PropertiTerkini.com, (NABIRE) — Provinsi Papua Tengah saat ini menghadapi tantangan besar sebagai wilayah dengan prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan tertinggi, sehingga kehadiran program sosial dari Bosch menjadi sangat krusial untuk meningkatkan kemandirian masyarakat.
Masalah ini mendesak karena Pola Pangan Harapan di Nabire merosot ke angka 78,0 persen pada 2024, dengan asupan energi hanya 1.853 kkal, di bawah standar nasional 2.100 kkal.
Baca Juga: 3 Inovasi Cerdas Bosch yang Bikin Hidup Lebih Mudah dan Produktif
Merespons kondisi tersebut, Bosch Indonesia mengambil langkah strategis dengan menyulap lahan pekarangan di SDN Muko, Distrik Yaro, menjadi kebun produktif dan kandang ternak.
Isu ini sangat penting mengingat pemenuhan gizi anak-anak menjadi fondasi masa depan, di mana saat ini lebih dari 220 siswa dari enam suku berbeda menggantungkan pendidikan mereka di sekolah tersebut.
Nilai investasi yang dikucurkan Bosch untuk program pertanian berkelanjutan tahun ini mencapai lebih dari 144 juta rupiah.
Angka ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan yang telah menyalurkan total dana sekitar Rp1,4 miliar (85.000 Euro) sejak tahun 2018 untuk mendukung berbagai inisiatif kesejahteraan di wilayah Nabire.
Meski memberikan dampak signifikan, terdapat catatan penting terkait risiko keberlanjutan yang memerlukan perpaduan teknik modern dan tradisi lokal agar tetap produktif.
Baca Juga: 2 Cara Jitu Kelola Keuangan Gen Z di 2026 ala SeaBank agar Tetap Bisa Ngopi
Pendampingan intensif selama satu tahun menjadi kunci agar masyarakat dan pihak sekolah mampu mengelola bibit unggul serta hewan ternak secara mandiri untuk jangka panjang.
Inovasi Pemberdayaan Masyarakat Global oleh Bosch
Kepala SDN Muko, Agustina Taihuttu, menceritakan perubahan luar biasa di sekolahnya berkat dukungan Bosch yang telah dimulai sejak tujuh tahun lalu melalui penyediaan fasilitas pendidikan.
“Kini, setelah ada asrama dan fasilitas belajar yang memadai, lebih dari 220 siswa dari sekitar enam suku berbeda dapat menempuh pendidikan di sekolah ini,” jelas Agustina mengenai dampak nyata bagi anak-anak korban konflik.
Hasil panen dari kebun dan ternak dimanfaatkan sepenuhnya untuk mencukupi kebutuhan gizi harian siswa di asrama serta melibatkan warga dalam distribusinya.
Baca Juga: Wisatawan Lokal Hotel Indonesia Meningkat: Ini 5 Tren Baru yang Wajib Anda Tahu
Melalui pola ini, siswa tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga belajar menjadi agen perubahan ekonomi bagi desa mereka sendiri dengan memahami nilai kerja keras dan gotong royong.

Bupati Nabire, Mesak Magai, menekankan bahwa kunci pemberdayaan ekonomi adalah kemandirian dalam memanfaatkan potensi sekitar seperti yang diinisiasi oleh Bosch.
“Jika kita tekun mengolah kebun dan tanah, hasilnya akan menjamin keluarga hidup sehat dan sejahtera,” ungkap Magai yang melihat program ini sebagai solusi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Nabire, Dina Pidjer, memberikan apresiasi atas nilai-nilai karakter yang ditanamkan melalui aktivitas pertanian ini.
“Melalui kegiatan seperti ini, anak-anak belajar menanam nilai-nilai kebaikan yang akan mereka tuai dalam bentuk senyum dan kebahagiaan di masa depan,” pungkas Dina.
Baca Juga: Galaxy Tab A11 Kids Pack: Solusi Tablet Pintar untuk Main dan Belajar
Kolaborasi ini membuktikan bahwa sinergi perusahaan global, pemerintah, dan masyarakat mampu menciptakan dampak berkelanjutan.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com






