PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Wisatawan lokal hotel Indonesia kini menjadi tulang punggung utama industri perhotelan tanah air dengan lonjakan permintaan yang sangat signifikan.
Berdasarkan laporan SiteMinder’s Hotel Booking Trends 2025, pangsa tamu domestik yang melakukan check-in di hotel Indonesia mencapai 48%, naik 5,6 poin persentase dari tahun sebelumnya.
Baca Juga: Metland Smara Hotel Bekasi Tutup Atap, Bintang Empat Bisnis (City) 169 Kamar
Lonjakan ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan tamu lokal tertinggi kedua di dunia, tepat di bawah Kanada.
Fenomena ini sangat penting karena menandakan pemulihan total perjalanan domestik yang tumbuh 19% secara tahunan.
Menariknya, bagi konsumen, rata-rata tarif kamar justru mengalami penurunan sebesar 9,38% menjadi Rp1.884.476.
Penurunan harga ini menjadi angin segar bagi pelaku staycation yang ingin mendapatkan fasilitas mewah dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan periode sebelumnya.
Fifin Prapmasari, Country Manager SiteMinder Indonesia, menegaskan bahwa perubahan pola ini adalah peluang emas.
Baca Juga: Artotel Living World Grand Wisata Bekasi Resmi Dibuka: Hotel Seni Terintegrasi Pertama di Bekasi
“Menurunnya jumlah pembatalan, pemesanan yang dilakukan semakin dekat dengan tanggal menginap, serta durasi tinggal yang lebih singkat mencerminkan semangat wisatawan lokal untuk menjelajahi negeri sendiri,” ungkapnya.
Hal ini memungkinkan hotel untuk lebih kreatif dalam merancang penawaran yang sesuai dengan preferensi unik tamu lokal.
Detail 5 Tren Utama Wisatawan Lokal Hotel Indonesia di Tahun 2025
Pergeseran perilaku wisatawan lokal hotel Indonesia dapat dirangkum dalam lima poin krusial yang menentukan wajah pariwisata saat ini:
Pemesanan Lebih Spontan: Waktu pemesanan hotel rata-rata berkurang 7% menjadi hanya 19 hari sebelum menginap, jauh lebih singkat dibandingkan rata-rata global yang mencapai 32 hari.
Dominasi Menginap Semalam: Sebanyak 80% pemesanan hotel dilakukan hanya untuk satu malam, menunjukkan bahwa tren short getaway atau staycation singkat masih menjadi favorit utama.
Komitmen Tinggi (Rendah Pembatalan): Indonesia mencatatkan tingkat pembatalan terendah di dunia, yakni hanya 11,38%, yang menunjukkan rencana perjalanan masyarakat kini lebih pasti.
Pemerataan Musim Liburan: Wisatawan semakin strategis dengan mencari waktu di luar puncak keramaian Agustus; terbukti dari lonjakan pemesanan di bulan Januari sebesar 15% dan Juni yang meningkat menjadi 8,98%.
Loyalitas pada Platform Lokal: Meski platform global seperti Booking.com dan Agoda memimpin, aplikasi “anak bangsa” seperti Traveloka dan Tiket.com tetap kokoh di daftar 12 besar karena kedekatannya dengan kebutuhan warga lokal.
Baca Juga: Harga Rumah Seken 2025 Hanya Naik 0,7%, Pasar Properti Siap Melompat di 2026

Fifin Prapmasari menambahkan bahwa distribusi pemesanan yang lebih merata di pertengahan tahun menunjukkan evolusi pola pikir wisatawan.
“Pemesanan yang dilakukan lebih awal menunjukkan bahwa wisatawan semakin strategis dalam merencanakan perjalanan, dengan mencari suasana yang tidak terlalu ramai dan harga yang lebih baik,” jelasnya.
Baca Juga: Anandaya Home Resort Mulai Bangun Cluster Nala, Harga Naik 5% Setelah Lebaran!
Oleh karena itu, bagi konsumen, risikonya adalah kehabisan slot pada bulan-bulan “tak terduga” seperti Januari jika tidak memantau tren sejak dini.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com






