PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Kondisi ekonomi yang dinamis sepanjang 2025 memberikan dampak signifikan terhadap lanskap pasar properti Indonesia 2026 yang kini mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan.
Masyarakat terpantau lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan besar akibat tekanan inflasi dan fluktuasi pasar keuangan.
Baca Juga: Tahun Kuda Api Memanas, KPR Take Over Jadi Solusi Jinakkan Inflasi yang Bakar Harga Rumah
Meski demikian, kebutuhan akan hunian tetap tinggi, terutama dengan adanya dukungan kebijakan pemerintah seperti PPN DTP yang berlaku hingga akhir 2027.
Fenomena stagnasi pada rumah baru (primer) terlihat dari penurunan suplai bulanan mencapai -14%, menurut Data Pinhome Indonesia Residential Market Report Semester 2 2025 & Outlook 2026.
Hal ini berbanding terbalik dengan inventori rumah sekunder yang justru tumbuh 5% setiap bulan, khususnya di wilayah penyangga Jakarta seperti Kabupaten Bogor, Kota Depok, dan Kota Tangerang Selatan yang masing-masing menyumbang 8% dari total penambahan inventori rumah seken.
“Tekanan ekonomi sepanjang 2025, mulai dari gelombang PHK hingga kenaikan biaya hidup, mendorong pemilik properti melepas aset mereka demi menjaga likuiditas,” jelas Dayu Dara Permata, CEO Founder Pinhome.
Strategi Pembiayaan di Pasar Properti Indonesia 2026
Konsumen kini mulai mengalihkan strategi dengan mencari properti yang lebih terjangkau dan siap huni guna menghindari biaya ganda.
Data mencatat minat terhadap KPR rumah sekunder telah melampaui rumah primer, dengan dominasi skema Take Over dan Top Up mencapai 74% dari total transaksi.
Baca Juga: Hunian Vertikal, Jawaban Kota Masa Depan yang Terus Bertumbuh
Strategi ini memungkinkan debitur mendapatkan cicilan bulanan yang lebih rendah melalui tenor kredit yang lebih panjang.
Tren ini mencerminkan prioritas utama masyarakat saat ini, yaitu mitigasi risiko suku bunga dan optimalisasi arus kas rumah tangga.
Fokus pada unit siap huni dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian global yang mempengaruhi harga energi dan inflasi.
Ke depan, pemulihan sektor ini akan sangat bergantung pada kemampuan sektor pembiayaan menjangkau segmen masyarakat bawah.
Fokus Permintaan di Kawasan Industri dan Infrastruktur
Pertumbuhan permintaan properti justru terkonsentrasi di kawasan industri seperti Cikarang yang naik 16% di semester 2 2025 dibandingkan semester sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut berbanding terbalik dengan kawasan residensial komuter di Bekasi yang justru mengalami koreksi permintaan yang cukup dalam pada semester 2 2025 dibandingkan semester 1 2025, seperti Tambun (-22%) dan Cibitung (-9%).
Baca Juga: Buruan Cek! Klaster NuOne Grand Wisata Bekasi Jadi Incaran Keluarga Muda di Tahun 2026
Perbedaan tren ini menegaskan bahwa kedekatan hunian dengan pusat aktivitas kerja kini menjadi prioritas utama, menjadikan dinamika sektor industri sebagai faktor kunci pembentuk permintaan properti di wilayah penyangga.
Selain itu, infrastruktur seperti Kereta Cepat Whoosh telah memicu lonjakan pencarian hunian di wilayah Bandung Timur hingga 31% di Rancaekek dan di Cileunyi naik 18%, pada pada semester 2 tahun 2025 dibandingkan semester 2 tahun 2024.

“Kenaikan ini turut didorong oleh progres pembangunan Tol Getaci (Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap),” ungkap Dara.
Di luar Pulau Jawa, kebijakan hilirisasi sumber daya alam turut mendorong pertumbuhan di wilayah Maluku Utara yang mencatat kenaikan tertinggi sebesar +11%, disusul Sulawesi Tengah (+8%) secara semesteran.
Tren ini menunjukkan munculnya pusat pertumbuhan properti baru yang tidak lagi bergantung pada kota-kota besar tradisional.
Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank, menekankan pentingnya kolaborasi kebijakan untuk mengatasi masalah keterjangkauan.
Baca Juga: Marketing Gallery Ecovia Dibangun, Rumah Rp1,1 Miliar Berkonsep Jepang Siap Dipasarkan
“Kolaborasi dalam pembiayaan dan infrastruktur diperlukan agar program perumahan benar-benar meningkatkan keterjangkauan, bukan sekadar menambah pasokan,” tutup Josua.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com




