PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Perubahan perilaku masyarakat urban dalam menikmati ruang publik menjadi faktor utama pergeseran tren properti saat ini. Pusat perbelanjaan tertutup tidak lagi menjadi satu-satunya magnet kunjungan, seiring meningkatnya permintaan akan pengalaman dan interaksi sosial di ruang terbuka. Pergeseran psikologis konsumen ini menjadi landasan strategis bagi PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) atau Paradise Indonesia dalam memetakan ekspansi bisnis di sektor ritel dan perhotelan.
Data terbaru dari Knight Frank Indonesia mengonfirmasi transformasi besar di sektor ritel melalui konsep outdoor is the new indoor. Willson Kalip, Country Head Knight Frank Indonesia, menyebutkan bahwa era experience-led retail kini menjadi pembeda utama di pasar.
Baca Juga: Paradise Indonesia Tumbuh 32,9%: Kas Naik 113%, Sinyal Ekspansi Properti Makin Agresif
“Konsep yang mampu menghadirkan open-air lifestyle, social space, dan kurasi tenant yang relevan terbukti lebih resilien dalam fase pemulihan pasar,” ujar Willson, beberapa waktu lalu.
Temuan ini selaras dengan kondisi perhotelan dimana wisatawan lokal menjadi tulang punggung utama. Laporan SiteMinder’s Hotel Booking Trends menunjukkan pangsa tamu domestik di hotel-hotel Indonesia mencapai 48% sepanjang 2025, naik 5,6 poin persentase dari tahun sebelumnya.
Fifin Prapmasari, Country Manager SiteMinder Indonesia, menjelaskan bahwa data tersebut mencerminkan kebangkitan perjalanan domestik yang signifikan. “Peningkatan permintaan dari wisatawan lokal tercermin jelas dari pemesanan hotel, di mana Indonesia mencatat kenaikan tahunan sebesar 19% dalam perjalanan domestik, tertinggi kedua secara global setelah Kanada,” ungkap Fifin.
Kondisi pasar saat ini memunculkan fenomena bifurkasi atau pemisahan nasib antar-segmen properti. Ritel premium dengan desain berkualitas tetap menunjukkan performa kuat, sementara ritel kelas menengah bawah mulai mengalami tekanan okupansi.
Risiko ketertinggalan menjadi ancaman bagi pengembang yang tidak adaptif terhadap kecepatan perubahan tren. Oleh karena itu, Paradise Indonesia memilih untuk memperkuat posisi di segmen lifestyle yang bersifat ikonik guna menjaga stabilitas kinerja.
Presiden Direktur & CEO Paradise Indonesia, Anthony P. Susilo, menyatakan bahwa transformasi bisnis perusahaan difokuskan pada penguatan ketahanan kinerja melalui aset penghasil recurring income.
“Strategi Perusahaan difokuskan pada pembangunan struktur pendapatan yang tangguh secara fundamental yang ditopang oleh aset-aset penghasil pendapatan di segmen perhotelan dan komersial,” jelas Anthony.
Implementasi Konsep Terbuka dan Strategi 4M Paradise Indonesia di Semarang

