PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Harga rumah seken nasional mencatatkan pertumbuhan yang sangat terkendali sebesar 0,7 persen secara tahunan (YoY) sepanjang tahun 2025.
Angka ini menunjukkan kondisi pasar yang semakin rasional karena berada di bawah laju inflasi nasional yang menyentuh angka 2,72 persen hingga 2,92 persen.
Baca Juga: Harga Rumah Seken di Depok Naik 3,8%, Tertinggi di Jabodetabek
Fenomena ini menjadi kabar baik bagi konsumen atau end-user yang mencari hunian berdasarkan kebutuhan riil, bukan sekadar spekulasi harga.
Pasar properti Indonesia menutup tahun 2025 dengan stabilitas yang kuat setelah melewati titik terlemahnya pada Kuartal II 2025.
Data Flash Report Januari 2026 oleh Rumah123 menunjukkan bahwa pada Desember 2025, harga mulai merangkak naik tipis 0,2 persen secara bulanan.
Hal ini mengindikasikan bahwa koreksi harga telah usai dan pasar siap memasuki babak baru yang lebih berkualitas di tahun 2026.
Kondisi ini sangat penting bagi calon pembeli rumah karena memberikan kepastian nilai aset yang lebih sehat.
Dengan suku bunga acuan Bank Indonesia yang telah turun bertahap ke level 4,75 persen, akses pembiayaan kini menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat.
Baca Juga: Harga Rumah di Bekasi dan Depok Naik Lagi, Masihkah Worth It untuk Investasi di 2026?
Inilah momentum bagi konsumen untuk mengamankan unit di lokasi strategis sebelum harga kembali menyesuaikan dengan permintaan yang diprediksi meningkat tahun depan.
Marisa Jaya, Head of Research Rumah123, menjelaskan bahwa fase ini adalah bagian dari pendewasaan pasar properti.
“Pasar properti Indonesia sepanjang 2025 bergerak dalam fase konsolidasi yang sehat. Di akhir tahun, kita mulai melihat tanda-tanda stabilisasi. Konsumen tetap aktif mencari rumah, tetapi semakin rasional dan selektif,” ujarnya.
Marisa menambahkan bahwa hal ini membentuk fondasi yang lebih kuat untuk pertumbuhan yang berkelanjutan.
Tren Harga Rumah Seken di Berbagai Kota Besar
Pertumbuhan harga rumah di tingkat kota mulai menunjukkan peta yang bergeser menjelang awal 2026.
Bekasi memimpin di wilayah Jabodetabek dengan kenaikan harga sebesar 2,4 persen YoY, mengungguli Tangerang (0,4 persen) dan Depok (0,1 persen).
Baca Juga: Sinyal Positif Pasar Perkantoran Jakarta: Penyewa Kini Berkuasa Atas Harga Sewa Gedung Premium!
Sementara itu, Denpasar mencatatkan pertumbuhan tahunan tertinggi secara nasional sebesar 2,5 persen YoY, meski sempat mengalami normalisasi dari pertumbuhan agresif di awal tahun.
Makassar muncul sebagai kota yang paling menonjol karena mencatatkan pertumbuhan harga di dua segmen sekaligus.
Untuk tipe rumah kecil dengan luas ≤60 m², median harga di Makassar mencapai Rp675 juta dengan kenaikan 12,9 persen YoY.
Sedangkan untuk segmen rumah besar dengan luas di atas 251 m2, median harganya berada di kisaran Rp5 miliar dengan kenaikan 11,1 persen YoY.
Di Jawa Tengah, Surakarta mencatatkan lonjakan harga bulanan (MoM) tertinggi sebesar 3,8 persen pada Desember 2025.
Baca Juga: Anandaya Home Resort Mulai Bangun Cluster Nala, Harga Naik 5% Setelah Lebaran!

Khusus untuk rumah tipe 61-90 m2, median harga di Surakarta mencapai Rp850 juta atau melesat 41,7 persen secara tahunan.
Yogyakarta juga masih menunjukkan taringnya pada segmen menengah-atas dengan median harga Rp2,8 miliar untuk tipe 151-250 m2.
Melihat fenomena ini, Marisa menilai pasar saat ini jauh lebih matang karena harga tidak lagi sekadar mengikuti kelangkaan stok.
“Ini menunjukkan bahwa pasar properti Indonesia saat ini jauh lebih matang. Harga tidak lagi naik hanya karena stok berkurang, tetapi benar-benar mengikuti kemampuan dan kebutuhan pembeli,” pungkasnya.
Baca Juga: Alat Penyedot Debu Nirkabel Yaber Resmi Diluncurkan untuk Permudah Perawatan Hunian
Ia juga optimis kebijakan insentif PPN DTP 100 persen dan program FLPP akan tetap menjadi penopang utama pasar di 2026.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com






