Pintu Baja Fortress, Canggih untuk Keamanan Rumah Maksimal
Monday, February 2, 2026
Pintu Baja Fortress, Canggih untuk Keamanan Rumah Maksimal

BERITA TERKAIT

ICBT 2025: Pameran Teknologi Pemeliharaan Fasilitas, Smart Building, dan Sustainability

Properti Bebas Banjir Jadi Isu Utama: Alasan Samera Group Optimistis Pasar Hunian Pulih 2026

Isu banjir dan ketidakpastian ekonomi membuat konsumen semakin selektif memilih hunian. Samera Group menilai tahun 2026 menjadi momentum kebangkitan properti dengan pendekatan kualitas kawasan dan mitigasi risiko jangka panjang.

PropertiTerkini.com, (MEDAN) — Properti bebas banjir menjadi isu krusial di pasar hunian Indonesia, terutama setelah rangkaian banjir besar melanda sejumlah wilayah Indonesia, termasuk di Sumatera Utara.

Di tengah kondisi itu, Samera Group menilai tahun 2026 akan menjadi fase pemulihan industri properti nasional, seiring membaiknya indikator makroekonomi dan keberlanjutan kebijakan pemerintah di sektor perumahan.

Baca Juga: Samera Djohor Hadirkan Damara 2, Hunian Bebas Banjir di Medan dengan Nilai Investasi Tinggi

Optimisme tersebut disampaikan Chairman sekaligus CEO Samera Group, Adi Ming E, dalam acara Temu Ramah bersama media massa di Medan.

Dalam forum tersebut, Adi membeberkan konsep dan spesifikasi proyek hunian terbaru Samera Group, Samera Djohor, yang mengusung tagline Perumahan Bebas Banjir.

Menurut Adi, isu banjir tidak lagi bisa diposisikan sebagai sekadar risiko musiman, melainkan telah menjadi faktor penentu dalam keputusan pembelian rumah.

“Kami optimistis industri properti nasional memasuki fase pemulihan di 2026. Keyakinan ini ditopang analisis para pakar ekonomi dan keberlanjutan kebijakan pemerintah yang mendukung sektor perumahan,” ujarnya.

Bagi konsumen, pesan tersebut penting karena menyentuh kebutuhan paling dasar dalam membeli rumah, yakni keamanan, kenyamanan, dan kepastian jangka panjang.

Baca Juga: Perumahan Kebanjiran Meski Dijanjikan Aman: Gubernur Jabar Tegaskan Moratorium, Pengembang Buka Suara

Properti Bebas Banjir, Siapa yang Paling Terdampak dan Mengapa Penting Sekarang

Isu banjir berdampak langsung pada masyarakat urban dan suburban yang tinggal di kawasan dengan kepadatan tinggi dan sistem drainase terbatas.

Dalam beberapa tahun terakhir, banjir tidak hanya merusak rumah secara fisik, tetapi juga menurunkan nilai aset, meningkatkan biaya perawatan, serta memengaruhi kualitas hidup penghuni.

Adi menegaskan bahwa Samera Group menjadikan isu banjir sebagai komitmen fundamental sejak tahap awal pengembangan kawasan.

“Kami tidak menjual janji, tetapi menghadirkan kepastian hunian yang aman dan nyaman untuk jangka panjang,” katanya.

Pernyataan ini diperkuat dengan pengalaman lapangan. Saat banjir besar melanda Sumatera Utara beberapa waktu lalu, kawasan hunian yang dikembangkan Samera Group disebut tidak mengalami genangan. Bagi calon pembeli, kondisi ini menjadi bukti konkret, bukan sekadar klaim pemasaran.

Baca Juga: Tumbuh 711%, Produk Komersial Maggiore @ Paramount Gading Serpong Jadi Rebutan Pasar

Dari sudut pandang konsumen properti, pendekatan ini relevan karena risiko banjir berimplikasi langsung pada biaya tersembunyi: renovasi berulang, penurunan nilai jual kembali, hingga gangguan aktivitas harian.

Hunian bebas banjir berarti perlindungan terhadap nilai aset dan kenyamanan hidup lintas generasi.

Standar Teknis Hunian Samera Group: Dari Elevasi hingga Drainase Terintegrasi

rumah Damara 2 di Samera Djohor
Tampilan unit rumah Damara 2 dengan desain tropical modern di kawasan Samera Djohor, hunian bebas banjir di Medan.
(Foto: Dok. Damara)

Untuk menjawab tantangan tersebut, Samera Group menempatkan aspek teknis sebagai fondasi utama pengembangan kawasan.

Adi menjelaskan bahwa dua faktor krusial dalam mitigasi banjir adalah pemilihan elevasi lahan dan sistem drainase yang terintegrasi.