Langkah nyata dari visi tersebut terlihat pada proyek-proyek yang dikembangkan oleh Paradise Indonesia, termasuk 23Semarang Shopping Center yang dijadwalkan mulai beroperasi pada Kuartal II 2026.
Baca Juga: 88 Plaza Balikpapan Hadirkan Urban District Modern Mulai Rp3 Miliar
Proyek ini menjadi bukti konkret penerapan strategi 4M perusahaan, yaitu fokus pada segmen Middle-up, skala Mid-size, pengembangan Mixed-use, dan berlokasi di Major cities. Dengan desain yang mengutamakan sirkulasi udara alami dan ruang publik luas, 23Semarang hadir sebagai destinasi gaya hidup yang menjawab kebutuhan ruang inovatif di Jawa Tengah.
Sejak awal, selain mengusung konsep iconic lifestyle destination, Paradise Indonesia melakukan pendekatan melalui pengembangan mixed-use property. Perusahaan tidak hanya mengandalkan satu segmen, melainkan memanfaatkan integrasi antar aset properti seperti perhotelan, komersial, dan kompleks residensial dalam satu kawasan untuk menguatkan arus pendapatan berulang.
Pengembangan konsep terbuka di Semarang merupakan respons terhadap efektivitas ruang ritel yang menawarkan pengalaman berbeda. Keberadaan 23Semarang Shopping Center tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi, tetapi juga dirancang sebagai pusat interaksi sosial yang terintegrasi.
Model bisnis ini sekaligus mengantisipasi perilaku wisatawan domestik yang, menurut Fifin Prapmasari, cenderung memiliki rentang waktu pemesanan yang lebih pendek, yakni rata-rata 19 hari, jauh di bawah rata-rata global sebesar 32 hari.
Baca Juga: Balikpapan Makin Berkilau, Ini 5 Potensi Kota Penyangga IKN yang Jadi Magnet Properti Baru
Selain aspek desain, kurasi penyewa menjadi faktor penentu dalam menghidupkan ekosistem properti. Paradise Indonesia menerapkan standar ketat dalam memilih brand di sektor FnB, fashion, dan gaya hidup untuk menjaga relevansi pasar.
“Bagi Paradise Indonesia, elemen penting dalam menciptakan lifestyle di sebuah properti tidak hanya berfokus pada fungsi, namun juga perlu memperhatikan bagaimana properti tersebut terasa, digunakan, dan diingat oleh pengunjung,” tambah Anthony.

Integrasi antara hotel dan mal dalam satu kawasan mixed-use terbukti meningkatkan visibilitas arus kas perusahaan. Melalui pola pengembangan ini, setiap unit bisnis saling mendukung tingkat kunjungan satu sama lain.
Strategi tersebut menciptakan kemudahan akses bagi konsumen yang menginginkan efisiensi waktu, selaras dengan pengamatan Knight Frank bahwa bangunan fisik ritel saat ini merupakan bagian penting dari ekosistem gaya hidup modern yang terus berkembang.
Keberlanjutan dan Ekspansi Strategis INPP di Kota Dinamis
Komitmen terhadap masa depan properti juga ditunjukkan melalui penyelarasan strategi dengan prinsip keberlanjutan (SDGs 2030). Konsumen kelas menengah ke atas kini memiliki kepedulian lebih tinggi terhadap isu lingkungan, sehingga penerapan efisiensi energi dan rencana sertifikasi green building menjadi keharusan.
Baca Juga: Paradise Indonesia Mantap Jaga Pertumbuhan Double Digit, Fokus Profitabilitas 2026
Langkah ini diambil untuk memastikan setiap properti milik Paradise Indonesia memiliki nilai investasi jangka panjang yang tetap relevan dengan tuntutan zaman.
Ekspansi ke kota-kota dinamis lainnya, seperti melalui proyek 88 Plaza di Balikpapan, mempertegas kecermatan perusahaan dalam melihat titik pertumbuhan ekonomi baru.
Di Balikpapan, pendekatan yang diambil adalah area komersial low-density yang lebih ramah bagi interaksi manusia, alih-alih membangun gedung tinggi yang padat. Strategi ini menunjukkan pemahaman terhadap daya serap pasar lokal tanpa mengesampingkan identitas eksklusif yang menjadi ciri khas perusahaan.

Secara keseluruhan, langkah yang diambil Paradise Indonesia merupakan proses adaptasi terhadap realitas pasar properti dan perhotelan tahun 2026. Sinergi antara data makro dari Knight Frank dan SiteMinder dengan eksekusi proyek di lapangan menciptakan diferensiasi yang kuat di industri.
Fokus pada penciptaan pengalaman menjadi kunci bagi pengembang untuk tetap kompetitif di tengah persaingan yang semakin tajam.
Baca Juga: Rahasia di Balik Mal yang Tetap Ramai Saat Belanja Online Menjamur: Ternyata Bukan Diskon!
Visi menjadi lifestyle developer menempatkan Paradise Indonesia pada jalur pertumbuhan yang stabil. Dengan landasan finansial yang ditopang oleh pendapatan berulang yang kuat, perusahaan optimistis dapat terus memimpin pasar properti gaya hidup.
Sebagaimana ditegaskan oleh Anthony P. Susilo, fokus utama tetap pada penciptaan ruang yang mampu memberikan pengalaman berkesan bagi setiap pengunjung dan penghuninya.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com




