Friday, June 18, 2021

Proyek MRT Jakarta: Mimpi Panjang 30 Tahun, Diprioritaskan Jokowi, hingga Terima Kasih dari Anies

Proyek MRT Jakarta direncanakan sejak tahun 1985. Tiang pancang pertama oleh Gubernur Foke, dimasukkan prioritas anggaran di saat Gubernur Jokowi dan groundbreaking tahun 2013. Maret ini, Fase I resmi beroperasi dan dilanjutkan groundbreaking Fase II. Bahkan, akan dilanjutkan pembangunan Timur-Barat, juga di tahun ini.

Propertiterkini.com – Mimpi panjang Indonesia untuk memiliki moda transportasi massal Mass Rapid Transit atau Moda Raya Terpadu (MRT), akirnya terwujud. Transportasi massal rel yang kembali digaungkan di masa kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta itupun kini melintas mulus membelah ‘perut’ jalur protokol Ibukota.

Baca Juga: 12 Kereta MRT Jakarta Tiba di Tanjung Priok

Jokowi yang kini sebagai Presiden RI pun meresmikan pengoperasian MRT Jakarta Fase I sepanjang 15,7 kilometer, setelah melakukan uji coba sejak 12-24 Maret lalu. Bertempat di area Bundaran Hotel Indonesia Jakarta, Minggu (24/3/2019), ribuan masyarakat jadi saksi ketika sirine mengaung oleh sang Presiden.

Lantas, bagaimana sejarah panjang penantian 30 tahun proyek MRT Jakarta tersebut?

Mengutip sejarah MRT pada laman jakartamrt.co.id, disebutkan bahwa rencana pembangunan MRT di Jakarta sesungguhnya sudah dirintis sejak Orde Baru di tahun 1985. Namun, saat itu proyek MRT belum dinyatakan sebagai proyek nasional. Pada tahun 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan bahwa proyek MRT Jakarta merupakan proyek nasional.

Berangkat dari kejelasan tersebut, maka Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai bergerak dan saling berbagi tanggung jawab. Pencarian dana disambut oleh Pemerintah Jepang yang bersedia memberikan pinjaman.

Pada 28 November 2006 penandatanganan persetujuan pembiayaan Proyek MRT Jakarta dilakukan oleh Gubernur Japan Bank for International Cooperation (JBIC) Kyosuke Shinozawa dan Duta Besar Indonesia untuk Jepang Yusuf Anwar.

JBIC pun mendesain dan memberikan rekomendasi studi kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Telah disetujui pula kesepakatan antara JBIC dan Pemerintah Indonesia, untuk menunjuk satu badan menjadi satu pintu pengorganisasian penyelesaian proyek MRT ini.

Untuk diketahui, PT Mass Rapid Transit Jakarta (PT MRT Jakarta) berdiri pada tanggal 17 Juni 2008. Berbentuk badan hukum Perseroan Terbatas dengan mayoritas saham dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (struktur kepemilikan: Pemprov DKI Jakarta 99.98%, PD Pasar Jaya 0.02%)​.

Baca Juga: Tahun Depan, Banyak yang Beralih ke Transportasi Massal Kereta

progres MRT jakarta
Terowongan jalur MRT di Sudirman, Jakarta./ Foto: Padre – Propertiterkini.com

Kembali, JBIC kemudian melakukan merger dengan Japan International Cooperation Agency (JICA). JICA bertindak sebagai tim penilai dari JBIC selaku pemberi pinjaman.

Dalam jadwal yang dibuat JICA dan MRT Jakarta, desain teknis dan pengadaan lahan dilakukan pada tahun 2008-2009, tender konstruksi dan tender peralatan elektrik serta mekanik pada tahun 2009-2010.

Sementara pekerjaan konstruksi direncanakan akan dimulai pada tahun 2010-2014. Sedangkan uji coba operasional rencananya dimulai pada tahun 2014. Namun lantaran berbagai kendala, maka jadwal tersebut tidak terpenuhi.

Baru di 26 April 2012, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo meresmikan pencanangan persiapan pembangunan MRT di Stadion Lebak Bulus, Jakarta.