Kesalahan dalam menentukan elevasi lahan, menurutnya, kerap menjadi akar masalah kawasan hunian yang rawan tergenang.

Baca Juga: Stasiun Jatake BSD City Resmi Beroperasi, Dorong Kawasan Terintegrasi Berbasis Transportasi Massal

Karena itu, setiap proyek Samera Group diawali dengan kajian historis kawasan yang mendalam, termasuk analisis pola banjir dan karakteristik lingkungan sekitar.

Selain itu, sistem drainase dirancang sebagai satu kesatuan kawasan, bukan sekadar fasilitas per unit. Pendekatan ini memastikan aliran air tetap terkendali meskipun terjadi curah hujan ekstrem.

“Seluruh infrastruktur kami siapkan bukan untuk kebutuhan sesaat, tetapi untuk jangka panjang. Ini bentuk komitmen kami terhadap kepuasan dan keamanan penghuni,” ujar Adi.

Bagi calon pembeli rumah pertama maupun keluarga yang mencari hunian jangka panjang, standar teknis seperti ini menjadi pembeda utama di tengah maraknya proyek perumahan baru.

Outlook Properti 2026: Momentum Pemulihan dan Pasar yang Lebih Sehat

Membahas kondisi makro, Adi menilai tahun 2026 sebagai titik balik industri properti setelah periode penuh tantangan pada 2025.

Menurutnya, pasar mulai bergerak ke arah yang lebih sehat seiring pulihnya kepercayaan konsumen.

Baca Juga: Properti jadi Instrumen Investasi Aman di 2026: Daun Karya Property Beberkan Strategi untuk Generasi Muda

“Kami melihat 2026 sebagai fase konsolidasi. Konsumen lebih rasional, developer lebih selektif, dan pasar bergerak lebih matang,” katanya.

Optimisme ini diperkuat oleh kebijakan pemerintah yang memperpanjang insentif PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) properti hingga 31 Desember 2026.

Kebijakan tersebut dinilai memberi ruang bagi pengembang untuk berinovasi, bukan hanya dari sisi strategi penjualan, tetapi juga peningkatan kualitas bangunan dan fasilitas.

Bagi konsumen, insentif ini berdampak langsung pada harga beli rumah yang lebih terjangkau. Adanya insentif PPN DTP akan memangkas beban pajak dan menurunkan total biaya transaksi.

Hunian vs Investasi: Realita Perilaku Konsumen Properti

Menariknya, Samera Group mencatat bahwa pembelian rumah saat ini masih didominasi oleh kebutuhan hunian, bukan spekulasi investasi. Tren properti sebagai instrumen investasi pengganti emas dinilai belum signifikan.

Baca Juga: 88 Plaza Balikpapan Jadi Langkah Baru Paradise Indonesia, Perkuat Pertumbuhan Berbasis Recurring Income 2026

“Data internal kami menunjukkan mayoritas pembeli membeli rumah untuk ditinggali, bukan semata investasi,” ungkap Adi.

Meski demikian, ia tetap menekankan bahwa properti memiliki potensi pertumbuhan nilai aset jangka panjang, asalkan didukung oleh tiga faktor utama: lokasi yang tepat, pengelolaan kawasan yang baik, dan layanan purna jual berkelanjutan.

Risiko dan Catatan Penting bagi Calon Pembeli Rumah

CEO Samera Group Adi Ming E memaparkan spesifikasi hunian properti bebas banjir Samera Djohor kepada media di Medan
CEO Samera Group Adi Ming E memaparkan spesifikasi hunian Samera Djohor yang mengusung konsep properti bebas banjir dalam acara Temu Ramah bersama media massa di Medan. (Foto: Dok. Samera Group)

Di tengah optimisme pasar, Adi mengingatkan konsumen agar tetap cermat menilai spesifikasi teknis dan rekam jejak pengembang.

Risiko terbesar dalam pembelian rumah, menurutnya, bukan hanya fluktuasi harga, tetapi kualitas perencanaan kawasan.

Calon pembeli disarankan untuk menanyakan aspek elevasi, sistem drainase, serta kesiapan infrastruktur jangka panjang. Hunian yang tampak menarik secara visual belum tentu aman dari risiko lingkungan di masa depan.

Baca Juga: Menuju 2030, Investasi Data Center Global Tembus USD 3 Triliun, Indonesia Kian Dilirik Investor

Dengan pendekatan tersebut, Samera Group berharap dapat menghadirkan hunian ideal yang tidak hanya layak huni hari ini, tetapi juga relevan dan aman untuk generasi berikutnya.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com
ICBT 2025: Pameran Teknologi Pemeliharaan Fasilitas, Smart Building, dan Sustainability

BERITA TERBARU

Demo Half Page