PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Ada satu kebiasaan kecil yang sering luput diperhatikan di rumah, yakni TV menyala berjam-jam, kadang bahkan tanpa benar-benar ditonton. Dari situ, konsumsi listrik pelan-pelan terakumulasi. Tidak terasa, tapi konsisten.
Di tengah kondisi ini, konsep TV hemat energi mulai mendapat relevansi baru. Bukan lagi sekadar fitur tambahan, tapi perlahan menjadi kebutuhan.
Baca Juga: RGB-MiniLED Hisense Hadir di IFA 2025: Layar 116-Inch dan Audio Sinematis
Di sinilah Hisense—merek elektronik dan alat rumah tangga—masuk dengan pendekatan yang agak berbeda. Bukan dengan gimmick besar, melainkan lewat inovasi yang justru tidak terlalu terlihat di permukaan.
TV Hemat Energi, dari Pabrik sampai Ruang Tamu
Kalau ditarik ke belakang, perubahan ini sebenarnya tidak dimulai dari produk jadi.
Pada 2025, fasilitas produksi Hisense di Huangdao mendapat pengakuan dari World Economic Forum sebagai Sustainability Lighthouse. Ini bukan sekadar label—tapi indikator bahwa proses manufaktur mereka sudah mengarah ke efisiensi berbasis AI.
Menariknya, pabrik lain milik Hisense juga diakui sebagai Customer Centricity Lighthouse, bahkan menjadi yang pertama di industri TV global.
Baca Juga: Sustainability Bukan Tren Lagi, Tapi Standar Baru Hotel Bintang Lima
Ada semacam pergeseran pola pikir di sini. Efisiensi tidak lagi hanya soal produk akhir, tapi sudah ditanam sejak tahap produksi.
Ketika masuk ke level pengguna, inovasi itu diterjemahkan dalam bentuk fitur yang sederhana, tapi fungsional. Salah satunya Adaptive Light Sensor, yang menyesuaikan kecerahan layar dengan kondisi cahaya sekitar.
Tidak terasa “wah”, tapi justru di situlah poinnya—hemat energi tanpa mengubah kebiasaan pengguna.
Ketika Efisiensi Mulai Terasa di Tagihan Listrik
Buat pengguna, dampaknya mulai terasa di hal yang paling konkret, yakni biaya bulanan.
TV yang menyala dalam durasi panjang jelas berkontribusi pada konsumsi listrik rumah. Ketika ada sistem yang otomatis mengatur penggunaan daya, efeknya memang tidak instan, tapi akumulatif.
Baca Juga: Proyektor Laser 4K Terkecil di Dunia: Inilah Hisense M2 Pro yang Siap Ubah Home Cinema
Hisense juga membawa pendekatan yang lebih detail, seperti penggunaan remote control tenaga surya di beberapa pasar. Hal kecil, tapi menunjukkan arah yang konsisten—mengurangi ketergantungan pada sumber daya sekali pakai.
Di titik ini, mulai terlihat perubahan cara pandang. Membeli TV tidak lagi hanya soal harga di awal, tapi juga soal efisiensi penggunaan dalam jangka panjang.
Dan di situlah istilah TV hemat energi mulai punya makna yang lebih praktis.
Tidak Instan, Tapi Mulai Jadi Standar Baru
Meski begitu, ada ekspektasi yang perlu diluruskan.
Efisiensi energi bukan sesuatu yang langsung terasa drastis dalam hitungan hari. Ini lebih seperti investasi—pelan, tapi konsisten.
Baca Juga: Panduan Lengkap Investasi Properti di Koridor Barat Jakarta 2026: Cuan atau Jebakan?
Selain itu, teknologi yang lebih canggih biasanya datang dengan harga awal yang sedikit lebih tinggi. Jadi, ada pertimbangan antara upfront cost dan long-term saving.

Di sisi lain, transparansi mulai jadi tuntutan. Hisense mencoba menjawab ini lewat pendekatan seperti Life Cycle Assessment (LCA) dan verifikasi jejak karbon produk.
Pendekatan ini penting, karena konsumen sekarang semakin kritis. Mereka tidak hanya melihat performa, tapi juga dampak lingkungan secara keseluruhan.
Kalau dilihat lebih luas, arah industri sebenarnya sudah cukup jelas. Perangkat elektronik rumah tangga bergerak ke satu titik, yaitu lebih efisien, lebih cerdas, dan lebih bertanggung jawab.
Baca Juga: ART Belum Balik? Ini Strategi Bertahan Hidup di Dapur Tanpa Drama
Dan mungkin, tanpa kita sadari, perubahan itu sudah mulai terjadi—di ruang tamu kita sendiri.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com





