PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Meski memiliki penghasilan pas-pasan alias setara Upah Minimum Regional (UMR), generasi Z (Gen Z) dinilai tetap memiliki kesempatan realistis untuk membeli dan memiliki rumah pertama.
Kuncinya terletak pada strategi pengelolaan keuangan dan investasi yang tepat, dilakukan secara konsisten sejak awal bekerja, serta didukung pemilihan instrumen finansial yang sesuai dengan tujuan jangka menengah hingga panjang.
Di tengah kenaikan harga properti dan biaya hidup perkotaan yang terus meningkat, kepemilikan rumah kerap dipersepsikan sebagai target yang sulit dijangkau generasi muda.
Namun, dengan perencanaan keuangan yang disiplin—mulai dari menyisihkan sebagian penghasilan, membangun dana darurat, hingga berinvestasi secara rutin—target mengumpulkan dana uang muka atau down payment (DP) rumah dinilai tetap dapat diwujudkan, bahkan oleh Gen Z yang memulai karier dengan gaji UMR.
Berdasarkan Indonesia Millennial and Gen Z Report 2025 yang dirilis IDN Research Institute, sebanyak 39 persen Milenial dan Gen Z mengaku kesulitan menabung DP rumah.
Kondisi tersebut mencerminkan masih rendahnya kesiapan finansial generasi muda dalam menghadapi kebutuhan jangka panjang, termasuk kepemilikan hunian.
Baca Juga: IZZI, Hunian untuk Keluarga Muda Hadir di BSD City, Harga Mulai Rp1 Miliaran
Strategi Investasi Gen Z Menuju Rumah Pertama
Isu tersebut mengemuka dalam sesi online talk show bertajuk Smart Investing: Roadmap Menuju Rumah Pertama yang digelar oleh Nanovest bersama Pinhome.
Diskusi ini membahas strategi keuangan yang relevan bagi Gen Z agar dapat membangun pondasi finansial menuju kepemilikan rumah, termasuk bagi mereka yang masih berpenghasilan setara UMR.
Research Analyst Nanovest, Edo Ardiansyah, menekankan pentingnya membangun kebiasaan menyisihkan penghasilan sejak awal bekerja. Menurutnya, besaran gaji bukan menjadi satu-satunya penentu keberhasilan mengumpulkan DP rumah.
“Untuk Gen Z dengan penghasilan sekitar Rp5–6 juta per bulan, menyisihkan minimal 30 persen dari gaji merupakan langkah awal yang masih realistis. Jika memungkinkan, porsinya bisa ditingkatkan hingga 50 persen, karena kebutuhan DP rumah biasanya cukup besar,” ujar Edo.
Baca Juga: One Global Capital Bagikan Dividen Natal Perdana 18,5 Persen Usai Transformasi Eastlakes
Ia menjelaskan bahwa pengumpulan DP rumah idealnya dilakukan dalam jangka waktu tiga hingga lima tahun, dengan setoran rutin setiap bulan.
Setelah porsi tabungan ditetapkan, langkah berikutnya adalah memilih instrumen investasi yang sesuai dengan profil risiko serta tujuan keuangan.
Contoh Alokasi Investasi Jangka Menengah 3–5 Tahun
Dalam sesi tersebut, Edo juga memaparkan contoh alokasi portofolio investasi untuk target jangka menengah.
Ia menyebutkan komposisi 50 persen saham global (US Stocks), 30 persen emas digital, dan 20 persen aset kripto bagi investor yang siap dengan risiko lebih tinggi.
Baca Juga: Strategi Broker Properti Surabaya: 7 Perubahan Perilaku Konsumen yang Mengubah Peta Pasar
“Dengan alokasi seperti ini dan disiplin menabung minimal 30 persen dari gaji setiap bulan, dalam tiga sampai lima tahun biasanya sudah cukup untuk mengumpulkan DP rumah pertama, terutama jika kinerja instrumen berjalan optimal,” jelasnya.
Meski demikian, Edo mengingatkan bahwa setiap individu perlu menyesuaikan strategi investasi dengan kondisi masing-masing.
Menurutnya, kunci utama keberhasilan bukan pada besarnya modal awal, melainkan konsistensi, pengelolaan risiko, serta kesiapan mental dalam menjalani proses investasi jangka menengah hingga panjang.
Ia juga menyarankan agar Gen Z memprioritaskan pembentukan dana darurat sebelum mulai berinvestasi secara agresif, sehingga stabilitas keuangan tetap terjaga ketika menghadapi kondisi tak terduga.
Baca Juga: 6 Tahun Beroperasi, Living Plaza Jababeka Hadirkan Tenant Baru dan Wajah Modern
Gaji UMR Bukan Penghalang Gen Z Memiliki Rumah
Pandangan optimistis juga disampaikan CEO & Founder Pinhome, Dayu Dara Permata. Ia menilai kepemilikan rumah pertama sangat mungkin diwujudkan, bahkan bagi mereka yang memulai karier dengan gaji UMR, selama dilakukan secara konsisten dan berorientasi jangka panjang.
“Daya penghasilan seseorang akan meningkat seiring waktu. Nominal yang terasa berat hari ini bisa menjadi jauh lebih ringan di masa depan. Misalnya, menabung Rp2 juta per bulan mungkin terasa sulit sekarang, tetapi dua atau tiga tahun ke depan, saat penghasilan meningkat, angka tersebut tidak lagi terasa sebesar hari ini,” ungkap Dara.
Menurutnya, meskipun harga rumah terus mengalami kenaikan, konsistensi menabung dan berinvestasi tetap menjadi faktor penentu agar target kepemilikan rumah pertama dapat dicapai.
Baca Juga: 5 Destinasi #arsitekTOUR untuk Liburan Akhir Tahun, Cara Baru Menikmati Kota dengan Lebih Bermakna
Ia menegaskan bahwa membangun mindset yang kuat sejak awal karier merupakan fondasi penting dalam perjalanan finansial generasi muda.
Langkah Lanjutan: Memilih KPR yang Tepat

Setelah dana DP berhasil dikumpulkan, langkah berikutnya adalah memilih skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang sesuai dengan kemampuan finansial.
Kesalahan dalam memilih KPR berpotensi menjadi beban jangka panjang jika tidak dicermati sejak awal.
Dara menekankan pentingnya memahami syarat dan ketentuan KPR, mulai dari suku bunga, tenor, hingga skema cicilan.
“Melalui Pinhome, pengguna dapat mengecek berbagai pilihan KPR, melakukan simulasi cicilan, hingga berkonsultasi KPR secara gratis, termasuk layanan KPR Take Over, baik melalui aplikasi maupun website,” ujarnya.
Baca Juga: Armani Hallson KLCC Bidik Investor Indonesia dengan 2.215 Unit Apartemen
Dengan perencanaan keuangan yang matang, strategi investasi yang tepat, serta pemanfaatan platform digital properti, generasi Z dinilai memiliki peluang besar untuk mewujudkan impian memiliki rumah pertama—meskipun perjalanan tersebut dimulai dari gaji UMR.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com




