Pintu Baja Fortress, Canggih untuk Keamanan Rumah Maksimal
Tuesday, January 13, 2026
Pintu Baja Fortress, Canggih untuk Keamanan Rumah Maksimal

BERITA TERKAIT

Pameran Teknologi Pendinginan, Ventilasi, Pemanas, dan Efisiensi Energi (Refrigeration & HVAC Indonesia)

Harga Rumah Sekunder Naik 0,2% di Akhir 2025, Ini 7 Fakta Penting Pasar Properti Indonesia

Harga rumah sekunder naik 0,2% di Desember 2025. Simak 7 fakta penting pasar properti Indonesia berdasarkan Flash Report Rumah123.

PropertiTerkini.com(JAKARTA) — Harga rumah sekunder di Indonesia mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,2% secara bulanan (month-on-month) pada Desember 2025, setelah sempat mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya.

Meski tergolong moderat, pergerakan ini menjadi sinyal penting di tengah tekanan inflasi dan tren perlambatan sepanjang 2025.

Baca Juga: PPN DTP 2026 Jadi Penentu Arah Pasar Hunian, Konsumen Makin Selektif

Data tersebut tertuang dalam Flash Report Januari 2026 yang dirilis Rumah123 bersama 99 Group, laporan bulanan yang memantau dinamika harga dan suplai rumah tapak di pasar sekunder nasional.

“Flash Report dihadirkan sebagai referensi data yang cepat, akurat, dan komprehensif bagi media, pelaku industri, hingga masyarakat dalam memahami arah pasar properti,” ujar Wasudewan, CEO 99 Group Indonesia.

Harga Rumah Sekunder Nasional Mulai Bergerak Positif, Suplai Turun

Harga rumah secara nasional tercatat naik 0,2% secara bulanan dan 0,7% secara tahunan (year-on-year) pada Desember 2025.

Dari 13 kota besar yang dipantau, 8 kota mencatatkan kenaikan harga bulanan, sementara 9 kota tumbuh positif secara tahunan.

Namun demikian, tren ini belum dapat dikategorikan sebagai pemulihan penuh. Sepanjang 2025, pertumbuhan harga rumah cenderung melambat jika dibandingkan periode 2023–2024, dengan tekanan utama datang dari inflasi dan penyesuaian daya beli masyarakat.

Baca Juga: Permen PKP 18/2025: 4 Poin Penting Atur Perizinan, Pengawasan, dan Sanksi Usaha Perumahan

Kota dengan kenaikan harga tahunan tertinggi tercatat di:

  • Denpasar: 2,5%

  • Bekasi: 2,4%

  • Makassar: 2,2%

Sementara itu, beberapa kota seperti Bogor dan Surakarta masih mencatatkan pertumbuhan negatif secara tahunan.

Dari sisi suplai, pasar rumah sekunder menghadapi tantangan yang tidak ringan. Volume suplai turun 1,0% secara bulanan dan melemah 9,1% secara tahunan.

Kontraksi suplai ini mencerminkan sikap wait and see dari pemilik properti, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan fluktuasi permintaan.

Sepanjang kuartal IV 2025, suplai tercatat terus terkontraksi dari bulan ke bulan, berbeda jauh dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang masih mencatatkan pertumbuhan dua digit.

Baca Juga: 1.464 Bisnis Baru Tumbuh, Kawasan Maggiore Gading Serpong Kian Fenomenal Jadi Magnet Investasi

Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasar masih berada pada fase konsolidasi, bukan ekspansi agresif.

Jabodetabek dan Kota Penyangga Masih Jadi Motor Pasar

Wilayah Jabodetabek tetap menjadi tulang punggung pasar properti nasional. Di kawasan ini:

  • Depok mencatatkan kenaikan harga bulanan sebesar 1,3%

  • Bekasi naik 0,4% secara bulanan dan 2,4% secara tahunan

Sementara Tangerang mencatatkan pertumbuhan tahunan 0,4%, menandakan pemulihan bertahap setelah tekanan sepanjang awal 2025.

Di luar Pulau Jawa, Makassar tampil menonjol dengan kenaikan harga bulanan 1,7%, sekaligus mencatatkan pertumbuhan median harga tertinggi untuk segmen rumah kecil dan besar.

Baca Juga: Strategi KPR Pasutri Baru: 5 Langkah Cerdas Atur Keuangan demi Rumah Pertama

Sedangkan dari sisi permintaan, data listing enquiries menunjukkan:

  • Tangerang menjadi lokasi paling populer dengan pangsa 13,9%

  • Disusul Jakarta Selatan (11,4%) dan Jakarta Barat (9,7%)

Kota-kota ini tetap menjadi primadona, meski secara bulanan beberapa wilayah mengalami penurunan proporsi minat, menandakan pasar yang semakin selektif.

Inflasi Lebih Tinggi dari Kenaikan Harga Rumah

Dari sisi makroekonomi, inflasi Desember 2025 tercatat 2,92% (YoY), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahunan harga rumah yang hanya 0,7%.

Gap ini menunjukkan bahwa secara riil, harga rumah belum sepenuhnya mengimbangi kenaikan harga barang dan jasa.

Baca Juga: Adopsi AI dan Cloud Meningkat, Namun Infrastruktur Perusahaan Masih Tertinggal

Bahkan dalam delapan bulan terakhir, inflasi konsisten berada di atas pertumbuhan indeks harga rumah.

Meski demikian, kebijakan moneter masih memberikan bantalan. Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%, setelah serangkaian penurunan sejak akhir 2024 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Rumah contoh di Golden Sawangan, gen z
Rumah contoh di Golden Sawangan, Depok. (Foto: GNA Group)

Sinyal Awal 2026: Stabil, Tapi Belum Agresif

Secara keseluruhan, data Desember 2025 menunjukkan stabilisasi awal pasar rumah sekunder, bukan lonjakan.

Kenaikan harga yang tipis, suplai yang masih tertekan, serta inflasi yang lebih tinggi dari pertumbuhan harga rumah menjadi kombinasi faktor yang perlu dicermati pada 2026.

“Perlambatan di akhir tahun umumnya mencerminkan siklus transaksi. Namun arah pasar 2026 perlu terus diamati, terutama pada kuartal awal,” demikian catatan tim riset 99 Group.

Baca Juga: Medical Suites D-HUB SEZ BSD City: 6 Lantai Fasilitas Medis Global untuk Dorong Ekosistem Kesehatan Terintegrasi

Bagi konsumen, kondisi ini membuka peluang negosiasi yang lebih rasional. Sementara bagi investor dan pelaku industri, 2026 akan menjadi tahun penentuan: bertahan dalam mode defensif, atau mulai membaca peluang ekspansi selektif.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com
ICBT 2025: Pameran Teknologi Pemeliharaan Fasilitas, Smart Building, dan Sustainability

BERITA TERBARU

Demo Half Page