PropertiTerkini.com, (MALANG) — Isu mengenai harga bahan baku naik menjadi ancaman nyata bagi industri perangkat elektronik rumah tangga di awal tahun 2026.
Tekanan ini dipicu oleh lonjakan harga material dunia, terutama tembaga yang meroket 30 hingga 40 persen pada tahun lalu dan diprediksi masih terus berlanjut. Ini secara langsung berdampak pada biaya produksi komponen inti seperti motor penggerak dan sistem pendingin.
Baca Juga: Tembus Rp11,9 Triliun, Sharp Indonesia Cetak Rekor Penjualan Tertinggi Sepanjang Sejarah
Kondisi ini sangat penting bagi konsumen karena berpotensi memicu kenaikan harga jual produk di tingkat ritel, mulai dari AC hingga mesin cuci.
Bagi pemilik hunian yang berencana memperbarui perangkat elektronik mereka, pemahaman mengenai strategi produsen dalam merespons inflasi ini menjadi sangat krusial agar dapat mengambil keputusan pembelian yang tepat di tengah ketidakpastian ekonomi.
Dampak dari kenaikan biaya produksi ini tidak hanya dirasakan oleh pabrikan, tetapi juga menyasar daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah yang menjadi tulang punggung pasar domestik.
Mengapa hal ini menjadi penting saat ini? Karena tahun 2026 diprediksi masih menjadi tahun yang penuh tantangan dengan pertumbuhan ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
Sebagai catatan penting, risiko harga barang yang lebih tinggi dapat menghambat pemulihan sektor properti yang sangat bergantung pada kelengkapan unit hunian yang terjangkau.
Oleh karena itu, langkah mitigasi yang diambil oleh pemimpin pasar seperti Sharp Indonesia menjadi barometer bagi pelaku industri lainnya dalam menjaga keseimbangan antara kualitas produk dan keterjangkauan harga.
Baca Juga: Sharp Bangun SDM Vokasi: 25 Siswa SMK Karawang Ikuti Sharp Class, 83 Alumni Terserap Industri
Langkah Realistis Sharp Indonesia Menekan Biaya Produksi Akibat Harga Bahan Baku Naik
National Sales Senior General Manager PT Sharp Electronics Indonesia, Andry Adi Utomo, mengungkapkan bahwa perusahaan harus bermanuver secara realistis dalam menghadapi situasi ekonomi yang “belum baik-baik saja”.
Di tengah kondisi harga bahan baku naik, Sharp memilih untuk melakukan efisiensi, salah satunya dengan meminimalisir investasi pada pengembangan produk baru yang bersifat eksperimental.
Sebaliknya, perusahaan akan lebih fokus pada optimalisasi model-model yang sudah ada dan terbukti diminati pasar.
Strategi ini diambil untuk menjaga agar kenaikan harga di level konsumen tidak terjadi secara drastis, sehingga produk Sharp tetap dapat menjangkau seluruh demografi masyarakat Indonesia.
Baca Juga: Sharp Perluas Lini Smartphone Premium Lewat AQUOS sense10 dan AQUOS R10
“Akibat kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih, kami harus meminimalisasi investasi, terutama dalam pengembangan produk baru (develop product). Strategi kami adalah mengikuti momentum; jika musim hujan kita fokus ke mesin cuci, dan jika musim panas kita maksimalkan AC, namun tanpa harus mengeluarkan model baru untuk saat ini,” kata Andry di Batu, Malang, Sabtu (7/2/2026).
Dia menambahkan bahwa fokus utama perusahaan tetap pada segmen menengah ke bawah, namun tetap menyediakan opsi produk kelas atas (premium) dalam volume yang lebih terbatas.
Dengan cara ini, Sharp berusaha menjaga arus kas perusahaan tetap sehat sambil memastikan bahwa kebutuhan elektronik dasar masyarakat Indonesia tetap terpenuhi tanpa harus terbebani harga yang melambung tinggi.
Inovasi Material dan Penguatan Jaringan Sub-Dealer Daerah
Menariknya, Sharp tidak hanya tinggal diam menghadapi lonjakan biaya material. Untuk mengantisipasi harga tembaga yang mahal, Sharp melakukan inovasi teknis dengan mengganti penggunaan tembaga dengan material alternatif yang lebih efisien secara biaya namun tetap berkualitas, seperti penggunaan pipa aluminium pada unit AC.
Baca Juga: Strategi Pasar Properti 2026: Menakar Lonjakan Pasokan Apartemen dan Dominasi Logistik
Langkah ini merupakan solusi progresif agar harga produk elektronik tidak melonjak tajam mengikuti harga komoditas dunia pada 2026 ini.

Selain inovasi produk, Sharp juga memperkuat jaringan distribusi hingga ke level sub-dealer di daerah-daerah kecil guna menjemput bola ke kantong-kantong konsumen yang selama ini kurang tergarap oleh penjualan daring.
“Tahun 2026 isu kenaikan harga material masih nyata. Tembaga bahkan masih bisa naik hingga 8 persen, makanya kita bikin strategi-strategi baru dan fokus ke Sharp sub-dealer yang sudah tersebar ke berbagai daerah kecil. Jadi fokus ke offline dengan tetap tidak meninggalkan online,” tutur Andry.
Ia menekankan bahwa dengan prediksi musim panas yang lebih panjang di tahun 2026, permintaan AC akan melonjak dan inovasi material ini akan menjadi kunci kompetitif Sharp.
Dengan strategi komprehensif ini, Sharp berharap dapat meminimalisir ketergantungan pada impor dan tetap menargetkan pertumbuhan sebesar 105 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga: Petals Urban Market Kembali Digelar, Bukti Kota Mandiri Paramount Petals Kian Hidup
Dengan rencana pembukaan pabrik baru di masa depan, Sharp berkomitmen untuk meningkatkan lokalisasi komponen guna meredam dampak fluktuasi harga material global.
Strategi komprehensif ini diharapkan mampu membawa Sharp Indonesia tetap kokoh berdiri di tengah badai ekonomi dan kenaikan harga bahan baku dunia.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com





