PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Pasar perkantoran Jakarta saat ini tengah mengalami fenomena yang sangat berpihak pada penyewa (tenant market), yang sekaligus menjadi momentum emas bagi korporasi untuk mengunci ruang di gedung premium dengan harga yang jauh lebih kompetitif.
Kondisi ini dimanfaatkan secara cerdik oleh para investor dan perusahaan untuk mengamankan ruang sewa di gedung berkualitas tinggi yang terkelola dengan baik.
Mengapa hal ini sangat krusial saat ini? Karena meski permintaan perlahan pulih, pengembang masih bersikap hati-hati dalam konstruksi baru, sehingga peluang untuk menegosiasikan fasilitas terbaik di lokasi strategis masih terbuka lebar.
Dampaknya sangat terasa bagi penyewa yang ingin meningkatkan prestise kantor mereka tanpa harus terbebani biaya sewa setinggi periode sebelum pandemi.
Mengenai aspek biaya, para penyewa kini berada di atas angin dengan adanya selisih yang cukup besar antara penawaran tarif dasar sewa dan harga yang ditransaksikan, yakni berkisar antara 10% hingga 30%.
Besaran potongan ini sangat bergantung pada ukuran unit yang diambil serta posisi negosiasi penyewa.
Selain harga yang lebih rendah, pemilik gedung juga menawarkan berbagai insentif tambahan seperti masa bebas sewa (rent-free period) dan dukungan biaya perbaikan atau fit-out untuk menarik minat penyewa.
Namun, terdapat catatan penting bagi para pelaku usaha: aktivitas konstruksi di masa depan diperkirakan akan tetap selektif dan dilakukan secara bertahap, sehingga ketersediaan ruang di lokasi paling strategis mungkin akan semakin terbatas seiring waktu.
Dinamika Pasar Perkantoran Jakarta: Dominasi Perpanjangan Sewa dan Ekspansi Korporasi
Ferry Salanto, Head of Research, memberikan gambaran mendalam mengenai tren yang terjadi sepanjang setahun terakhir.
“Tingkat permintaan pasar perkantoran di sepanjang 2025 masih didominasi oleh perpanjangan masa sewa. Sebagai tambahan, jumlah perusahaan yang melakukan relokasi juga meningkat dibandingkan 2024. Hal ini diharapkan menjadi sinyal penting semakin meningkatnya kepercayaan korporasi,” ujar Ferry.
Peningkatan jumlah relokasi ini membuktikan bahwa perusahaan mulai berani mengambil langkah strategis untuk menempati ruang yang lebih berkualitas demi mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang mereka.
Kepercayaan diri korporasi ini juga tercermin dari pergeseran strategi ruang kantor yang sebelumnya sangat terbatas.
Ferry menambahkan, “Selain itu, aktivitas ekspansipun menjadi lebih menonjol dibandingkan pengurangan ruang, menandakan pergeseran dari strategi efisiensi ruang pascapandemi menuju siklus pertumbuhan yang lebih sehat.”
Hal ini secara perlahan memperbaiki kinerja tingkat hunian gedung perkantoran di Jakarta, terutama untuk gedung-gedung Grade A dan premium yang berada di lokasi strategis.
Dengan meningkatnya okupansi, pemilik gedung di masa depan mungkin akan memiliki kepercayaan diri lebih untuk melakukan penyesuaian tarif sewa.

Bagi pengembang, Jakarta tetap dipandang sebagai pusat bisnis utama di Indonesia yang memiliki potensi besar.
Meski demikian, fokus utama pengembangan saat ini telah bergeser pada kualitas desain dan pemenuhan kebutuhan spesifik penyewa untuk tetap kompetitif.
Efisiensi biaya tetap menjadi pertimbangan utama bagi para penyewa dalam menentukan gedung perkantoran yang akan dihuni, namun mereka kini juga mempertimbangkan nilai tambah dari insentif yang ditawarkan.
Kondisi pasar yang dinamis ini mengharuskan para penyewa untuk segera mengambil keputusan strategis sebelum keseimbangan pasar kembali bergeser ke arah pemilik gedung seiring membaiknya ekonomi nasional.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com







