BERITA TERKAIT

Kalau Mau Beli Rumah di Tangerang, Ini Segmen yang Paling Aman

Pasar properti Tangerang sedang berubah arah di awal 2026. Di tengah banyak pilihan, tidak semua segmen punya tingkat risiko yang sama.

PropertiTerkini.com(JAKARTA) — Banyak orang mulai melirik kawasan penyangga Jakarta untuk mencari hunian yang lebih realistis. Rumah di Tangerang masih jadi pilihan, tapi sekarang situasinya tidak sesederhana dulu—pilih lokasi saja tidak cukup, segmen harga juga mulai menentukan “aman atau tidaknya” sebuah keputusan.

Di lapangan, perubahan ini cukup terasa. Ada yang mulai berani masuk ke rumah mewah, tapi di sisi lain, sebagian besar pembeli masih berhitung sangat ketat. Ini yang akhirnya membentuk pola pasar yang agak “terbelah”.

Baca Juga: Tren Sewa Rumah Menguat di Kota Besar, Apakah Konsumen Mulai Menunda Beli?

Menurut Dayu Dara Permata, CEO & Founder Pinhome, kondisi ini sebenarnya bukan tanda pasar melemah, tapi lebih ke arah penyesuaian.

Pasar properti Tangerang saat ini bergerak dinamis, dengan pertumbuhan tidak hanya di satu segmen, tetapi terjadi di beberapa lapisan sekaligus,” kata Dayu kepada PropertiTerkini.com.

Rumah di Tangerang: Segmen Harga Menengah Masih Jadi Pilihan Paling Aman

Kalau ditarik ke angka, gambarnya jadi lebih jelas. Data Pinhome menunjukkan bahwa meskipun pertumbuhan pencarian pada kuartal pertama 2026 didominasi segmen rumah mewah di atas Rp3 miliar—yang mencapai sekitar 15% dari total pencarian—secara volume, pasar masih dikuasai rumah tapak di rentang harga Rp600 juta hingga Rp1,5 miliar. Bahkan, segmen ini menyumbang porsi terbesar, yakni sekitar 36% dari total pencarian.

“Secara volume pencarian, rumah tapak di rentang harga Rp600 juta hingga Rp1,5 miliar masih menjadi yang paling banyak dicari,” tegas Dayu.

Baca Juga: 5 Dokumen Penting Sebelum Tanda Tangan KPR, Hindari Sengketa Mahal

Kalau dipikir-pikir, ini cukup masuk akal. Di rentang harga itu, pembelinya banyak. Mulai dari yang baru kerja beberapa tahun, pasangan muda, sampai keluarga kecil yang ingin upgrade dari kontrak ke rumah sendiri.

Selain itu, rumah di segmen ini biasanya tidak lama di pasar. Lebih cepat laku. Bukan karena kualitasnya selalu lebih baik, tapi karena jumlah orang yang mampu beli memang lebih banyak.

Dari sisi KPR juga masih “masuk hitungan”. Bank masih nyaman kasih pembiayaan, dan cicilannya tidak terlalu memberatkan. Jadi secara praktik, segmen ini memang terasa paling aman—baik untuk dihuni maupun kalau suatu saat ingin dijual lagi.

Naik ke Segmen Mewah? Potensi Ada, Tapi Tidak Semua Cocok

Menariknya, di saat yang sama, rumah di atas Rp3 miliar juga mulai banyak dilirik. Bahkan pertumbuhannya cukup terlihat.

Baca Juga: Properti Tangerang Kuasai 56% Pasar Rumah Jabodetabek, Gading Serpong Jadi Magnet Hunian

Ini biasanya datang dari investor atau pembeli yang sudah punya aset sebelumnya. Mereka melihat Tangerang bukan lagi sekadar alternatif, tapi mulai dianggap sebagai lokasi investasi serius.

Tapi di sini letak “rem”-nya. Pasarnya tidak sebesar segmen menengah. Pembelinya lebih spesifik, dan tidak setiap saat ada.

Artinya, kalau salah timing, rumah bisa lebih lama terjual. Tidak masalah kalau memang niatnya jangka panjang. Tapi kalau berharap cepat cair, ini perlu dipikir ulang.

Dalam praktik sehari-hari, sering kejadian: unit bagus, lokasi oke, tapi menunggu pembeli yang “pas” itu bisa cukup lama.

Baca Juga: Tren Pasar Properti 2026: Peta Panas Serapan Rumah dari Tangerang ke Bekasi Terkuak

Ujungnya Tetap Sama: Harga Masih Jadi Penentu

Banyak developer sekarang menawarkan konsep menarik—smart home, desain compact, bahkan integrasi teknologi. Secara tampilan, memang menggoda.

Tapi ketika masuk ke keputusan akhir, kebanyakan orang tetap kembali ke satu hal: harga!

“Konsumen masih sensitif terhadap keterjangkauan. Harga biasanya jadi pertimbangan pertama sebelum melihat faktor lain,” jelas Dayu.

Jadi meskipun desain penting, tetap harus realistis. Rumah yang terlalu “canggih” tapi di luar jangkauan, ujungnya hanya dilihat, bukan dibeli.

Baca Juga: Aneh Tapi Nyata: Saat Inflasi Naik, Harga Rumah Justru Turun

Di sinilah segmen menengah punya keunggulan. Tidak terlalu murah, tapi masih bisa dijangkau. Dan yang paling penting, relevan dengan kondisi mayoritas pembeli.

Kesimpulan: Aman Itu Bukan yang Paling Mahal

Summarecon Tangerang
Rumah contoh Cluster Havena Lakes dengan view danau, di Summarecon Tangerang. (Foto: Pius Klobor/PropertiTerkini.com)

Kalau tujuannya mencari rumah pertama, atau sekadar ingin bermain aman di properti, segmen Rp600 juta–Rp1,5 miliar masih jadi pilihan paling rasional untuk rumah di Tangerang.

Bukan berarti segmen lain tidak bagus. Tapi dalam kondisi pasar seperti sekarang, yang “aman” justru yang paling sesuai dengan kemampuan banyak orang.

Baca Juga: Generasi Muda Serbu Properti, Data Rumah123 Bongkar Faktanya

Kadang, keputusan terbaik bukan yang paling ambisius—tapi yang paling masuk akal.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page