien, dan berkelanjutan,” ujar Demmy Indranugroho, Head of Leasing Management and Corporate Communications Astra Property.

Sebagai wujud komitmen terhadap keberlanjutan, Arumaya Financial Center telah meraih sertifikasi Gold Certified Green Building dari Green Building Council Indonesia (GBCI). Proyek ini juga telah memasuki tahap topping off pada Oktober 2025.

Baca Juga: Pendapatan RISE Tumbuh 31 Persen, 3 Proyek Baru Siap Beroperasi pada 2026

“Dengan progres pembangunan ini, kami semakin dekat dengan visi menciptakan kawasan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan fungsional bisnis, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi lingkungan dan komunitas,” tutup Demmy.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page