PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Pasar properti Indonesia kini bergerak ke arah yang semakin digital dan berbasis data, seiring perubahan perilaku konsumen dalam mencari hunian. Di tengah pergeseran tersebut, fenomena generasi muda serbu properti makin terlihat jelas, dengan data Rumah123 menunjukkan lebih dari 50% pencari hunian berasal dari usia 18–34 tahun.
Perubahan ini bukan sekadar tren sesaat. Generasi muda mulai masuk pasar lebih cepat, memanfaatkan kemudahan digital untuk mencari, membandingkan, hingga mengambil keputusan pembelian properti.
Baca Juga: 63,5% Pencari Rumah Didominasi Generasi Muda, Ini Temuan 123 Property Recap 2025
Dampaknya terasa luas—developer harus menyesuaikan produk, agen dituntut lebih adaptif, dan perbankan mulai menawarkan skema pembiayaan yang lebih fleksibel.
Generasi Muda Serbu Properti: Data Rumah123 Ungkap Pola Baru
Data Rumah123 periode 2025 hingga awal 2026 menunjukkan bahwa kelompok usia 25–34 tahun mendominasi pencarian sebesar 25,7%, disusul usia 18–24 tahun sebesar 21,6%.
Artinya, keputusan membeli rumah kini dimulai lebih awal. Jika dulu usia 30-an baru serius, sekarang usia awal 20-an sudah aktif berburu properti.
Dari sisi lokasi, kawasan urban tetap menjadi magnet utama. Tangerang memimpin dengan 14,5% permintaan, diikuti Jakarta Selatan (11,7%) dan Jakarta Barat (10%).
Preferensi produk juga cukup tegas. Rumah tapak mendominasi pencarian hingga 59,8%, jauh melampaui apartemen (12,3%) dan ruko (8,6%).
Untuk harga, segmen paling dicari adalah:
- Di bawah Rp400 juta (17,3%)
- Rp400–650 juta (13,3%)
- Rp1–1,5 miliar (11,9%)
Ini mengirim sinyal kuat: pasar terbesar ada di segmen hunian terjangkau.
Transparansi Data Naik, Tapi Risiko Tetap Ada
Seiring meningkatnya aktivitas digital, Rumah123 menghadirkan fitur seperti Peta Harga Properti untuk membantu konsumen memahami harga pasar secara lebih transparan.
Baca Juga: Properti Tangerang Kuasai 56% Pasar Rumah Jabodetabek, Gading Serpong Jadi Magnet Hunian
CEO Rumah123, Wasudewan, menyatakan: “Komitmen kami tetap teguh untuk menghadirkan pengalaman pencarian properti yang transparan bagi masyarakat, sekaligus memberdayakan agen properti, pengembang, dan institusi perbankan.”
Fitur ini membuat proses pencarian lebih efisien. Konsumen bisa membandingkan harga lintas wilayah tanpa harus survei langsung.
Namun, transparansi data juga membawa risiko. Pertama, tidak semua konsumen memahami konteks data. Harga murah belum tentu berarti layak beli jika legalitas atau aksesnya bermasalah.
Kedua, kemudahan akses informasi bisa membuat keputusan terburu-buru tanpa perencanaan finansial yang matang.
Di sisi lain, inovasi seperti booster listing dengan metode pay later memberi fleksibilitas bagi agen untuk tetap kompetitif dalam pemasaran.
Baca Juga: ART Belum Balik? Ini Strategi Bertahan Hidup di Dapur Tanpa Drama
Masa Depan Properti: AI, Data, dan Keputusan Cepat
Transformasi digital tidak berhenti di data. Rumah123, sebagai bagian dari 99 Group, mulai mengarah pada pemanfaatan AI untuk meningkatkan pengalaman pengguna.
CEO 99 Group, Darius Cheung, mengatakan: “Kami percaya AI akan memainkan peran penting dalam mentransformasi cara masyarakat menemukan, mengevaluasi, dan memutuskan pembelian properti.”
Dalam 19 tahun perjalanannya, Rumah123 telah membantu lebih dari 70 juta masyarakat Indonesia mencari hunian, dengan menghadirkan lebih dari 2 juta listing dan dukungan 22.000 agen aktif, serta lebih dari 600 proyek developer di berbagai wilayah Indonesia.
Baca Juga: Tren Pasar Properti 2026: Peta Panas Serapan Rumah dari Tangerang ke Bekasi Terkuak
Bahkan, pada periode Januari–Maret 2026 saja, platform ini mencatat lebih dari 20 juta kunjungan, mempertegas perannya sebagai kanal utama pencarian properti digital.

Generasi Muda Jadi Penggerak Baru
Masuknya generasi muda ke pasar properti menjadi sinyal bahwa industri ini sedang beregenerasi.
Mereka lebih cepat, lebih digital, dan lebih berani mengambil keputusan.
Baca Juga: Paradise Indonesia Tumbuh 32,9%: Kas Naik 113%, Sinyal Ekspansi Properti Makin Agresif
Namun, di balik semua kemudahan teknologi, satu hal tetap tidak berubah—membeli properti adalah keputusan besar yang menuntut strategi, bukan sekadar insting.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com