Namun dalam perjalanannya, proyek MRT Jakarta ini pun bergerak lebih lambat dari yang ditargetkan. Di tahun 2013, Jokowi yang saat itu menjabat sebagai gubernur memasukannya sebagai salah satu proyek prioritas dalam anggaran Jakarta tahun 2013. Dan ditegaskan melalui groundbreaking yang dilakukan pada Oktober 2013.

Baca Juga: Tambah LRT di Tiga Kota, Jokowi: Transportasi Massal Harus Jadi Budaya

Proyek MRT Jakarta dimulai dengan pembangunan jalur MRT Fase I sepanjang ± 16 kilometer dari Bundaran Hotel Indonesia hingga Terminal Lebak Bulus yang memiliki 13 stasiun berikut 1 Depo. Adapun dari ke-13 stasiun itu, tujuh stasiun layang dan enam stasiun bawah tanah.

proyek mrt jakarta fase I
Uji Coba MRT Jakarta Fase I, Rabu (20/3/2019)./ Foto: Padre – Propertiterkini.com

Pembangunan jalur MRT Fase I menjadi awal sejarah pengembangan jaringan terpadu dari sistem MRT yang merupakan bagian dari sistem transportasi massal DKI Jakarta pada masa yang akan datang.

Pengembangan selanjutnya meneruskan jalur Sudirman menuju Ancol (disebut jalur Utara-Selatan) serta pengembangan jalur Timur-Barat. Groundbreaking Fase II ini pun telah diresmikan oleh Presiden Jokowi bersamaan dengan pengoperasian Fase I.

“Tadi juga sudah saya perintahkan kepada pak Gubernur untuk memulai rute Timur-Barat (East-West), juga dimulai tahun ini,” tegas Jokowi.

Baca Juga: Ada Transjakarta di Prajawangsa City, Ini Rutenya

Dalam laporannya, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengatakan bahwa proses pembangunan MRT telah melalui proses panjang, penuh liku.

“Mulai dari ide, perancangan, hingga pembangunan melalui jalan yang panjang dan pasang surut. Izinkan kami menyampaikan terima kasih kepada para gubernur yang telah mengawal dan mendorong proses MRT ini. Gubernur Sutiyodo, Fauzi Bowo, Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama, dan Djarot Saiful Hidayat. Juga kepada Pemerintah Pusat, dalam hal ini Bapak Presiden dan Wakil Presiden yang telah mendukung dan mengawal prosesnya,” ucap Anies.

Adapun selama Maret dan April ini, kereta MRT akan beroperasi mulai pukul 05.30 WIB hingga 22.30 WIB dengan delapan kereta. Namun setelah itu, akan dioperasikan 16 rangkaian kereta yang beroperasi mulai pukul 05.00 WIB hingga 24.00 WIB setiap hari.

“Untuk tahap awal, kami targetkan sebanyak 65 ribu penumpang dan selanjutnya sebanyak 130 ribu penumpang per hari di tahun depan,” lanjut Anies.

Proyek MRT Jakarta Fase I ini juga telah terintegrasi dengan BRT Transjakarta dan tersambung dengan kereta commuterline dan kereta KAI (kereta bandara).

“Hari ini sebuah peradaban baru akan kita mulai yaitu dengan dioperasikannya MRT Jakarta Fase I. Ini adalah sebuah budaya baru karena merupakan MRT yang pertama,” kata Jokowi.

Baca Juga: Di Hadapan Anies, Presiden Bicara Soal Normalisasi Sungai

Di hadapan ribuan warga yang hadir, Jokowi mengingatkan agar dapat selalu menjaga kebersihan, baik di stasiun maupun di dalam kereta. Selanjutnya, juga mengutamakan antre daripada berdesak-desakan.

Konsumen MRT akan dikenakan tarif normal mulai 1 April mendatang. [Update] Adapun besaran tarif MRT tersebut telah diketok palu oleh DPRD DKI Jakarta sebesar Rp8.500 dari Lebak Bulus ke Bundaran HI. Tarif tersebut terdiri atas dua komponen, yakni boarding fee sebesar Rp1.500 ditambah unit price per kilometer (harga per kilometer) yang dikalikan jarak.  

3 COMMENTS

BERITA TERKAIT

PROPERTI TV

BERITA TERBARU