PropertiTerkini.com, (JEPANG) — IHG bangun hotel terbesar di Jepang melalui proyek terintegrasi tiga merek internasional di Osaka, tepatnya di kawasan Sakurajima, dekat Universal Studios Japan (USJ).
Proyek senilai ratusan juta dolar AS ini menjadi pengembangan hotel terbesar yang pernah dilakukan IHG Hotels & Resorts di Jepang dan menandai kolaborasi strategis dengan konsorsium lokal Sakurajima Kaihatsu LLC.
Baca Juga: Zumana Beach Club Bali, Destinasi Tepi Pantai Baru di Pantai Kuta
Dengan total 817 kamar dan target operasi pada 2029, proyek ini diposisikan sebagai motor baru pertumbuhan properti hospitality di kawasan Kansai.
Bagi pasar properti dan pariwisata, proyek ini bukan sekadar penambahan kamar hotel. Kehadirannya mempertegas arah investasi global ke sektor hospitality berbasis destinasi hiburan yang memiliki arus pengunjung stabil dan berjangka panjang.
Lokasinya yang bersebelahan dengan taman hiburan paling ramai di Asia membuat proyek ini relevan bagi investor, operator, hingga wisatawan internasional—termasuk dari Indonesia.
Proyek Hotel 817 Kamar: Skala, Lokasi, dan Siapa yang Terdampak
Peresmian proyek dimulai dengan seremoni peletakan batu pertama (groundbreaking) yang digelar di Konohana-ku, Osaka, sekaligus menandai proyek pembangunan tiga merek hotel untuk pertama kalinya di Jepang.
Proyek tersebut berada di kawasan tepi sungai yang berjarak sangat dekat dengan Universal Studios Japan serta sekitar 10 menit dari kawasan Integrated Resort Yumeshima yang tengah dikembangkan pemerintah Jepang.
Baca Juga: 130 Kamar Hotel Indigo Bali Ubud Siap Sambut Tamu pada 2027
Skala proyeknya besar: tiga hotel bermerek internasional yang saling terhubung dan akan beroperasi sebagai hotel resmi USJ.
Dari sisi pengembang, proyek ini digarap oleh Sakurajima Kaihatsu LLC, konsorsium yang dipimpin Kajima Corporation bersama JAPAN POST REAL ESTATE, SMFL MIRAI Partners, dan Keihanshin Building.
Bagi mereka, proyek ini adalah bagian dari transformasi kawasan Sakurajima menjadi destinasi mixed-use berbasis pariwisata dan hiburan.
Pihak yang terdampak langsung mencakup operator hotel, tenaga kerja lokal, pelaku UMKM pendukung pariwisata, hingga investor properti di Osaka.
Secara tidak langsung, proyek ini juga berdampak pada pasar hunian sewa, komersial, dan nilai lahan di sekitar USJ dan Yumeshima.
Mengapa Penting Sekarang: Momentum Pariwisata dan Infrastruktur
Timing proyek ini dinilai strategis. Jepang tengah menikmati pemulihan dan lonjakan pariwisata pascapandemi, didorong oleh pelemahan yen, ekspansi rute penerbangan, serta peningkatan kapasitas bandara.
Kansai International Airport baru saja menaikkan kapasitas hingga 40 juta penumpang per tahun, sementara akses kawasan diperkuat lewat perpanjangan JR Sakurajima Line dan pembukaan terminal feri baru.
Data Japan National Tourism Organization (JNTO) menunjukkan wisatawan asal Indonesia mencapai 558.900 orang sepanjang Januari–November 2025, naik 26,3% secara tahunan.
Indonesia kini masuk 8 besar pasar sumber wisatawan internasional Jepang. Angka ini menjadi dasar kuat bagi pengembangan hotel skala besar di destinasi utama seperti Osaka.
Menurut Abhijay Sandilya, Managing Director Japan & Micronesia IHG Hotels & Resorts, proyek ini menandai dua tonggak penting, yakni proyek hotel baru terbesar IHG di Jepang dan proyek tiga merek pertama IHG di negara tersebut.
Ia menegaskan bahwa lokasi dan kolaborasi ini memperkuat posisi IHG sebagai mitra resmi USJ dan satu-satunya operator hotel internasional di kawasan tersebut.
“Saat ini, IHG terus tumbuh di Jepang dimana kami mengoperasikan 57 hotel dari 10 merek dan 20 properti dalam tahap pengembangan. Trio hotel baru ini akan memperluas portofolio IHG menjadi 10 properti di Osaka dan 12 properti di kawasan Kansai,” terangnya.
Nilai Investasi, Segmentasi Pasar, dan Model Bisnis
Meski nilai investasi tidak diungkapkan secara resmi, proyek hotel 817 kamar dengan tiga merek internasional di Jepang umumnya bernilai ratusan juta dolar AS, mengingat standar konstruksi, fasilitas premium, dan lokasi super-prime.
Baca Juga: Stasiun Jatake BSD City Resmi Beroperasi, Dorong Kawasan Terintegrasi Berbasis Transportasi Massal
Model bisnisnya mengandalkan volume pengunjung USJ, wisatawan internasional, serta pasar MICE (meeting, incentive, convention, exhibition).
Segmentasi hotel dibagi jelas. InterContinental (244 kamar) menyasar pasar luxury dan korporasi dengan fasilitas ballroom dan rooftop pool.
Kimpton (246 kamar) membidik segmen lifestyle dan experiential traveler melalui konsep desain dan rooftop dining.
Sementara Holiday Inn Resort (327 kamar) diarahkan untuk pasar keluarga, dilengkapi kids club dan kolam anak.
Menurut Katsunori Ichihashi dari Kajima Corporation, pemilihan tiga merek dengan karakter berbeda bertujuan memperluas basis pengunjung dan memperpanjang lama tinggal wisatawan.
Pendekatan ini dinilai efektif untuk destinasi hiburan yang memiliki pola kunjungan berulang seperti USJ.
Baca Juga: Tumbuh 711%, Produk Komersial Maggiore @ Paramount Gading Serpong Jadi Rebutan Pasar
Risiko dan Catatan Penting bagi Investor Properti

(Foto: Dok. IHG)
Meski prospeknya kuat, proyek ini tetap memiliki risiko. Pertama, risiko siklus pariwisata global, termasuk fluktuasi ekonomi, geopolitik, dan nilai tukar.
Kedua, ketergantungan tinggi pada traffic USJ membuat kinerja hotel sangat terkait dengan performa taman hiburan tersebut.
Ketiga, proyek berskala besar memiliki risiko keterlambatan konstruksi dan pembengkakan biaya, terutama di tengah kenaikan biaya material dan tenaga kerja global.
Keempat, meski saat ini menjadi satu-satunya hotel internasional di kawasan, dalam jangka panjang potensi kompetisi baru tetap terbuka seiring berkembangnya Yumeshima sebagai integrated resort.
Bagi investor properti, proyek ini lebih relevan sebagai indikator arah pasar dan katalis kenaikan nilai kawasan, ketimbang produk investasi ritel langsung.
Nilai tambah utamanya terletak pada penguatan ekosistem destinasi, bukan semata yield jangka pendek.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com







